Pencuri dalam Tidurnya

Gadis kecil itu terbatuk. Terduduk di sisi tempat tidurnya. Berusaha setengah mati agar tak membangunkan lelaki di sebelahnya. Lelaki yang tertidur dengan kemeja kerjanya, dan buku dongeng di atas perutnya yang tak lagi buncit. Gadis kecil itu lalu melingkarkan lengannya pada pundak lelaki itu. Sejauh mungkin, seketat mungkin semampu dayanya. Dengkur halus lelaki itu kembali meninabobokkannya. Pelan. Pasti.

Lelaki ituterbangun, mengecup dahi putrinya. Lalu bertelut di sisi tempat tidur. Merapal apa yang mereka sebut dengan doa. Yang baginya adalah tawar menawar tanpa akhir, pinta dan rutuk yang bersahut-sahutan kepada apa yang mereka sebut Tuhan. Mestinya Tuhan yang sama yang mengambil istrinya begitu saja, dalam tidurnya. Seperti pencuri yang mengendap-endap. Pelan. Pasti

Posted in 111kata, Cerita 1 Halaman, cerita 1 halaman, cerita kilat, cerita pendek, short story | Tagged | 1 Comment

Kado Ulang Tahun

Mestinya sudah selesai. Benar juga kata mbak Arina anak kos di rumah papi. Aku hanya merasa pening pada kepala, mual lambung dan sedikit keram pada kedua pangkal paha. Vaginaku tak berasa nyeri sedikit pun. Tak senyeri kali pertama Bayu memasuk paksakan batang kelaminnya padaku. Kumiringkan tubuh, berusaha bangkit. Menebus obat pereda nyeri dan beberapa vitamin di bagian resep, lalu melangkah meninggalkan klinik. Begitu saja.

Klinik ini hanya berjarak sekian meter dari pemakaman umum. Tempat di mana Bayu, suamiku itu dimakamkan. Kami menikah siri. Beberapa hari setelah kudapati diriku mengandung. Lalu kusadari penuh betapa aku tidak mencintai suamiku. Pun janin dalam kandunganku. Begitu saja. Namaku Ratna, hari ini, usiaku genap 19 tahun.

Posted in 111kata, cerita 1 halaman, cerita kilat, cerita pendek, short story | Tagged | Leave a comment

Bapa, Saya Mengaku…

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah sebelum natal, setahun lalu.. Saya masih mencintainya… Bukan milik saya lagi… Terlarang..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu.. Saya masih mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu… Saya mulai mencintai seseorang yang lain.. Bukan milik saya.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah tiga hari yang lalu… Saya semakin mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah kemarin.. Saya..merindukanmu. Terlarang?

Di balik bilik pengakuan dosa itu. Seorang frater dalam kelunya, menggengam erat rosario penuh duri. Duri yang sama yang merasuk cabik hati perempuan ini, sebelum natal, setahun yang lalu.

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita kilat, cerita pendek, short story | Tagged | 2 Comments

Proposal (ber)Cinta

Terminal kedatangan. Dia melambaikan tangan. Melepas kaca mata aviator tembaganya. Aku mengangguk. Melepas kucir rambutku dan melenggang ke arahnya. “Hai” “Hai juga” “Nggak bawa barang?” “Kan cuma semalam” “Oh” “Loh?” Senyum kikuk. Tangan dalam saku celana.

Kami naik taksi. Mobilnya sedang di bengkel. Turun mesin. Aku bersin. Dia menyodorkan sapu tangan. Kernyitku dibalas penjelasan malas-malasan. “Kebiasaan” dalihnya. “Tapi aku tak sekonservatif itu” mulai defensif.
Tangannya di atas pahaku. Nanti, kataku. Kenapa? Tanyanya. Keras kepala.

Kemejanya putih, lengannya digulung sepanjang siku. Celana jins biru gelap. Loafers warna khaki. Wangi cedar dan lemon. Tanpa cincin di jari manis. Kemejaku hitam, kancingnya terbuka sebatas ujung belah dadaku. Celana Pendek warna kelabu. Thongs hitam keperakan. Wangi kamboja Bali. Bekas cincin di jari manis.

Taksi memasuki lobi hotel. Netral. Eksperimental. Rahasia. Tak istimewa. Deluxe king sized bedroom. Lantai 30. Menghadap punggung gereja kuno dan tengkuk matahari. Tirai putih gading. Sewarna kutang yang masih melekat di antara jemarinya dan putingku. Geliginya pada pundakku. Telepon genggamnya yang berdering-dering. Lonceng gereja yang bertalu-talu. Padu erang yang terlalu. Cepat. Berlalu.

Terminal keberangkatan. Aku melambaikan tangan. Menguncir rambutku tinggi-tinggi. Dia mengangguk. Mengenakan kaca mata aviator tembaganya.

Namaku Alaska. Akan dioperasi besok. Kanker payudara. Pernah hampir menikah bersyarat. Namanya? Yang kutahu hanya @lelakimusemalam. Dia bilang akan menikah. Calonnya wanita soleha yang mencintainya tanpa syarat

Posted in cerita pendek, short story, Uncategorized | Tagged | 2 Comments

Two Muffins and A Latte

She ran her manicured nails through his neck and kissed him hard. He pushed her down to the couch, tracing the tip of her tongue with his. Both panting. She unhooked her bra. He pushed her away. She said nothing but smirked, reached for her silvery coat and left. He was grasping for water. Took big gulps from the jar and headed to his room.

He must’ve fallen asleep when she came home. His wife. She never ceased to fascinate him. It was love at first sight. He used to go to the same Bank where she worked. She had once mistaken him with another client. She blushed and apologized. Awkward conversations. The next thing he remembered, they were so much in love. He had always been faithful, until he met Soph.

***

Soph. The great kisser.. They met in painting class, 2 months back. None of them remembered who had started the kiss that led to series of love making. But the guilt was too big to swallow. He told Soph it was over, she told him it had just started.

****

It had been a week since he told his wife about Soph. She kicked him out, said she wanted a divorce. It was raining. He felt like getting freshly baked muffins and a latte. There was this pastry shop he was so fond of. Oh, she took the car, by the way. So there he was, walking to the pastry shop in heavy rain from his cheap motel room.

He was munching on his last muffin when he saw someone familiar, right across the street. There she was, Soph, fishing something from the pocket of her silvery coat. Then a familiar white sport car screeched to a halt. He ordered another latte and took a closer look. His wife was not alone. Someone, was with her; a man, holding her hand. They were waving and heading to.. Soph!

He grabbed his coat and ran to the street. Head wobbly with question marks. He was soaking wet. Flash lights. Head spinning. Loud screeching sound.

A crash.

Pitch dark..

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

TAKDIR DALAM LAMPION

“TAKDIR DALAM LAMPION. Induk Laron. Bayi Cicak”

Mereka duduk berhadapan. Dalam diam. Yang satu sibuk menata kata. Satunya lagi riasan.

Yang muda terus berketak ketuk di netbooknya. Sesekali melirik yang tua yang asyik menjajal maskara baru dan bereksperimen dengan warna gincu.
Nggak tahan juga. “Tiketku sudah oke semua, ma. Minggu depan aku balik Seattle”
Tak ada reaksi.
“Ma?”

Masih nggak digubris.
“Kenapa sih ngotot suruh aku pulang?”

Yang tua mengulangi poles gincu di bibirnya. Lalu seperti terburu-buru, meneguk tandas oolong tea yang baru diseduhnya. Tangannya merogoh-rogoh kantong dasternya. Lalu, “Brakkkk”. Tubuh tua itu jatuh di hadapannya. Di tangan keriputnya, remasan kertas bertuliskan “Kuburkan mama seperti ini. Cantik, persis sepertimu”

Posted in Cerita 1 Halaman | Tagged | 2 Comments

SAAT KAU LEPAS SUMPIT DI CEPOL RAMBUTMU

“KAU BUKA SUMPIT DI CEPOL RAMBUTMU. Kulihat kamu, bukannya dia si penyuguh gelinjang”

Malam kemarin, seperti biasa, aku menunggunya di sini. Seorang pria berperut panci keluar dari bilik nomor 3. Menghampiri mejaku dan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu dari dompetnya. Tak lama, ia menyusul keluar. Rambutnya tergerai, berhenti tepat sebelum lekuk pinggulnya. “Gerah!” cetusnya, sembari mencepol rambutnya dan menusukkan sumpit pada cepolnya.

Suaranya renyah, tawanya lepas. Tapi mereka tak tahu itu. Di hadapan mereka, ia tak lebih dari sekedar penyuguh gelinjang dengan payudara 34C.

Mungkin kalian bertanya, bagaimana rasanya menunggui kekasihmu, yang di belakang sana sedang ditunggangi laki-laki lain, atau bahkan dia di atas mereka. Berganti-gantian.

Malam ini ia tidak beranjak keluar dari bilik nomor 3, menertawakan kebrengsekan para pelanggan, berbagi cemilan, menyeruput es sirup dari gelasku. Malam ini seorang istri sakit hati mencongkel mata coklatnya dan merajam dadanya yang ranum berkali-kali. Malam ini aku tetap setia, menunggunya di sini. Di meja pembayaran rumah bordil keparat ini, sampai mereka semua, membayarnya lunas

Posted in 15topik, Cerita 1 Halaman | Tagged | 3 Comments

AKU SI KEKASIH MALAM

-KAMU YANG MENGADUK PALET WARNA PADA KENINGKU . “Bekal mimpimu”, katamu sembari mengemasi gemintang-

Asal saja kubolak-balik novel perjalanan itu.  Membaca untuk membunuh waktu nggak berlaku buatku. Waktu lebih cekatan meletakkan pelatuknya di pelipisku. Seperti senja ini. Ingin rasanya menurunkan paksa matahari layaknya kerai beranda.


