IKUT-IKUTAN. Setiap ia mulai ikut mendongeng, aku justru terjaga. Memang sulit membungkam tokoh dari bab III itu @fiksimini


Sengaja tak kunamakan Dia. Lagipula sungguh tak terpikir apa nama yang cukup menggambarkan dia. Dia memang kuhadirkan dengan sengaja. Saat Khalid tersesat dalam kumparan labirin memorinya. Tentang dendam masa kecil yang berkilat-kilat, ketertarikan yang tak pantas, masa remaja yang meragu, dan perjalanan yang pernah dan tak sempat.

Cerita ini memang seharusnya tentang Khalid. Bukan tentang dia yang sengaja tak kunamakan. Baiklah kita sepakat menyebutnya dengan Dia.

Sebentar lagi pasti ku dipanggil turun. Kusimpan mereka rapat-rapat di dalam netbookku, mengamankannya dengan kata kunci yang bahkan Dia pun tak kan tahu, menuruni anak tangga, langsung menuju kapel kecil di susteran. Hampir saja aku terlambat. Suster Anabel, Maria, dan Agnes telah menungguku di barisan paling depan. Mengiringi mereka dalam perayaan misa sudah kujalani sejak aku masih berusia 7 tahun. Ketiga suster itu dan suster-suster lainnya berganti-gantian merawatku sejak kecil. Mereka pula lah yang memanggilkan guru mengaji untukku, menyiapkan dan menemaniku sahur setiap ku berpuasa. Oh ya, namaku Khalista. Orang tuaku bosan menyiksa dan menjajakan diriku yang tak kunjung laku, lalu meletakkanku begitu saja di depan pintu susteran ini, 20 tahun yang lalu. Tepat saat kuhadirkan Dia, yang setia menidurkan Khalid di dalam bilik usang bernamakan DOSA.

Comments
  1. @dedirahyudi says:

    C’est superb!!!!! :”(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s