Dekonstruksi Kesedihan dan Ketakberdayaan atas Waktu dalam Puisi Agus Noor

Puisi Agus Noor dalam Buku Puisi Ciuman adalah jembatan asa. Yang tak kunjung ikhlas untuk diputuskan. Keras kepala berpanjang-panjang. Menolak untuk cengeng tapi tak takut terlihat peka. Kaya eksplorasi panca indera. Pembaca mendapatkan ruang imajinasi yang bukan hanya luas, melainkan tanpa batas.  

Buku puisi ciuman didominasi karya-karya roman yang jujur tapi tidak cengeng. Kekuatan satir dalam puisi-puisinya mungkin yang jadi daya tarik. Dengan bahasa yang sederhana,  Agus Noor mengajak pembaca menertawakan luka, mengolok-olok derita kemudian menggumulinya hingga senja datang. Seperti ungkapnya pada Jazirah Kenangan “senja, kau tahu, selalu menjadi semacam perpisahan. Nun di sana seseorang melambai, tetapi kita tak pernah tahu apa maknanya” Puisi-puisinya seakan jadi pengingat betapa kita terlalu sibuk mencari-cari makna ketimbang memaknai waktu. “waktu, cintaku, bukanlah kosmetik kecantikan Waktu ialah caramu memberi harga pada kehidupan. Seperti tungku, waktu, mematangkan jiwamu Dan cinta tak pernah menjadi masa lalu” Demikian petikan dari puisi Percakapan yang jadi pembuka dalam buku puisi Ciuman.   Dengan caranya yang unik mengakrabi luka dan ketakberdayaan,  Agus Noor merayakan hidup dan cinta dengan keras kepala namun syahdu. Paradigma kesedihan dan ketakberdayaan manusia terhadap waktu dirubuhkan sekaligus dalam Jazirah Kenangan di mana ada pohon kata, dan waktu bisa kita putar ke berbagai arah. Mendadak kita punya kendali atas takdir, atas cinta dan atas luka. Kesedihan pun jadi kenangan, yang tinggal lebih lekat pun keras kepala. Bahkan cinta pun dihidupi luka.  

Agus Noor banyak bermain dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensialis tentang diri, takdir, cinta dan Tuhan. Puisi-puisinya mengusik karena tidak menyimpulkan. Utasan tali dibiarkan terurai, untuk penikmatnya.   Dalam banyak karyanya Agus Noor sarat dengan satirnya. Sindiran-sindiran konstruktif aspiratif dengan tema politik. Puisi-puisi romannya sarat dengan kesendirian namun tidak cengeng. Cenderungmenertawakan diri dengan sangat amat jujur, seperti yang didapati pada Tentang Seorang Penyair yang Ingin Menulis Sajak Cinta, Agus Noor mengolok-olok kekonyolan seorang penyair yang sedemikian inginnya menulis sajak cinta yang terbaik di antara sajak-sajak yang dengan mudahnya ditulis oleh presiden, politisi dan artis. Lagi-lagi ini juga sebuah satir yang mengundang gelak. Juga pada Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya. Puisi yang sarat humor dan satir ini menceritakan tentang seorang penyair yang begitu terobsesi dengan telepon genggamnya, yang diperoleh dari hasil tabungan duka. Simbol pencapaian dan jembatan sang penyair dengan ‘dunia’.  Adiksi terhadap telepon genggam adalah potret dari realita sosial yang tak terhindarkan. Bahkan penyair yang ‘tadinya’ dan ‘katanya’ baru bisa dikatakan penyair bila punya banyak deposito duka dan jauh dari kesan ‘duniawi’ dan ‘canggih’ justru menghabiskan tabungan dukanya ditambah berhutang demi membeli sebuah telepon genggam. Telepon genggam yang kemudian menjauhkannya dari realita yang jadi sumur dukanya. Telepon genggam yang dituhankannya.

Buku puisi ini dilengkapi ilustrasi-ilustrasi imajinatif, sepadan dengan karya-karya Agus Noor di dalamnya. Puisi yang mengeksporasi kesedihan sampai ke lapisan nyeri yang paling luka lalu mengakrabinya. Puisi-puisi yang mengusik pembacanya, untuk melihat takdir, waktu, kesedihan dan cinta dengan cara yang berbeda. Seperti Ciuman, yang Menyelamatkan dari Kesedihan.

About these ads

About novitapoerwanto

Aku @LVCBV. Salah satu penulis dari buku 100 kumcer dan 9 DVD filmini CEMBURU ITU PELURU. Tentang Kisah Lima Hati. Seorang Pengendara mimpi. Kekasih malam. Mari sembunyi di antara gugusan bintang bersamaku. Lalu bercinta di atas gulungan papirus
This entry was posted in agusnoor, buku, puisi, Review, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s