“KACA MATA PAMUNGKAS. Kukenakan air mata. Mencari kelebatnya dari balik genangan. Bukan Dia, tapi hatiNya”

Suster Magda, begitu aku memanggilnya. Perawakannya kecil dan lincah, berkaca mata tebal dan berpipi tembam. Sudah sebulanan ini ia membimbingku mencari Tuhan, di kotak makanku, pada kelakar pak kebon biara, pada debu halaman sampai pada musik keroncong dalam perutku. Di mana-mana!

Walau ada di mana-mana, sebenarnya Tuhan nggak kemana-mana. Dia bersemayam di hatiku. Aku mengangguk saja, berlagak paham. Suster Magda tersenyum sembari membetulkan letak kaca mataku.

Hari ini suster Magda tak berhasil kutemui di biara. Mereka bilang kanker telah menjemputnya sesubuh tadi. Kamu tahu, di mana kanker itu bersemayam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s