1800
Sudah waktunya. Kusambar syalku lalu menghambur ke luar rumah. Menjemputmu. Aku benci menunggu, tapi itulah yang kulakukan setiap hari, bertahun-tahun, setelah kamu tercuri pagi, sepagian, sesiangan, sesorean. Menunggu! Bukan hal mudah menjadi kekasihmu.

Kamu berdiri di pojok jalan yang sama. Tas besar di pundakmu, pastilah gemintang isinya. Aku paling suka kamu ajak menata gemintang, karena bebas merunutnya jadi sesuatu yang kumau, sesukaku. Asyik! Pernah aku menuliskan namamu dan namaku. Indah. Misterius. Bahkan kamu pun tak bisa membacanya di antara runutan gemintangku.

Kutubruk kamu. Kangen! Kamu mengecupku. Eh, ada seseorang bersamamu. Temanmu? Alangkah tak sopannya kamu, tak kunjung memperkenalkannya padaku. Dia juga diam saja. Mungkin sedang menghitung pasir di aspal. Wajahnya tertutup tudung jaketnya.

Tiba-tiba kamu berlutut, meletakkan kotak beludru berwarna biru di telapak tanganku. Tanpa kata-kata. Hanya kedua alismu yang bergerak naik “?”. Aku melompat-lompat norak. Mengangguk-angguk sampai pegal lalu menubrukmu.
Temanmu yang sok misterius itu mengangguk padamu.

GELAP.

“Selamat bergabung, sayang”,  Suaramu.

Posted in 15topik, Cerita 1 Halaman | Tagged | Leave a comment

NOTHING PERSONAL

“SEBOTOL LAGI SESALKU,  LALU SUDAH. Lalu seruak putus asa. Tak bertubir…”

Waktu itu selepas maghrib. Aku yakin betul. Pemilik warung biasanya mulai mendandani kami selepas maghrib, berjejeran. Rapi dan mengkilat. Padahal siapa peduli pada tampak luar kami. Mereka nggak mau buang waktu mengagumi mulusnya kulit kami. Tenggak habis. Letakkan. Bayar.”nothing personal”. Tapi tak sekalipun kedua pasutri pemilik warung ini mengabaikan kami.

Bulan puasa begini, razia semakin ketat. Seminggu kemarin, teman-temanku dibanting dan dibakar. Padahal salah tiga dari lima orang petugas yang membakar jelas-jelas kuingat rupanya. Mereka semua pelanggan tetap warung ini. Aku hanya nggak tega mendengar isakan si mbok seusai razia. Apalagi erang penderitaan kawan-kawanku yang dibakar beramai-ramai.

“Bapak jualan miras ya?? Ini perbuatan maksiaaaat!!!!” aku mengintip di antara ketiak 2 kawanku. Laki-laki itu bersorban. Wajahnya nyaris tak terlihat,  tertutup cambangnya, kumis dan janggutnya. Pasutri pemilik warung buru-buru keluar..Kali ini Bapak tak lagi gemetar. Si Mbok menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bapak. Aku menahan napas. Pastilah giliranku yang dibakar.  Suara-suara hujatan semakin marak. “Bakar! Bakar! Bakar!”. Rupanya si jenggot membawa massa. Mendadak aku nggak bisa melihat. Aku mulai merapal doa, kepada semua Tuhan yang mereka punya. Lalu “PRAAAAK!!!”

Kugosok-gosok mataku

Tubuhku bermandikan darahnya

Posted in Cerita 1 Halaman, Uncategorized | Tagged | 5 Comments

AKU CEMBURU

“Tak bisakah kamu berpagutan dengannya di ruangan lain. Aku lelah berkobaran tiap kau buat cemburu”

Aku benci laki-laki itu! Jelas kulihat caramu memandang kencang otot pantatnya, dadanya yang bidang berkilat-kilat, perutnya yang sekokoh dermaga.

Aku benci kamu! Jelas kulihat caranya memandang jerat ranum payudaramu, pantatmu yang sepenuh bulan, dan lehermu yang sejenjang malam.

Aku benci kalian, tangannya di pinggangmu. Tanganmu di antara jemarinya. Dia menunggangimu! Lalu kamu. Dia. Kamu. Dia.. Kalian meledak. Bau sperma dan peluh kalian menguap sampai ke sini. Kalau saja angin sempat bertandang, aku nggak harus menyaksikan ini semua..cuihhh!


“Tunggu ya sayangku”.. Hueeks mau muntah aku mendengarnya memanggilmu sayang.

Mau apa dia, laki-laki laknat itu. Tolong! Turunkan aku, brengsek!
Mendadak kamu begitu dekat..
Mendadak aku makin cemburu..
Dia memagutmu, pada putingmu, lalu pada mulut gua yang menyimpan semesta.

Tiba-tiba aku sudah merayap di lingkar putingmu, menyusur turun di atas pusarmu. Remang kudukmu di tubuh telanjangku. Sesap..

“Kamu suka?” Suara si laknat lagi

Posted in 15topik, Cerita 1 Halaman, cerita 1 halaman | Tagged | Leave a comment

DI ANTARA HUJAN, 5 TAHUN YANG LALU

Perempuan muda dalam gelisah. Dari hatinya tungkainya menjauh @fiksimini

Gelang perak itu berkilat-kilat pada tanganku. Pengaitnya serupa 2 huruf S yang bertautan, rantai tipis yang memilin ragu-ragu pada dua ujungnya.

Kamu punya gelang yang sama. Persis sama. S dan S. Nama kita. Kamu ingat betapa paniknya aku waktu gelang itu kamu pakaikan padaku, 5 tahun yang lalu? Aku tahu kamu kecewa, kamu bilang aku pengecut yang tak lelah berlari dari diri sendiri, seperti seekor bekicot yang mengaku bukan.

5 Tahun aku berlari, dari kamu, dari aku, dari kita. Aku lelah, aku rindu. Penerbangan panjang melelahkan tak sebanding dengan gelenyar riang hatiku. Seorang perempuan paruh baya, ibumu, menyambutku.. hujan menggenang pada pelupuknya. Setumpuk naskah pada tangannya, ”Sari minta kamu menyelesaikan ini…”. “Nak Sinta?, nak? ” Yang kuingat hanya getir darah pada bibirku dan siksa aroma tanah sehabis hujan..

Posted in 15topik, Cerita 1 Halaman | Tagged , | Leave a comment

Off The Record

Sebenarnya mereka hanya harus bertanya kepadanya, baik-baik. Seperti Ibu… @fiksimini

Kakak dan adiknya mati, di tangannya. Persis setahun lalu.  Usianya belum lagi dua belas. Mereka bertanya-tanya, kenapa, bagaimana, dan di mana ia kubur jenazah Karim dan Karina. Kakak dan adiknya yang masing-masing hanya terpaut 2 tahun dengannya.

Sebenarnya mereka hanya harus bertanya kepadanya,baik-baik. Seperti Ibu..

Malam itu hujan turun,lebih keras dari biasa. Ia terbangun dengan perut lapar. Dengan mata yang belum lagi melihat benar, ia mengangkat tudung saji. Kosong..

Samar-samar didengarnya suara dari arah kamar Karim. Petir menggelegar dalam persekongkolan maha busuk. Karim dan Karina. Sedarah! Berdarah! Rasa lapar menyulut emosinya menandak-nandak. Lalu ibu, setengah mati meminjam senyum dari televisi untuk mengambil hatinya. Baik-baik bertanya, apa yang sempat dia lihat?  Lalu suara bola matanya yang menggelinding, terinjak gencet. Becek. Sejurus kemudian rasa nyeri yang menjilat-jilat pada kerongkongannya, lebih pekat dari cekat..

Sebenarnya mereka hanya harus bertanya kepadanya, baik-baik. Seperti Ibu..off the record.

Posted in Cerita 1 Halaman | Tagged | Leave a comment

Cerita Di Belakang Layar Film Fiksimini: SEHARI SAJA

BEHIND THE SCENE FILM FIKSIMINI: SEHARI SAJA

SEHARI SAJA. Kami mengepak koper lalu berpisah di ujung jalan. Ternyata selamanya. Versi cerita mininya bisa diintip di novitapoerwanto.wordpress.com di #Cerita Sehalaman: Sehari Saja.

Gambaran dari fiksimini itu adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 10 tahun, nyaris tanpa friksi. Adem ayem. Di ulang tahun pernikahan ke-10, sang suami ingin memberikan hadiah yang berbeda. Ia mengajak istrinya berlibur, dari satu sama lain. Tepat sehari setelahnya, sang suami kembali ke rumah mereka, sedangkan istrinya, tak kunjung kembali. Penantian yang awalnya meresahkan dan melukai hati pada akhirnya melegakan. Sang suami yakin, ia telah memberikan hadiah ulang tahun pernikahan yang terindah untuk istrinya, kebebasannya..

