“Jangan tanya apa saja yang ku ingat. Coba ingat apa saja yang kau rasa”

Anak lelaki itu lelah mengaduh. Air matanya lebur dengan liur dan darah yang menggenang di keramik. Perempuan itu terus mengayunkan gagang sapu pada punggungnya, nyaris tanpa jeda..

***

Perempuan itu mengerang perih. Lebam pada lengan dan dadanya tak membuat lelaki tua bangka itu berhenti menendanginya. Ia meludah pada isak iba perempuan itu.

***

Tahun berselang…

Lelaki muda itu membanting pintu, keras. Paku-paku yang tertancap pada tubuhku nyaris berluruhan. Perempuan itu mengumpat. Suaranya gemetar. Sejurus kemudian, lelaki muda itu kembali memasuki kamar. Dijambaknya rambut yang mulai memutih itu, lalu membentur-benturkan dahi perempuan yang mulai keriput itu kepadaku. Berkali-kali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s