Pigura di atas piano itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Bahkan bingkainya hanyalah replika kayu. Terbuat dari plastik hasil daur ulang. Ah daur ulang, dia selalu punya ketertarikan berlebihan pada ide daur ulang. Menurutnya, lebih baik mengorbankan estetik ketimbang esensi. Walaupun pigura itu tak indah dipandang mata, fungsinya toh tetap sama, membingkai foto. Fotolah yang seharusnya menjadi pusat perhatian, bukan pigura.

Masalahnya, tak ada lagi foto yang terbingkai di sana. Pigura itu semakin plastik, merusak tampilan grand piano berkayu eboni nan pekat mewahnya. Ajaibnya, tak satu pun orang di rumah ini yang terpikir memindahkannya. Mereka pun lebih peduli pada esensi rumah sebagai tempat berdiam, persetan dengan estetik.

Sudah hampir 40 hari aku di sini, berharap satu dari mereka menemukan foto ini. Agar pigura itu setidaknya punya esensi, di antara cemooh estetika.
Selama itu pula, tikus dan belatung berpesta pora di antara sisa daging pada rusukku. Mereka melengos tak sudi pada foto hitam putih pada sakuku. Fotonya dan diriku, di pelaminan. Esensi yang terlambat kukenali, karena kamu. Kamu yang menjual pendaran bintang dan warna jambon gulali… estetik

Comments
  1. rina says:

    awalnya bs kuikuti dg baik..cm di paragraf terakhir aku rada bingung…’-ku’ pada kata ‘sakuku’ tuh merujuk ke orang si empunya foto ato pigura lain yg membingkai si foto hitam putih itu? agak rancu menurutku…

    but overall, menarik idenya…keep writing, Pek…
    (jd pengen nulis min2 gini jg hehehe)

    • Hahaha tks rin.. btw baca lagi. are u sure itu penceritanya adalah kanvas dan pigura? it is not. baca lagi. emang free interpretation, tapi ‘aku’ itu bukan foto bukan pigura. Penceritanya adalh ‘aku’, lalu ada kamu dan ada dia, ketiganya di luar pigura dan foto (nggak ada personifikasi di sini, foto adlh foto, dan pigura ya pigura)

  2. rina says:

    anjrittt…kayaknya aku terlanjur mikir dari awal baca judul, ‘aku’ tuh bukan orang, alias si piano…hahahaha…iya nih, mesti ati2 bacanya…cooooll…

  3. Hai bulik🙂 setelah ‘hanya’ mengendap dan mencuri pandang, aku putuskan untuk meninggalkan jejak di sini. Sebelum aku menjadi ‘aku’ dalam cerita, karena pasti tikus dan cacing akan sangat menyukai aku yg menjadi ‘aku’ nanti. Esensi? Seperti yang banyak orang lupakan dan sibuk menipu dengan binal dan menghitung-hitung. Tulisan yang baik, tentu ditulis tanpa melupakan esensi dan aku merasakan ‘esensi’ itu.. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s