6 Sep 2010: meeting pertama dihadiri fiksiminiers surabaya ie @judithhutapea, @jupelatinos, @ngkongparto @fitapermatasari @julianpablosusmo @gusti_mellow @theonlykika @indriadebora dan lain lain. Kami seru mem’badai’kan otak tentang scene2 seperti apa yg mau diambil, stock shoot di mana saja, dan scene2/ property apa yang akan dipakai sebagai penanda waktu dan penegas cerita. Kendalanya tentu saja ada pada di durasi yang super singkat tapi film ini tetap harus bercerita dengan alur yang mampu ditangkap penonton. Dengan waktu dan peralatan seminim mungkin, kita punya cita-cita muluk (yang ternyata mungkin!) untuk menciptakan letupan bahkan ledakan dalam hati dan kepala penonton. Soal penentuan talent, sedikit tidak demokratis memang, tapi saya @LVCBV berdiskusi berdua dengan @melialivita di malam sebelumnya. Intinya kami mencari talent yang ada chemistry, sehingga tak terlalu kaku, juga harus berpenampilan bersahaja dan bukan tipe ‘pemberontak’ atau ‘bandel’ sehingga ada kesan kontradiktif waktu si karakter yang terlihat ‘adem ayem’ saja, ‘nrimo’ dan konservatif, tiba-tiba memutuskan untuk tidak kembali pada suaminya dan pernikahannya. Pilihan kami jatuh pada @diazananda dan @fardania, dua fiksiminiers surabaya yang memang bersahabat sejak kecil, berpenampilan bersahaja dan tipe suami/ istri penurut dan setia. ehm!

7 Sep 2010: hari pertama shoot. @mother_monkey, @ryanka7926 disemangati @LVCBV berangkat lebih awal untuk stock shoot (langit surabaya, rel kereta, jalan raya dll). Sore hari dilanjut dengan scene shoot. Dua talent fiksiminiers surabaya, @diazananda dan @fardania sudah siap diambil gambarnya. Shooting hari pertama itu seru sekali karena, walaupun bersahabat sejak kecil, Diaz mati-matian menolak adegan mengecup Anki (@fardania). Mulailah beberapa angle diambil u/ mengakali, tanpa harus mengecup betulan.

8 Sep 2010: hari ke dua shoot @melialivita behind the camera. Lebih untuk mengambil lebih banyak stock scene untuk proses editing nantinya. Shooting di Hello record studio, @mother_monkey’s crib. Lumayan seru, dan melelahkan karena kita mulai agak larut dan baru selesai lepas tengah malam.

14 Sep 2010: hari ke tiga shoot. Pengambilan scene2 yang masih dirasa kurang, pengulangan beberapa shoot dan ada penambahan lokasi yang dipakai untuk film fiksimini ‘SEHARI SAJA’. @melialivita dibantu beberapa teman pecinta film dan video-making aktif terlibat di dalamnya. @diazananda dan @fardania juga ‘terpaksa’ lebih ber-akting di shoot terakhir ini (perjuangan mereka luar biasa).

Peralatan yang digunakan selama shooting: handycam, kamera foto SLR, dan lighting ala kadarnya. Editing dikerjakan oleh @melialivita tanpa tidur 2 hari berturut-turut. Software yang dipakai Premiere Pro. Seleksi  musik dibantu oleh @ryanka7926. Terbukti nyata, karya yang datang dari cinta sungguh luar biasa hasilnya, kelegaan bercerita dirasakan oleh semua fiksiminiers surabaya. Kami mengakui karya bersama ini sebagai proyek mimpi tahap awal. Kami akan terus asyik bermimpi dan saling membangunkan untuk mewujudkannya bersama-sama. Fiksiminiers surabaya, kalian juara! Hidup @fiksimini!

Posted in Uncategorized | 3 Comments

DENDANG PUTRIKU

Guru TK itu mulai gusar. Putriku terus berdendang. Lagu yang  sama. Semakin lantang. Sepagian @fiksimini

Aku menungguimu terlahir. Saat tangismu tak pecah, hatiku berserakan. Tahun berganti, dan serakan itu mendekor ulang hidupku. Kamu tumbuh besar, dan luar biasa cantik, seperti ibumu. Wanita yang dulunya sangat kucintai itu meninggalkanmu begitu saja, tanpa bercak sesal pada paras jelitanya. Mungkin hatinya tak cukup tebal mendengar sayat ucap orang lain tentangmu yang memang “berbeda”.

Pagi itu aku mengantarmu ke sekolah. Hari pertamamu. Rasa khawatir bila kamu disakiti, lebih besar dari antusiasme yang mestinya terbagi. Hatimu berpendaran di antara pekat bola matamu. Kamu sebutkan namamu, Lintang. Lalu kamu mulai berdendang di depan seluruh kelas. Lantang dan merdu, pada telingaku. Cekikik cela dan gemerisik bisik mencabik-cabik dadaku.

Aku terbangun. Memutuskan untuk tetap menikahinya, ibumu.

Posted in 15topik, Cerita 1 Halaman | Tagged , | 1 Comment

Teko Tembikar

Teko itu datang pagi tadi. Berkawankan 8 tangkai mawar. Hati-hati diletakkannya teko tembikar itu di antara deretan teko lainnya. Emas, Perak, Kristal, Kaca, porselen.

6 tahun sudah, di hari ulang tahunnya, pengirim misterius itu meletakkan teko beserta 8 tangkai mawar di depan pintu rumahnya.

Cucunya menyusulnya ke kamar. Tamu-tamu mulai berpamitan. Ia harus turun melepas mereka dengan kecup.

“grandma, why do you love teapot so much?”.

“It is not the teapot, darling. It’s what’s inside of it”

Dituangkannya isi teko tembikar pada cangkir plastik kesayangannya. Sekejap malam pun henyak. Sirene ambulans memecah hening. Tak cukup waktu. Jiwa usai menyetubuhi raga.

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | 3 Comments

Mati

Matinya kata-kata. Ketika huruf hidup ikut-ikutan mati

Bnk kml dr kn prc trjth, tpt d pngknk. Mtny lkt pdk, slh spkt ntk tk brsr.  Drt rnjng dn lngh gdh drblk pnggngk n lbh kt dr kd tlnjk kclk yng kmskkn dlm-dlm k dlm lbng tlngk. k mrngkk lbh dlm, brhrp lnt dr tnh lt n mnlnk th-th.

Lttk ml ngl, zt sm d lmbngk ml mngglgk nk, ll tmphlh crn knng brcmpr ss ns td pg d blsk yng mmng tk pth lg wrnny. Rnjng bs t sntk brhnt brdrt. Ll klht spsng kk d ss tmpt tdr. Btsny kcl skl, pct sprt wrn tmbk d sklh mnggk. Ll d, lnggnn bk, mlngkkn kplny k bwh rnjng.  Mtny nnr kmrhn, lbng hdngny mmbntk trwngn bck dn brb yng brmr pd tnggrknny yng pnh brck nnh. Kttp wjhk kt-kt, wl kbtny hmbs nfsny smkn mmbr ml pd tlng tlnjngk. Ll mnstr t mnrkk kts…

Posted in Cerita 1 Halaman, Fiksimini | Tagged | Leave a comment

DIA

IKUT-IKUTAN. Setiap ia mulai ikut mendongeng, aku justru terjaga. Memang sulit membungkam tokoh dari bab III itu @fiksimini


Sengaja tak kunamakan Dia. Lagipula sungguh tak terpikir apa nama yang cukup menggambarkan dia. Dia memang kuhadirkan dengan sengaja. Saat Khalid tersesat dalam kumparan labirin memorinya. Tentang dendam masa kecil yang berkilat-kilat, ketertarikan yang tak pantas, masa remaja yang meragu, dan perjalanan yang pernah dan tak sempat.

Cerita ini memang seharusnya tentang Khalid. Bukan tentang dia yang sengaja tak kunamakan. Baiklah kita sepakat menyebutnya dengan Dia.

Sebentar lagi pasti ku dipanggil turun. Kusimpan mereka rapat-rapat di dalam netbookku, mengamankannya dengan kata kunci yang bahkan Dia pun tak kan tahu, menuruni anak tangga, langsung menuju kapel kecil di susteran. Hampir saja aku terlambat. Suster Anabel, Maria, dan Agnes telah menungguku di barisan paling depan. Mengiringi mereka dalam perayaan misa sudah kujalani sejak aku masih berusia 7 tahun. Ketiga suster itu dan suster-suster lainnya berganti-gantian merawatku sejak kecil. Mereka pula lah yang memanggilkan guru mengaji untukku, menyiapkan dan menemaniku sahur setiap ku berpuasa. Oh ya, namaku Khalista. Orang tuaku bosan menyiksa dan menjajakan diriku yang tak kunjung laku, lalu meletakkanku begitu saja di depan pintu susteran ini, 20 tahun yang lalu. Tepat saat kuhadirkan Dia, yang setia menidurkan Khalid di dalam bilik usang bernamakan DOSA.

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | 3 Comments

DUA

“Aku kan sudah bilang, berkali-kali malah, nggak usah nelpon-nelponin aku terus!”

“Iya ma, tolong titip dulu Rasya. Aku belum bisa pulang sekarang”

“Ya ampun, maumu ini apa sih, nggak usah pakai Rania jadi senjatamu deh”

“Masih meeting ma, iya.. nanti aku telepon lagi sebelum Rasya tidur”

“Jangan paksa aku ngomong kasar ke kamu”

“Iya, nanti ada yang anterin aku pulang ma. Titip Rasya dulu”

“Aku pergi sama siapa bukan urusanmu lagi”

“Iya ma, ini sinyalnya putus-putus..mana Rasya?”

