RATAP LEBAM PIGURA

Posted: August 17, 2010 in Cerita 1 Halaman
Tags:

RATAP PIGURA. Seragam kebesaran ayah. Seringai linting kumisnya. Berlatarkan bilur ibu dan lebamku

Ibuku berimankan pelukan. Bapakku pada bogem mentah.
Setiap hari ada saja yang membuat marah Bapak. Mulai dari kopi yang terlambat diseduh, warnanya terlalu pekat, sampai pada cangkirnya yang kurang besar.

Setiap hari juga aku melihat Ibu sabar memeluknya. Kadang iman ibu membuahkan hasil. Bapak menunda kemarahannya. Si jahanam itu menyeret Ibu ke kamar untuk memuaskan nafsu binatangnya.

Sore itu tadinya hening sempurna. Aku asyik menyiangi rumput di halaman. Ibu tak enak badan. Beliau batuk-batuk sesorean. Tiba-tiba “buk” “praaang” Bapak melempar panci ke muka Ibu karena terlambat memasak nasi. Darah mengucur dari pelipis ibu. Bukannya lari, atau menghindar, setengah menyeret kakinya yang lebam ditendangi Bapak semalaman, Ibu menubruk Bapak dan memeluknya erat. Lebih erat dari biasa.

Kali ini aku tak peduli. Sekalipun Ibu harus serta.

Comments
  1. Oddie says:

    Suka banget yang ini!
    Ini baru cerita yang terus bercerita di kepala pembaca walau kalimat telah berakhir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s