Jari-jarinya tak pernah utuh merabai tengkukku. Sepertinya dia sengaja melewati bagian itu. Entah kenapa dia lebih suka meremas rambutku dari bawah ke atas. Setengah menjambak. Bukan, ini bukanlah reka ulang paska bercinta. Sama sekali bukan. Kami tak perlu bercinta untuk merayakan cinta. Hai, kamu yang mencibir.. dengar dulu. Kamu tak harus sependapat. Sama sepertiku yang dulunya tak sepakat pada hatiku.

Hatiku selalu jatuh terburai-burai pada pria-pria kantoran berkaca mata. Bercelana pensil dan berkemeja necis. Pria sempurna yang pantas bersanding dengan kecerdasanku.  Benakku membayangkan percintaan ekspres di ranjang setiap pagi sebelum kami orgasme prestasi di kantor masing-masing.  Satu dua lelaki seperti itu sempat mampir di ranjangku. Satu dua hari saja nikmatnya. Yang kutahu, mendadak aku tak lagi punya waktu dan remah selera untuk mereka.

Seperti malam-malam sebelumnya, aku baru beranjak meninggalkan kantor saat semuanya sudah pulang. Bukan hanya sekali dua aku bahkan sampai menginap di kantor. Lalu datanglah hari yang mempertanyakan segala. Orang baru di kantorku.  Tak berkaca mata, tak bercelana pensil dan berkemeja necis. Juga tak terlihat cerdas. Aku bahkan mulai bertanya-tanya, siapa manusia tolol yang merekrut seorang seperti dia. Dia tak membuang pandang. Tak rikuh sama sekali. Aneh, hampir semua karyawan baru mengaku terintimidasi olehku.

Ia memperkenalkan diri, singkat. Lalu bercerita, hangat. Tanpa sadar, aku mulai masuk dalam kisahnya. Hei, aku kah itu yang kau kisahkan? Benang merah itu terlalu berisik mengusik. Aku mulai panik dan menyudahi malam.

Sebulan menghindarinya ternyata tak pernah ampuh membunuh gusarku. Aku mau dengar kisahku, kisahku yang terselip pada kisahnya. Ada rasa nyaman di antara gelisah pada kulitku.  Meronta ingin didengar, disatu tubuhi dalam kisah jujur tanpa gelenyar sesaat.  Kisah yang teraba rasakan hati, bukannya ide semata, yang menguap pengap usai lenguh dan gelinjang yang bersusul-susulan.

Malam itu ia kembali berkisah.  Jari-jarinya tak utuh merabai tengkukku. Sepertinya dia sengaja melewati bagian itu. Entah kenapa dia lebih suka meremas rambutku dari bawah ke atas. Setengah menjambak. Bukan, ini bukanlah reka ulang paska bercinta. Sama sekali bukan. Tak ada percintaan di sini, apalagi perayaan. Tak ada stilettos yang berhamburan ataupun pencil skirt yang terburu singkap.  Rambut kami sama tergerai. Cepol kecilnya, dan kuncir kudaku sepakat tak lagi serta. Ada keriaan yang sama, kerinduan yang pulang, dan hati yang sepakat.

 

Comments
  1. @dedirahyudi says:

    Sedaaaaaaaaaaaaaaaap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s