“Sudah sana panggilkan Rania, bilang papa mau ngomong”

“Rasya, minta oma dongengin ya, tidur yang nyenyak nak. Mama sayang kamu”

“Malam kupu-kupu cantik, papa kangen Rania. Mimpi indah ya sayang..”

Dua anak kecil di dua tempat terpisah, sama bertelut di samping tempat tidur mereka. Memohon pada Tuhan yang mereka kenal dari tangis tertahan dan senyum taat. Merapal peluk dan cium hingga kantuk datang menyelamatkan rindu.

Dua insan berbeda jenis di tempat yang sama, sama berpeluh di ranjang berkelambu. Mendikte Tuhan atas nama bahagia..

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged , | 1 Comment

(Tak Mau) Pergi

Dengkurnya mencipta notasi pilu di telingaku. Bulir keringat di dahinya meluncur turun bersamaan dengan hatiku yang berceceran. Putraku tertidur lelap. Lihatlah dia bahkan masih memakai bantal biru kumal kesayangannya. Bantal bersulam namanya yang kurajut semasa ia masih dalam kandungan. Ah, betapa waktu lincah bermuslihat.. terlalu lincah hingga aku pun tak lagi tahu apa yang kulihat dan yang tidak.

Setiap malam kumenemaninya tidur, lalu pergi diam-diam sebelum matahari menjemputnya paksa dari pelukku. Setiap malam kudongengkan ia tentang Andai dan Sesal. Seperti biasa, ia asyik dengan bacaannya sendiri. Ensiklopedi antariksa dan dinosaurus. Seperti biasa, aku membelai kepalanya, mencoba mengerti.
Selama itu pula ia terlihat menerawang jauh, lalu, oh.. Ini sungguh merajang hatiku beremah-remah, ia menitikkan air mata. Satu dua titik saja, lalu disekanya cepat dengan bantal biru kumalnya. Tak lama ia pun lelap, seperti sekarang. Dan tak lama berselang, aku akan mereka ulang awal penciptaan dongeng Andai dan Sesal itu, seperti sekarang.. ya, seperti sekarang.

Rekaan yang sama, setiap malam, bermalam-malam. Malam itu, 5 tahun lalu, tangis yang sama membulir di pipi tirusku. Sampai saatnya ia letih membulir dan memilih mengerat di hati. Hati di mana dulu ia berdiam, suamiku dan aku, sebelum raganya hengkang. Tubuhku masih menjejak, tapi hati dan kepalaku tak lagi. Pernah satu kali aku berjalan di antara pecahan kaca. Telapakku berdarah-darah pekat membekas di ubin putih, tak sedikit pun kurasa perihnya. Aku pun pernah melompat ke kolam 4 meter dan merasa begitu nyaman di kedalaman yang berebut merengkuh ngiluku. Aku tak berontak sama sekali, hingga penjaga kolam melompat dan menggeretku naik. Bukan sekali dua kali teman-temanku menyeretku paksa ke aneka terapi, mulai dari belanja, jalan-jalan, minum-minum, obat penenang, psikiater, kebaktian kebangunan rohani, doa pelepasan, doa novena, dan aneka doa lainnya. Bukan sekali dua kali pula aku mencoba-coba dan bertaruh dalam hati, mana yang paling manjur. Taruhan luar biasa konyol yang jawabnya sudah kuamini bahkan sebelum menjajal aneka terapi itu, ‘tak satu pun’. Ya, tak satu pun yang mampu menghidupkanku kembali. Bagaimana mungkin mereka menjejaliku dengan aneka terapi sementara yang kubutuhkan hanya suamiku?  Sudahlah tak usah aku berpanjang-panjang tentang cinta yang menagih ditagih, saling ketagihan. Yang kutahu, hatiku mendadak kosong, juga kepalaku terasa tanpa isi.  Pernahkah kamu merindu hingga ngilunya tak lagi tertahankan? Sakit hati hingga pedihnya bertalu talu?

Sore itu,  5 tahun yang lalu, aku terkapar di kamar karena demam. Putraku menangis meraung ribut di kamarnya. Di telingaku, raungan dan isaknya berubah jadi semacam dengung lebah yang meninabobokkanku. Lalu kutenggak minuman kaleng di sisi tempat tidurku. Mengosongkan botol tablet di tanganku, dan menandaskan isi minuman kaleng tadi hingga buihnya membasahi daster tuaku. Selanjutnya waktu berhenti bermuslihat. Seakan jengah meledekku, ia tinggal diam, terpaku di langit-langit kamarku. Lalu kulihat putraku membiru karena tangis yang tak putus asa, tangan dan kaki kecilnya tak lagi menggapai-gapai. Lalu tetangga mendobrak masuk dan mengangkutnya ke rumah sakit, dan hey mereka juga menandu seorang wanita berpipi tirus nan ringkih berdaster kumal. Itu kan…aku?

Putraku membalikkan badan dan menguap lebar. Kami beradu pandang, setidaknya kupikir demikian. Karena tersenyum pun ia tidak, apalagi menyapaku ibu. Matahari hampir turun, merenggutnya paksa dari dekapku. Sebentar.., tolong, sebentar lagi saja. Lalu ia menatap mataku, tepat di sana. Ada bulir yang menggenang tenang di pelupuknya. Pelan ia melafal tanpa suara “Ibu?”.  Kemudian pintu itu terbuka, sesosok wanita bersenyum indah membungkukkan tubuhnya dan mengecup putraku. “Nggak bisa tidur lagi, sayang?”. “Iya ma, Abi kangen ibu”. Wanita itu mengusap-usap dahi putraku teduh. “Ayah juga?” Putraku mengangguk kencang. “Ya sudah, sini mama temani berdoa. Abi harus rajin berdoa untuk ayah dan ibu Abi ya, agar keduanya tenang di surga”

Posted in cerita pendek | Tagged | 4 Comments

Pulang

Lonceng gereja bertalu-talu. Angin bertiup kencang mengibar-kibarkan rambutnya yang kusam, mengeringkan pelupuknya yang mengenang genang. Diayunkannya langkahnya cepat. Sial, ia bahkan tak ingat mengenakan mantel apalagi membawa payung. Anak-anak hujan mulai berselancar di dahi dan bahunya.

Tepat di gerbang masuk, langkahnya terhenti, ia berpegangan kuat pada teralis gereja. Pria, wanita, anak-anak bergandeng-gandengan tangan, dalam gelak suka cita dan setangkup tatap beroles kasih.. Nyaris tak ada yang datang seorang diri malam ini. Ah, tentu saja, siapa yang cukup tebal hatinya menghadiri misa natal sebatang kara, dalam keadaan kumal pula sepertinya. Lampu gereja mulai dipadamkan, pekat, tanpa penat kali ini. Diusapnya pipinya, kering. Betapa ia terbiasa mengusir derai kurang ajar itu bermain-main di pelataran wajahnya.

“lilinnya?” Suara seorang wanita. Tapi dadanya terlalu sesak untuk mendongak. Matanya terlalu berat untuk membuka. Kerongkongannya lena mencekat. Jemari kaki dan tangannya tak lagi merasa. Malam kudus… sunyi senyap…bintangmu, cemerlang……

****

Lonceng gereja bertalu-talu. Angin bertiup kencang mengibar-kibarkan rambutnya yang kusam, mengeringkan pelupuknya yang mengenang genang. Diayunkannya langkahnya cepat. Sial, ia bahkan tak ingat mengenakan mantel apalagi membawa payung. Anak-anak hujan mulai berselancar di dahi dan bahunya.

Tepat di gerbang masuk, langkahnya terhenti. Pemandangan yang terlalu menyakitkan. Diputarnya tubuhnya dan melangkah cepat meninggalkan pelataran gereja. Tubuhnya basah kuyup, sayup suara lonceng menguap sesap di antara debur guntur yang membentur-bentur rongga hatinya.

Sesak itu tak tertahan lagi, pandangannya mulai menggandakan muslihat. Sedan merah berkilat-kilat. Decit nyaring, bunyi berdebum. Samar di lihatnya sepasang kaki bersepatu runcing keperakan keluar dari sedan mewah. Berlarian panik ke arahnya. Hak sepatunya mendekor ulang mozaik genang di aspal dingin. Malam kudus… sunyi senyap…bintangmu, cemerlang……

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | 4 Comments

Laundry Man

Usaha laundry ini belum lagi genap setahun. Iseng-iseng pada awalnya. Ketimbang hanya mengirimkan naskah ke penerbit yang tak kunjung berbalas. Ternyata dirunut-runut, menulis novel dan membuka jasa laundry ada juga kesamaannya. Mereka sama berkisah. Dari tumpukan baju kotor itu lah aku tahu bahwa pelanggan dari blok E itu seorang wanita penghibur, dan bahwa bapak paruh baya berbulu dada selebat beruang dari blok C itu pelanggan setianya. Aku juga tahu istri si bapak dari blok C tadi hanya memiliki dua buah kutang yang sama bolongnya. Sepertinya ia terlalu sibuk menyulamkan inisial namanya di celana dalam suaminya.

