“Kapas merah jambu dan awan biru. Pada lidahnya, yang muda belia”

Pedagang gulali itu kira-kira seusiaku. Tubuhnya tegap, parasnya hangat, sapanya ramah, cenderung jenaka. Anak-anak di kampung ini mencintainya. Mungkin melebihi cinta mereka pada gulali jualannya.

Siang ini, gadis kecil berkuncir kuning dapat giliran duduk di pangkuannya. Ia tergelak-gelak menggemaskan. Rok lipitnya tersingkap setiap kali ia mengayun-ayunkan kakinya. Pedagang gulali asyik mendongeng. Antrian semakin panjang.

Tak lama berselang, pedagang gulali ganti memangku anak lelaki bercelana kotak-kotak. Kulihat si kuncir kuning berjalan ke arahku. Gulali merah jambu kebiruan di tangannya. Lidahnya dibenamkan dalam-dalam di sana. “Hai anak cantik, ikut om yuk. Om punya gulali yang jauh lebih lezat”. Kupastikan ia tak sempat menjawab, apalagi menjerit.

Comments
  1. fita says:

    aku suka ini mbak….
    bikin merinding, tp suprisenya dapet..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s