“Ibunya hanya berkedip sekali. Begitu setiap kali. Seteguk saja pintanya.. Tapi ibu hanya berkedip. Setiap malam, sekali saja” @fiksimini

Usianya belum lagi 10 tahun. Tubuhnya semampai, lebih tinggi dari teman-temannya sebaya.  Lekuk pinggulnya mencuri decak kagum, ranum dadanya mengundang desis iri. Sepagian ia menangisi Kejora, ibunya. Dan angin, yang konon ayahnya. Sesiangan ia meratapi tanyanya. Semalaman ia menandak-nandak. Sebelum pil lelap dijejalkan pada kelu lidahnya. Begitu setiap hari.

Namanya Lintang. Ia terlahir di bawah bintang. Kejora, ibunya. Angin lah ayahnya.  Setahun kemarin, kami teman sebangku di kelas tuna rungu dan tuna wicara. Sebelum mereka membawanya ke sini, tempat di mana jiwa bertukar rupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s