Dan kamu tahu, yang teristimewa adalah aku jadi tahu segalanya tentang dia yang kupuja. Bahkan baju kotornya pun beraroma segar ibarat limau yang baru dipetik. Tunggu, aku bukan seorang fetish yang mendapat kenikmatan sembari menghirup sesap aroma pakaian dalam pujaan hatinya. Tak sekalipun pujaanku menyucikan pakaian dalamnya. Cuciannya penuh dengan seragam sekolah dan baju-baju gaulnya yang didominasi warna oranye. Ya oranye, bukan pink seperti gadis-gadis centil seusianya. Setiap senin pagi, tank top atau halter neck oranye sudah teronggok manis di atas meja. Pastinya ia memasangkannya dengan jins belel yang robek tepat pada pangkal pahanya. Dan di sana biasanya kutemukan bekas sobekan tiket, struk atm, bon pembayaran minuman atau sekedar karet rambutnya, yang lagi-lagi, oranye.

Kali ini isi kantong jins belel kesayangannya itu cuma berisi sebuah kondom bekas pakai, celana dalam pria dan jepit rambut oranye.

Sesuatu yang familiar. Inisial itu..

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | 1 Comment

Aku Mengenalnya

Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti malam itu, saat aku mengambil kendali, menungganginya. Aku tahu ia menikmati itu, tapi tak lama ia akan berubah gelisah. Tak nyaman. Lalu buru-buru aku dibaliknya ibarat ikan bakaran. Posisi misionaris atau doggy yang selalu memuaskannya.

Seperti siang tadi, saat kami berpapasan dengan kawan lama dan aku menceritakan karyaku dan kecintaanku pada tekstil. Ia membuang pandang dan larut dalam sesap asap rokoknya. Gelisah. Tak nyaman.

Seperti tiap kali kami menyeberang jalan, aku yang terbiasa memulai langkah, dan ia yang ragu-ragu. Aku yang menggamitnya, dan ia yang menepis, gelisah. Lagi-lagi tak nyaman.

Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti pagi ini saat ia mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah ini. Dalam diam.

Bila kutebas satu dari tangan atau kakiku, bahkan mungkin bibirku, maukah ia kembali dan mengenalku?

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | Leave a comment

Setahun Sudah

Setahun sudah kuhindari jalan pintas berbelukar di belakang danau. Setahun sudah aku menolak bertegur sapa dengan wanita paruh baya bergincu sepekat darah. Karena katanya, jangan. Dia, si pria gipsy berdada sebidang dermaga, bermata sewarna abu yang gelap berkilat-kilat. Setahun sudah sejak ia mengatakan itu sembari meraba rasai tengkukku yang masih berpeluh di antara remah gelinjang.

Sungguh, aku tak ingat apa dan siapa yang mengawali segala. Yang kutahu bibirku terasa tebal dalam gigil, langkahku berat. Tersaruk sampai jengah di tepi danau. Bibir itu, bibirku..sepekat darah. Sepekat merah pada kedua jemariku yang gontai di atas dada sebidang dermaga yang kini sehening danau di hadapanku…

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Tunggu Dulu

Hampir sejam ia tergeletak di situ.
“Bahagia itu ada di dalam kepalamu”, “bahagia itu pilihan!”, bla bla bla blahagia. Sejuta rumus dan iman tentang Bahagia itu membuat nafasnya makin tersengal. Terhimpit bengal di antara rutuknya. Gemeletuk giginya membongkar paksa senyap. Ngilu itu bersedekap, menanti henti.

Aku diam, menunggu..
Masih kuingat ia menepis cinta kekasihnya, menyerapah kasih bundanya, dan menyumpal mulut sahabatnya dengan kepal bergeligi. Lalu ia kembali, di gudang usang ini bersama mereka yang dipanggilnya sahabat. Mereka mengenal dari padu erangan, tangis dan tawa lepas menandak-nandak di antara remah bubuk putih. Putih yang damai. Bahagia. Sekawanan mereka datang berpeluh dingin, menarikan liuk asap dan menyanyikan candu.

Sudah sejam ia tergeletak di situ..
Mengiba dan merutuk berganti-gantian. Sendirian. Benar-benar sendirian. Ia rindu kepul panas kopi jahe dari cangkir porselen bunda yang retak pada pangkal bibirnya. Dibayangkannya bergelung di ranjang sempit kekasihnya sembari dininabobokan rapal rosario di malam-malam ia memuja elukan bubuk laknat itu.

Dan aku, masih menunggu…
Samar kudengar rapal doa bundanya, bingkis puasa kekasihnya, dan maaf sahabatnya. Indah mengalun. Lamat-lamat bersepakat. Air mataku pun membasahi bumi. Kuhampiri dia lalu kuulur tanganku.

Ia terbelalak, terjengkang hebat, panjang lolongnya.

“Tuhan… Jangan sekarang”

Posted in cerita 1 halaman, cerita pendek | Tagged | 2 Comments

Abang Penjual Kembang Api

Lagi-lagi Abi memintaku membeli kembang api di sana. Aku masih tak mengerti, apa bedanya kembang api jualan si abang berpeci hijau spotlight itu dengan yang lainnya.

Satu hal yang membuatku agak segan membelikan Abi kembang api di sana. Mata si abang yang tak berkedip menelanjangiku.

Kali ini aku punya waktu, tak seburu-buru biasanya, tak sekedar meminta mang Ujang yang memilih dan membayar kembang api Abi. Aku mau memberinya pelajaran karena tak punya malu memandangiku begitu. Kujentikkan jari, kutuding-tuding dirinya, ia bergeming. Kukibas-kibaskan lembar  ribuan di hadapannya, pandangnya tak lekang.  Aku siap meledak, kalau saja mang Ujang tak bergegas berkata-kata padaku lewat kedua tangannya di antara komat-kamit si abang penjual kembang api

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | Leave a comment

Surat Cinta kepada Dia yang Bersemayam di Hati

Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali ku berkirim surat padaMu. Lima tahun lalu? Lima belas?

Aku juga tak ingat lagi, kapan terakhir kali kubaca suratMu untukku. Lima tahun lalu? Lima belas?

Yang kuingat dahulu kita luar biasa mesra. Saling bercakap sebelum malamku tercuri pagi, bertukar gelak sebelum matahari menyeringai sengit. Berbalas surat cinta yang tak butuh letup. Cukup kecup pada kening, dada dan kedua pundakku di antara sebut namaMu.

Tapi ternyata buatku itu tak lagi cukup. Kedanginganku butuh letup dan gelenyar yang bisa diraba rasakan. Lalu aku mengenalnya, dan dia. Mereka yang melenakanku dalam saruk maruk letup cinta. Cinta yang bukan cintaMu, kutahu. Cinta yang tak sesetia cintaMu, kutahu. Aku tahu, tapi aku tak terima. Seperti saat dia mematahkan hatiku berkeping-keping, aku marah. PadaMu. Ya, padaMu. Karena aku tahu kamu setia, terlalu setia sampai-sampai cemburu satu dalam hembus nafasMu.

Betapa Kamu tega, membiarkan hatiku patah berkeping-keping, air mataku menggenang-genang dalam kenang.

Lalu aku menuntut ganti. Cinta yang lebih luar biasa. Cinta yang tak terpatahkan.

Kamu lagi-lagi, mengabulkannya. Kau hadirkan dia, pria bermata sendu yang melumat hatiku lamat-lamat.

Dan Kamu tak ingkar, memang luar biasa cintanya. Cintaku. Sampai-sampai aku jadi luar biasa sibuk, mencintainya tentu saja, dan diriku. Aku tak sempat bertukar surat denganMu. Sekedar sapa ala kadarnya, seingat-ingatku saja. Tapi kan Kamu memang tak ke mana-mana. KataMu, cintaMu padaku bukan karena apa yang kulakukan, tapi karena kasihMu semata. KataMu, Kamu selalu siap memaafkan aku. Kapan saja, karena apapun.

Dan aku pun lupa, bahwa dia bukanlah Kamu. Aku mengimani dia yang kupikir juga tak ke mana-mana, persis sepertiMu, bersemayam di hatiku. Aku lupa, aku dan dia tak sekedar butuh cinta yang luar biasa. Cinta yang kini mendadak biasa. Aku lalu sibuk kecewa padaMu. Karena pastinya ini ulahMu yang cemburu. Pasti. Bahkan aku merutuki cintaMu, kini.

Tapi Kamu sungguh mencengangkan. Kamu bergeming di antara sembur serapahku. Hanya dekap topang di antara kelu dua tungkaiku. Hanya percaya dan ampunan di antara ngilu hatiku. Kamu benar-benar tak ke mana-mana. Masih di sana, dengan persediaan cinta yang jauh lebih besar.

Kamu bahkan meletupkan kembali cinta yang sama untuknya, di hatiku. Yang baru, tak menandak-nandak dan berpelatuk seperti dulu. Cinta yang mendekati cintaMu padaku. CintaMu yang setia menunggu aku, dalam semayam yang tak pernah temaram. Aku mau terus belajar tentang cinta, denganMu. Hanya denganMu. Pada kecup di dahi, dada dan kedua pundakku, di antara sebut namaMu.

Posted in Uncategorized | Tagged | 4 Comments

Aku yang Tak Lagi Lara

Mereka masih saja mencariku. Ayah, ibu,  kakak adikku. Bergandengan tangan dengan kaki telanjang. Ibu menggendong si kecil Mirah sembari setengah menyeret Dilmah dan Raihan yang mengikuti di belakangnya. Ayah dan kedua kakakku sibuk bertanya pada sekeliling. Tak jarang mereka justru menerima dengus tak suka dan tepis mencemooh. Hanya sebagian yang masih sopan mengucap “lewati saja, maklumkan ya”

Aku  merutuki keramaian yang lara. Seperti saat menahan lapar demi gelak ketiga adikku. Menawar kantuk demi sekejap dengkur ibu. Karnival ini menawarkan keramaian yang tak lara. Sungguh. Bahkan ketika aku harus menjual masa kecilku pada pemain trapeze bercelana seketat cekatku. Lalu pawang singa itu, dan entah siapa lagi. Berhentilah mencariku, aku tak lagi lara…

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek | Tagged | Leave a comment

It Was Only Last Night

It was only last night.

