(Tak Mau) Pergi

Posted: November 29, 2010 in cerita pendek
Tags:

Dengkurnya mencipta notasi pilu di telingaku. Bulir keringat di dahinya meluncur turun bersamaan dengan hatiku yang berceceran. Putraku tertidur lelap. Lihatlah dia bahkan masih memakai bantal biru kumal kesayangannya. Bantal bersulam namanya yang kurajut semasa ia masih dalam kandungan. Ah, betapa waktu lincah bermuslihat.. terlalu lincah hingga aku pun tak lagi tahu apa yang kulihat dan yang tidak.

Setiap malam kumenemaninya tidur, lalu pergi diam-diam sebelum matahari menjemputnya paksa dari pelukku. Setiap malam kudongengkan ia tentang Andai dan Sesal. Seperti biasa, ia asyik dengan bacaannya sendiri. Ensiklopedi antariksa dan dinosaurus. Seperti biasa, aku membelai kepalanya, mencoba mengerti.
Selama itu pula ia terlihat menerawang jauh, lalu, oh.. Ini sungguh merajang hatiku beremah-remah, ia menitikkan air mata. Satu dua titik saja, lalu disekanya cepat dengan bantal biru kumalnya. Tak lama ia pun lelap, seperti sekarang. Dan tak lama berselang, aku akan mereka ulang awal penciptaan dongeng Andai dan Sesal itu, seperti sekarang.. ya, seperti sekarang.

Rekaan yang sama, setiap malam, bermalam-malam. Malam itu, 5 tahun lalu, tangis yang sama membulir di pipi tirusku. Sampai saatnya ia letih membulir dan memilih mengerat di hati. Hati di mana dulu ia berdiam, suamiku dan aku, sebelum raganya hengkang. Tubuhku masih menjejak, tapi hati dan kepalaku tak lagi. Pernah satu kali aku berjalan di antara pecahan kaca. Telapakku berdarah-darah pekat membekas di ubin putih, tak sedikit pun kurasa perihnya. Aku pun pernah melompat ke kolam 4 meter dan merasa begitu nyaman di kedalaman yang berebut merengkuh ngiluku. Aku tak berontak sama sekali, hingga penjaga kolam melompat dan menggeretku naik. Bukan sekali dua kali teman-temanku menyeretku paksa ke aneka terapi, mulai dari belanja, jalan-jalan, minum-minum, obat penenang, psikiater, kebaktian kebangunan rohani, doa pelepasan, doa novena, dan aneka doa lainnya. Bukan sekali dua kali pula aku mencoba-coba dan bertaruh dalam hati, mana yang paling manjur. Taruhan luar biasa konyol yang jawabnya sudah kuamini bahkan sebelum menjajal aneka terapi itu, ‘tak satu pun’. Ya, tak satu pun yang mampu menghidupkanku kembali. Bagaimana mungkin mereka menjejaliku dengan aneka terapi sementara yang kubutuhkan hanya suamiku?  Sudahlah tak usah aku berpanjang-panjang tentang cinta yang menagih ditagih, saling ketagihan. Yang kutahu, hatiku mendadak kosong, juga kepalaku terasa tanpa isi.  Pernahkah kamu merindu hingga ngilunya tak lagi tertahankan? Sakit hati hingga pedihnya bertalu talu?

Sore itu,  5 tahun yang lalu, aku terkapar di kamar karena demam. Putraku menangis meraung ribut di kamarnya. Di telingaku, raungan dan isaknya berubah jadi semacam dengung lebah yang meninabobokkanku. Lalu kutenggak minuman kaleng di sisi tempat tidurku. Mengosongkan botol tablet di tanganku, dan menandaskan isi minuman kaleng tadi hingga buihnya membasahi daster tuaku. Selanjutnya waktu berhenti bermuslihat. Seakan jengah meledekku, ia tinggal diam, terpaku di langit-langit kamarku. Lalu kulihat putraku membiru karena tangis yang tak putus asa, tangan dan kaki kecilnya tak lagi menggapai-gapai. Lalu tetangga mendobrak masuk dan mengangkutnya ke rumah sakit, dan hey mereka juga menandu seorang wanita berpipi tirus nan ringkih berdaster kumal. Itu kan…aku?

Putraku membalikkan badan dan menguap lebar. Kami beradu pandang, setidaknya kupikir demikian. Karena tersenyum pun ia tidak, apalagi menyapaku ibu. Matahari hampir turun, merenggutnya paksa dari dekapku. Sebentar.., tolong, sebentar lagi saja. Lalu ia menatap mataku, tepat di sana. Ada bulir yang menggenang tenang di pelupuknya. Pelan ia melafal tanpa suara “Ibu?”.  Kemudian pintu itu terbuka, sesosok wanita bersenyum indah membungkukkan tubuhnya dan mengecup putraku. “Nggak bisa tidur lagi, sayang?”. “Iya ma, Abi kangen ibu”. Wanita itu mengusap-usap dahi putraku teduh. “Ayah juga?” Putraku mengangguk kencang. “Ya sudah, sini mama temani berdoa. Abi harus rajin berdoa untuk ayah dan ibu Abi ya, agar keduanya tenang di surga”

Comments
  1. omcalip says:

    “Ya sudah, sini mama temani berdoa. Abi harus rajin berdoa untuk ayah dan ibu Abi ya, agar keduanya tenang di surga”
    (mengernyit).
    Abi ini adik ato anak tiri si wanita ya mba?

  2. omcalip says:

    “Ya sudah, sini mama temani berdoa. Abi harus rajin berdoa untuk ayah dan ibu Abi ya, agar keduanya tenang di surga”
    (mengernyit).
    Abi ini adik ato anak tiri si wanita ya mba? or i miss the spirit of story?

    • detail itu sebenarnya nggak penting di sini🙂 bisa ibu tiri, bisa ibu angkat bisa siapa saja yg sekarang jadi n’mama’ untuknya. Feel the story without minding so much about the details. Gd luck😉

  3. Bukik says:

    Tetap jadi misteri sampai akhir
    emosinya kena
    rasionya bertanya-tanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s