She was finishing the last chapter of her very first book. The book she had been putting so much of her tiny life into. It had been two years.  Two years that had freezed the moon from taking turns with the smirking sun. Two years that had snatched any dews from her lavender bushes. Two years that had ceased her ever striking long legs from strolling through the garden, barefooted. She had lost so much weigh since the day she started writing. Her arms were as small as her husband’s golf stick, and her cheekbones were as hollow as his stares. It had been too long since he even tried to stare. He never stared. He hardly dared to..

The faint smell of water lily still lingered. It was from her old clothes and nostalgies, well kept in her ivory wardrobe. The wardrobe she had never come close to since the day she started writing. Her laptop was on her lap. Flipped open. Not a letter. Not even one. She knew it would not be easy, the last chapter. She pushed it aside, grabbing a salmon spread non fat crackers from the supper tray. The spread was way too tidy. The new butler was trying to impress her, so she guessed. She felt like telling him that she hated tidy spread, but on second thought she decided not to sweat it for now. She had become indifferent to dissapointments, and she choosed to swallow some with lowest disturbance instead of triggering another series of dissapointment.  She had learned to outsmart pain.

The door was held open, as usual. As such, he would not need to knock, whenever he felt checking on her. She knew he had never missed a single day. Checking on her. Even when he thought she was sound asleep.  Then she knew  he would try to peek on her writing. But she was no fool.  She always had all her files locked with password only God and herself could tell.

It was almost midnight. She typed the last sentence, and smiled, with tears welling down her cold cheekbone. She read the whole page all over again and broke into a piercing hysteria, a resolving sob, and a stilled silence.

It was only last night.

He had a tough day, convincing a buyer to give his company a second chance. He could not afford to lose that multi national client who had been supporting his business for over 20 years. After hours of apologies and make up proposals, they said they would strongly consider. He felt like firing the interns for passing wrong slides and quotations to the board during the meeting this very morning. In an instant he remembered her.  He ran into the lobby and called the driver.  There was no place he’d rather be than with her. Even though he could only get as close to staring her face while she slept, or checking on her while she was writing. She must’ve fallen asleep by the time he got home. He wished that she knew he had never missed a single day not checking on her. He knew he should’ve taken his chance to stare at her and apologize, even at the risk of her locking herself up for months. He wished he could put things back to where it used to be. It was only one night. One foul night, 2 years ago. He could barely remember what was it like. He was drunk, and bankrupt.  And she, the woman from the club, she knew too well how to soothe his bruised ego. She was well-trained. And he was into deep. ‘Shit’ they said what it was.

It was one foul night..

It was only last night.

She let him stare at her. And to her own surprise he came even closer. He kissed her. It did not last more than a second. The next thing she felt was her chest was burning. Was it from love or regret, she could not tell. She did not want to. In a split second everything was beaming, glowing as they were, exactly 20 years ago, walking down the aisle of water lilies. Holding a bucket full of dreams and romance. Staring sheepishly. French-kissing what the future might hold and most of all, embracing vows. “…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

And there it was on her laptop screen.

“…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

Posted in cerita pendek, short story | Tagged | 1 Comment

Attila, Jeanette dan Aku

“Mungkin kamu memang nggak pernah mencintai aku”

Kata-kata yang sama, dari mulut perempuan yang berbeda. Ada apa dengan  mereka semua. Saling kenal pun tidak. Bagaimana mungkin semuanya menggunakan kata ‘putus asa’ yang persis sama.

Cih.. perempuan, selalu mau lebih. Bahkan perempuan-perempuan happy-go-lucky yang awalnya bersepakat hanya jadi teman ‘kelon’ demikian ia menyebut kategori status yang berdiri (seharusnya) manis di antara teman dan kekasih. Attila melempar handphone-nya ke kasur, lalu dengan hati-hati melepas plastic foil yang membalut lengannya. Mengagumi radjahan baru bergambar naga hitam pekat yang meliuk di antara pekat merah api. Tubuhnya serupa kanvas yang indahnya diapresiasi oleh harmoni warna dan bentuk.

Kutekan tombol silang di ujung kanan atas laptop. Lalu buru-buru memilih NO pada pop up box “do you want to save the changes you make to Chapter II?”.  Belum lagi terlahir sempurna sudah kubunuh karakter laki-laki jahanam di buku terbaruku. Buku yang harusnya bercerita tentang seorang perempuan berprestasi yang bahagia dengan hidup barunya, tanpa elemen memabukkan bernama cinta dan anteknya, laki-laki. Aku tahu betul, tak butuh berapa lama aku akan jatuh cinta, lagi, pada Attila dan membiarkan heroine-ku begitu saja menunggu berbab-bab lamanya sampai akhirnya harus lagi-lagi bertekuk lutut pada rasa kehilangan dan sesal.

“Hey, i made you some cammomile tea. Take a sip” Wanitaku terkasih beringsut duduk di sebelahku. Mengecupku lembut lalu menyusupkan tangannya di balik tipis tank topku. Ada gelenyar yang bersepakat di sana, di antara pagut yang tak lagi meragu.

Jeanette, lututnya tak pernah bertekukan demi Attila-Attila manapun. Sejak awal, ia tak pernah berdesir untuk dada bidang berkilat-kilat, lengan pun betis yang sekokoh dermaga. Ia tak punya ruang pada hati dan vaginanya untuk batang penis manapun.

Mungkinkah karena ia punya itu semua di balik payudaranya yang nyaris rata, di antara hatinya yang seteduh rembulan, pada halus nadi lengannya yang bertato naga api, pun pada elok lekuk tubuhnya yang seterik matahari?

Aku membalas desak pagutnya, bertubi, mendorong kepala berambut pirang cepaknya ke bawah, di antara kedua pahaku.

Jeanette tak perlu tahu, dia mungkin tak harus tahu.

Sial… Attila, berapa kali lagi kamu harus kubunuh!

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek, short story | Tagged | Leave a comment

Imani Amini

Kata ibuku aku harus berani bermimpi lalu harus ingat untuk bangun dan meraihnya. Pesan itu kuimani dan amini betul. Abang-abangku mencemoohku saat kupecah celengan ayamku dan membuat paspor. Usiaku baru 18. Baru saja lulus smu.

Tak bisa tidak, aku harus menjejakkan kaki di luar negeri. Malaysia saja. Tak muluk-muluk. Bertahun-tahun aku membanting tulang menjadi loper koran dan menjual brownies kukus. Dan hari itu pun datanglah, kukantongi juga tiket perjalanan ke Malaysia.

Ibu melepasku dengan haru. Abang-abangku pun tersenyum bangga. Aku melambai-lambaikan tangan dari balik kaca keberangkatan. Selanjutnya mimpilah yang melambaikan tangannya padaku dari balik meja pelaporan. “Mbak, paspornya 4 bulan lagi expired. Maaf sekali, mbak tidak bisa lagi menggunakan paspor ini”

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek, short story | Tagged | Leave a comment

TUKANG FOTO KELILING ITU, AKU

KARNAVAL. Kamu tersenyum lepas dari balik gulalimu dan dia yang menutup matamu dari belakang.

WARUNG REMANG. Kamu yang mengernyit ragu saat dia memesankan arak untukmu.

STASIUN KERETA. Kamu tergugu pada pundaknya yang bergeming.

WARNET 24 JAM. Kamu yang menggigit bibir sesubuhan ditemani berbotol-botol air mineral dan lotion anti nyamuk.

PAGAR RUMAHMU. Pipimu yang merah padam sepekat buntalan seprai pada tangan kananmu.

PUSKESMAS. Bulir keringat menetes pada pipimu yang meranum dan jarimu yang rekat pada busung perutmu.

WARUNG REMANG. Kumal puluhan ribu dari balik kutangmu yang penuh air susu.

LIANG LAHAT. Kelopak mawar dan kuntum melati pada sebentuk kamu yang berkafan putih.

KAMAR GELAP. Aku, pengagummu yang terlalu pengecut untuk menyelamatkanmu darinya.

Posted in cerita 1 halaman, cerita pendek, Fiksimini | Tagged | Leave a comment

Lupa itu Sudah dibayarnya, Lunas

Kemarin aku si gadis desa, hari ini aku siswa SMU, besok aku nona perawat. Tergantung permintaan pelanggan. @fiksimini

Dibukanya paksa pilin pada rambutnya. Waktunya tak banyak. Dengan cekatan kedua tangannya beringsut turun melepas kancing demi kancing kebayanya. Ternyata kebaya ini masih terlalu longgar untuknya, bahkan untuk dadanya yang membusung bangga dengan cup C. Dibiarkannya kebaya putih menerawang itu meluncur turun dari tubuhnya. Teronggok manis di antara kedua kaki telanjangnya. Masih saja ia menyempatkan diri terkagum-kagum pada ranum buah dadanya yang terpantul pada cermin kusam di hadapannya. Huh, memangnya mudah, mencari kebaya yang pas melekat di badan dalam waktu singkat. Boro-boro punya waktu untuk beli, untuk meminjam saja butuh nyali dan juga, urat. Seperti tadi saat harus menagih hutang ke mbak Mimin. Tetangga baru. Seorang janda eks kembang beranak 5. Alih-alih membayar hutang, mbak Mimin malah memintanya memilih langsung barang-barang apa yang mau disitanya sebagai ganti. Dia tahu betul televisi pun mbak Mimin tak punya. Setiap sore kelima anaknya kecuali yang masih menyusu, sudah duduk manis di hadapan televisinya. Terpaksa, dengan wajah merah padam karena jengkel, dibongkarnya isi lemari mbak Mimin. Dan yah, didapatinya kebaya putih menerawang ini. Satu-satunya kebaya di lemari mbak Mimin yang dikenakannya sewaktu menikah.

“Kebaya itu tak ternilai untuk saya, mbak” ratap mbak Mimin sembari memilin-milin ujung dasternya yang koyak sana sini.
Tapi dia tak peduli. Disampirkannya kebaya putih itu pada pundaknya lalu melenggang pergi.

Sebenarnya hatinya tak sampai. Ia tahu betul apa arti kenangan. Memang kini dia tak lagi bertegur sapa dengannya, apalagi duduk berhadapan sembari menyeduh teh poci dan mengunyah ketela rebus. Tapi ia punya peran yang harus ia mainkan, supaya ia lupa, bukan saja supaya ia bisa selamat dari dingin kolong jembatan. Ternyata lupa pun ada harganya. Dan ia bertekad mencicilnya sampai lunas, suatu hari nanti.

****

Lelaki botak berperut panci di hadapannya tengadah, lingerie membebat sempurna mulut lelaki itu. Dengus nafasnya seribut bunyi pendingin ruangan di kamar hotel transit itu. Dengan anggun dinaikkannya satu kakinya di tepi tempat tidur. Rok putih mininya tersingkap nyaris sempurna. Kedua tangan lelaki itu menggapai-gapai hendak meraihnya tanpa hasil. Berat tubuhnya menghalanginya untuk bangun dan meraihnya. Dia, membuka dua kancing teratas baju perawatnya. Kutang putih berenda menyembul dari baliknya. Mata lelaki itu mulai berair, kemerahan.

“Iya saya tahu, harusnya hari ini pakai seragam SMU. Buat minggu depan ya Om. Nemunya yang ini sih”

Ia mulai menjalankan rutinitasnya. Meliuk-liuk dan membungkuk tekuk sintal tubuhnya sembari sesekali melempar pandang binal pada lelaki di hadapannya. Entah bagaimana lelaki itu mendadak sudah lekat pada punggungnya, menekuk paksa lehernya dan menuntaskan segala. Ternyata yang dipikirnya segala belumlah seberapa. Lelaki berperut panci itu memecutinya dan menendanginya dengan buas. Membentur-benturkan kepalanya pada lantai lalu meludahinya dan entah apa lagi yang membuat malam pun meringkuk ketakutan di balik remang kamar.

****

Matahari mulai melebarkan seringainya. Sayang, kali ini ancaman sang surya tak lagi mempan untuknya. Tirai kamar berjeruji itu tertutup rapat, setiap waktu. Bahkan waktu pun menutup wajahnya rapat-rapat dari tempat ini.

Dua lelaki tegap berseragam putih-putih itu memegang kedua kaki dan tangannya. Ia bergeming. Tak pernah ia merasa setenang ini. Kembang sepatu aneka warna bertebaran di hadapannya. Berduyun-duyun senyum sewarna pelangi menghampirinya. Kelima anak mbak Mimin, tetangganya, mendadak bersayap dan bermahkotakan dedaunan, bergantian mengecup keningnya di antara denting harpa. Namanya, ya, namanya, tersulam rapih pada awan putih yang berarak-arak. Sementara itu perawat berdada tambun menyuntikkan sesuatu pada lengannya yang kebas.

“Dosis ini tak lagi cukup untuknya, sus” Dokter itu, berkepala botak. Berperut serupa panci. Matanya berair, kemerahan

Posted in cerita pendek, Fiksimini | Tagged | 3 Comments

Kami Duduk dalam Diam

Kami hanya duduk berhadapan dalam diam. Aku tahu betul ia sedang memandangiku. Sesekali didangakkannya kepalanya untuk melihat ke arah jalan. Entah siapa yang sedang dinantikannya. Aku berusaha tak ambil pusing. Setidaknya sekarang ia sedang berusaha membuatku merasa istimewa. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat padaku. Mendadak aku mulai merasa gelisah dan merubah letak kursiku.

Ia menunggu. Lalu kembali mendekat. Hembus nafasnya semilir pada tengkukku. “Diminum kopinya, keburu dingin”. Aku hanya mengangguk sembari menambahkan “terima kasih” yang nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri. Dia menggeser kursinya tepat di belakangku, lalu meletakkan kedua tangannya pada bawah dagu dan atas tengkukku. Pelan saja. “Cukup mas? Atau mau dicukur lebih pendek lagi?”

Posted in cerita 1 halaman, cerita pendek, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Bayar Dulu Dong!

Keduanya asyik menyeruput strawberry juice dari gelas yang sama. Sama-sama mengenakan topi anyaman berwarna cerah. Pink dan kuning. Pilihan warna yang sepakat dengan cengir genit mentari di pantai. Aku memang mengamati keduanya sejak tadi. Dua wanita yang berkulit sewarna kayu manis. Keduanya berbikini. Garis dan polkadot. Beraninya mereka mengenakan topi daganganku tanpa membayarnya terlebih dahulu. Kuhampiri mereka dan kurenggut topi itu dengan wajah sebal yang tebal. Tiba-tiba darah mengucur deras dari anyir kulit kepala yang menempel pada kedua topi anyaman itu.

Aku tersengal-sengal lalu tersedak liurku sendiri. “Wake up Putu, jaga toko kok tidur” majikan buleku mengebaskan topi pink dan kuning yang sedari tadi kupakai menutupi wajahku dari cemooh sengit mentari.

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek, short story, Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Cerita Bebe

Di sebuah kota kecil bernama Tulisan, ada seorang anak lelaki yang gemar bercerita. Usianya belum genap 4 tahun. Suaranya lantang dan riang. Walaupun masih susah melafalkan huruf L dan R, Bebe, nama anak lelaki itu, tetap semangat bercerita.

Setiap kali ia bercerita, penduduk kota kecil itu mendengarkan dengan antusias. Sayangnya, tidak semuanya bisa duduk mendengarkan cerita Bebe karena kesibukan mereka masing-masing.

Satu pagi, kerumunan orang memadati toko roti di ujung jalan Huruf. Bebe sedang asyik bercerita tentang huruf M, O, B, I dan L yang berkendara melewati jalan layang baru yang menghubungkan kota Tulisan dengan kota besar bernama Buku. M si pemimpin rombongan, melaju dengan kencang. Bukan main gembiranya dia karena jalan layang itu ternyata benar-benar ‘bebas hambatan’. Tak ada lampu merah yang menentukan kapan ia boleh jalan dan berhenti. Huruf M melaju semakin kencang sembari melambai-lambaikan tangannya kepada keempat huruf lainnya yang bekejaran di belakangnya. Huruf O, B, I dan L tak kalah antusias. Keempatnya saling membunyikan klakson. Di hadapan mereka ada keempat huruf lain yang berjalan bergandengan T, R, U dan K. Tubuhnya besar sekali. Mungkin tiga atau empat kali lebih besar dibandingkan mereka berlima. M, O, B, I dan L serempak membunyikan klakson. Mereka sudah tak sabar sampai di kota Buku tapi tubuh T, R, U dan K menghalangi mereka. I yang bertubuh paling ramping dari keempat kawannya menyalip B, O dan M. Dengan mudah I juga dapat melampaui T, R, U dan K. “Hey, tunggu kami I!” M membunyikan klakson bertubi-tubi. “Kau harus tetap ada di belakang B”. Tapi I sudah melaju terlalu kencang dan tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh M.

I sudah tak sabar untuk sampai di kota Buku yang megah dan meriah itu. Sesampainya di sana, ada 3 gerbang bertuliskan MOBIL, MOTOR dan TRUK. Ia melaju dengan pasti ke gerbang pertama. MOBIL. Di sana, seorang pak polisi yang berkumis lebat menahannya. “Maaf sekali I, kamu tidak bisa masuk kota”

“Bagaimana mungkin? “ Tanya I tak percaya. Matanya berkaca-kaca karena lelah. Perutnya bergejolak ribut saking laparnya.

“Hanya setelah M, O, B dan L ada di sini bersamamu”

Tak lama berselang, I melihat T, R,U dan K memasuki kota. T mengedipkan sebelah matanya lalu mempercepat jalannya. Tenggelam dalam semarak kota Buku. I melengos, sebal sekali.

Di saat ia mulai terkantuk-kantuk, dilihatnya M, O, B dan L memasuki gerbang kota. M melongokkan kepalanya mencari dirinya.

Walaupun lega melihat keempat kawannya, I protes juga.

“Kenapa lama sekali sih?”

“Kami tadi berhenti dulu di depot bensin, istirahat sambil mengisi perut”

I menghampiri M, O, B dan L lalu berhenti tepat di belakang B.

“Biar lambat asal sama-sama dan selamat” olok B pada I

“Iya, maafkan aku ya teman-teman. Yuk kita segera menikmati kota Buku. Pasti seru sekali. Tapi sebelumnya, maukah kalian menungguku mengisi perut?”

Belum selesai I berbicara, bunyi perutnya ikut-ikutan protes tak sabaran. Keempat kawannya tertawa lepas.

Pak Polisi ikut terbahak dan membuat kumis lebatnya naik turun seperti layar panggung boneka.

Tepuk tangan dan sorak sorai di toko roti itu membuat pipi sepasang pria dan wanita bersemu merah. Sembari menyapa beberapa pengunjung toko, mereka menerobos ke tengah toko. Menemukan Bebe dan mengecupnya lembut di dahi dan kedua pipinya.

“Sudah selesai ceritanya?”

“Sudah papi, mama, sekarang waktunya pulang kan?”

“Ya, hari sudah sore. Waktunya mandi dan…”

“Menuliskan cerita tadi kan?”

Bertiga mereka bergandengan tangan pulang ke rumah. Selepas mandi sore dan makan malam, Bebe akan menceritakan kembali perjalanan M, O, B, I dan L ke kota Buku sementara ibunya mengetikkan cerita itu untuk perpustakaan kecil di kota Tulisan. Nah, kini lebih banyak lagi orang yang dapat menikmati cerita Bebe. Kapan pun mereka mau.

Posted in cerita anak | Tagged | 1 Comment

Roman Aroma

Suaminya mendengkur di sebelahnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamar. Begitu setiap kali lelaki yang telah menikahinya sebelas tahun lalu sesap dalam lelapnya. Ia beringsut mendekat. Menghirupnya dalam-dalam. Sedalam keinginannya mengabadikan aroma tersebut dalam botol-botol porselen kecil di dalam laci meja riasnya. Berkali-kali ia mencoba tapi semuanya gagal sempurna.  Botol-botol tersebut mendadak mengeluarkan aroma yang bukan main busuknya setiap pagi menjelang.  Saking busuknya, mawar aneka warna yang diletakkannya di pot-pot kecil di dekat jendela kamar sepakat melayu dan mati. Begitu pun ikan mas koki di toples kaca yang diletakkannya di sisi tempat tidur. Mati. Semuanya. Kecuali dirinya.

Ia memilih tidur di siang hari. 4 atau 5 jam saja demi menghirup aroma cendana dan limau semalaman, sesubuhan, hingga tiba saatnya suaminya terjaga dari tidurnya. Awalnya ia sampai harus mengenakan masker penutup hidung di pagi hari sembari menyiapkan air panas bakal mandi suaminya, memasak sarapan untuk mereka berdua dan memakaikan suaminya kaos kaki dan sepatu. Lama kelamaan ia jadi begitu terbiasa. Yang perlu dilakukannya adalah menghembuskan kembali sesap aroma semalam, sedikit demi sedikit. Setelah sekian lama, ia jadi semakin mahir berhemat. Ia sanggup menahan nafas lebih lama, dari hari ke hari. Keinginannya untuk memelihara ikan-ikan hias yang lucu atau seekor anggora sudah dibuangnya jauh-jauh ke semak belukar di negeri seberang.  Kerinduannya untuk menanam mawar aneka warna pun sudah dibenamkannya dalam-dalam di pekuburan massal antah berantah.

Aroma busuk yang tajam akan menyerang lebih hebat saat ia menerima tamu di rumah mereka. Tak seorang pun bertahan lebih dari semenit. Tak butuh waktu lama, para tetangga pun mulai menggunjingkan aroma busuk yang keluar dari rumahnya. Lalu perlahan dan pasti, aroma busuk itu pun sampai ke seluruh penjuru kota dan segera jadi tajuk berita di harian pagi kota mereka. Bantuan dikirimkan. Surat pembaca bernada prihatin dilayangkan. Doa dirapalkan untuknya. Hari ini suaminya tak kunjung terjaga dari lelapnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamarnya, merayapi kampung, lalu sampai ke seluruh pelosok kota dan negeri. Karangan bunga dikirimkan. Ucapan selamat dilayangkan, puji dan syukur dilantunkan. Jauh di dalam hatinya ia tahu, tak butuh lama baginya untuk merapal doa dan serapah berganti-gantian demi mendapatkan aroma busuk itu kembali di sini, menemaninya terjaga dan mengantarkannya dalam lelap yang tak memiliki tepi…

Posted in Cerita 1 Halaman, cerita pendek, short story | Tagged | Leave a comment

My article published today. Drop by and comment [Guest Post] On Reading and Dreaming, Relentlessly – Read.Learn.Write | Read.Learn.Write

http://readlearnwrite.com/guest-post-on-reading-and-dreaming-relentlessly-2/

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Intrecciato hobo with copper handle

image

Morning, idea!
Idea pops up like old buddies, sneaks in like lovers. No, you will never be married to one. That would bring you ages of bad luck. You want to marry the person, not the idea of him or her. Anyways, idea to me is like a cheater. It refuses to stay in what-i-thought-is sexy head. It wanders, greets other people and flirts with them. And right before that other people find comfort in snuggling even deeper, idea will sneak out in a smirk. Sly, wicked, lustruous idea, you are worth the wait!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Intrecciato hobo with copper handle

image

Morning, idea!
Idea pops up like old buddies, sneaks in like lovers. No, you will never be married to one. That would bring you ages of bad luck. You want to marry the person, not the idea of him or her. Anyways, idea to me is like a cheater. It refuses to stay in what-i-thought-is sexy head. It wanders, greets other people and flirts with them. And right before that other people find comfort in snuggling even deeper, idea will sneak out in a smirk. Sly, wicked, lustruous idea, you are worth the wait!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pencerita adalah Busur. Interview bersama @IDcerita

http://blog.indonesiabercerita.org/?p=8

Posted in interview, meracau, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Om Baik Hati

Demi putri semata wayangnya, Lydia berhenti peduli pada omongan orang. Asal Arimbi bisa sekolah, makan cukup dan tidak berakhir seperti dirinya. Itu saja.  Kesendirian juga sudah berhenti mengusik pun menelisiknya. Asal Arimbi tetap berceloteh riang sepagian sebelum berangkat ke sekolah, lalu semalaman sebelum mereka kembali terlelap sembari berangkulan.

Demi putri semata wayangnya, sore ini Lydia setuju dipertemukan dengan om Baik Hati. Demikian Arimbi memanggilnya. Om yang rajin membawakan Arimbi penganan kecil dan sari buah tiap pulang sekolah. Lelaki itu berkumis lebat, bersenyum karamel, berjaket tebal. familiar. Pelanggan tetap,  seorang sado-masokis yang kerap memukuli dan minta dipukuli oleh PSK binaannya di Wisma Rindu. Wisma yang selama ini menghidupi dirinya dan putrinya.

Posted in 111kata, Cerita 1 Halaman, cerita 1 halaman, cerita kilat, cerita pendek, short story | Tagged | 1 Comment

Kedai 1001 Mimpi: Tamparan Penuh Gelitik

Kedai 1001 Mimpi dituturkan oleh Valiant Budi atau lebih dikenal dengan @vabyo, dengan gaya yang segar. Kisah nyatanya selama menjadi TKI di Saudi penuh dengan kejutan-kejutan yang membuat kita mengelus jenggot, dada, sampai perut kita. Kejadian demi kejadian yang miris dan bikin hati makin kempis dituturkannya dengan kocak.

Nadanya sangat ‘comical’ dan positif, tidak menghujat apalagi menggurui. Seakan menertawakan duka dan kesialan sehingga mereka jengah sendiri karena gagal mendapatkan reaksi yang seharusnya. Alurnya pun cerdas mengalir, seakan-akan kita duduk tak terlihat di antara pengunjung Sky Rabbit, atau di antara para baba yang merem melek menyaksikan Eldo mencumbu tiang lewat liuk tarinya.

Sebagian dari kita, mungkin merasa tidak nyaman, bahkan marah setelah membaca kisah Vabyo. Gambaran tentang Saudi, khususnya manusia-manusianya memang jauh dari bermartabat. Gambaran yang berusaha dituturkan Vabyo dengan humoris untuk menempatkan ironi pada sorot lampu, mungkin?
Sebagian dari kita bisa jadi merasa terganggu karena kesulitan memisahkan Saudi dan Islam sebagai entitas berbeda. Apa yang dialami Vabyo, bisa menjadi bahan bercermin, bahwa bias dan stereotyping memang mengalir terlalu pekat dalam nadi sebagian besar dari kita. Di satu sisi kita menolak untuk bertanggung jawab atas tampilan identitas bangsa, ras dan agama kita, tapi di sisi lain, dengan mudahnya kita menarik kesimpulan negatif tentang bangsa, ras, agama tertentu dikarenakan aksi minus individunya.

Buku ini menampar gelitik kita, untuk tidak melarikan diri atas nama kebebasan berpendapat dan berkeinginan, dari tanggung jawab sebagai bagian dari entitas yang lebih besar. Tempat kita dilahirkan, bernaung, dan beriman.
Memang dunia, bahkan kita sendiri pun tanpa sadar terhibur dengan cemar orang lain. Lalu kita pun khilaf membiarkan cemar kita pun jadi bahan olok-olok dunia. Suka atau pun tidak, kita harus merelakan pundak kita lebam-lebam demi nama baik bangsa, ras dan agama kita. Benar kata Vabyo, pengalamannya semasa di Saudi tak akan didapatkannya di universitas manapun. Dan sayapun mendapat pencerahan dengan sensasi ngakak bonus hati miris yang tak mungkin didapatkan di manapun, selain di Kedai 1001 Mimpi

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment