Weekend Getaway: Singapore 29-31 October 2010

Posted: December 4, 2010 in jalan-jalan
Tags: , , ,

Rasanya mengasyikkan membuat rencana-rencana perjalanan spontan dengan sahabat. Bertiga dengan sahabat saya, kami tergila-gila dengan liburan spontan untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas harian. Kami datang dari 3 latar belakang pekerjaan yang berbeda. Sahabat saya Indria bekerja sebagai seorang desainer interior, Melia adalah seorang desainer grafis sementara saya adalah seorang banker. Karena judulnya pelarian di akhir minggu aka weekend getaway, destinasinya selama ini tidak lebih jauh dari Bali. Hanya kali ini kami memutuskan SINGAPORE!!! Selain karena perjalanannya relatif pendek (hanya 1.45menit sub-sin), kami sudah tidak sabar membelanjakan nyali kami di coaster-coaster seru di Universal Studios, mengunyah durian pancake yang adiktif di Far east plaza, menyesap latte dan mungkin sedikit bir di Clarke Quay dan berdansa dengan kostum di malam Halloween!

Kami berangkat dengan menggunakan maskapai China Airlines. Sejak rute Sub-Sin dibuka oleh maskapai ini sekitar 2 thn lalu, saya berhenti naik maskapai lain setiap ada perjalanan dinas maupun pribadi ke Singapore. Jadwal berangkatnya memang pagi buta. Jam 0600 pagi! Saat mata masih belum ikhlas membuka. Jam kepulangan dari Singapur pun sangat larut: 2155. Tapi dengan demikian kita punya waktu yang lebih banyak di tempat tujuan. Benar-benar jadwal yang pas untuk buronan akhir minggu seperti kami yang ‘nggak mau rugi’!

Untuk tempat menginap, kami memilih Ibis di Bencoolen street. Selain harganya yang sangat murah untuk hotel di singapur (sekitar 110 sgd atau idr 700rb), lokasinya juga sangat strategis di belakang daerah perbelanjaan Bugis. Selain dekat dengan Bugis Junction, pertokoan berbentuk indoor dan outdoor yang berpendingin ruangan, daerah Bugis juga memiliki Bugis Street Market. Pasar yang gaya karena pilihan fesyen dan jajanan jalan dengan harga super murah. Rata-rata baju dan sepatu trendy di sana hanya dipatok 10sgd per item yang berarti kurang lebihnya hanya 70rb rp saja. Di sana juga banyak sekali suvenir khas singapur yang dijual dengan paketan ‘10sgd for 3’. Atraksi lain di daerah seputar hotel adalah jajanan jalannya yang seru di dekat Lau Pa Sat. Banyak food center yang berharga miring 3-5sgd saja untuk sepiring char kwey tiauw, laksa dan kawan-kawannya.

Lokasi yang sangat dekat dengan Bugis ini juga memudahkan kami melompat ke sana kemari karena ada MRT Bugis di bawah pertokoan Bugis Junction.

DAY ONE, Friday 29 Oct 2010

0910:     mendarat di Changi International Airport, terminal 1.  Buru-buru beli simcard lokal Starhub yang terkenal paling murah dan banyak gratisan sms+teleponnya, dan juga pnya paket Blackberry service yang paling efisien.  Lalu meluncurlah kami dengan taksi Comfort menuju Ibis bencoolen (sekitar 15sgd, sudah termasuk surcharge dari airport yang sebesar 5sgd)

1030:     Check in di Ibis yang luar biasa ekspres. Tanpa menunggu lama dan langsung bisa menikmati kamar aksi minimalis kami.  Foto-foto sejenak (yang ini ‘by default’. Ada yang tak biasa bila kami tak berfoto kronologis, atau lebih tepatnya mengada-adakan alasan untuk berfoto setiap saat secara terperinci J)

11.00:    Kami sampai juga di MRT Bugis yang hanya berjarak kira-kira 5 menit berjalan kaki dari hotel. Kami memutuskan untuk membeli Eazylink card untuk masing-masing yang akan memudahkan kami melompat kesana kemari keliling singapur dengan MRT. Eazylink card adalah kartu pass untuk naik MRT yang bisa diisi ulang. Biayanya lebih murah ketimbang kita membayar ‘lepasan’ atau per destinasi di mesin tiket. Kami memutuskan membeli Eazylink card dengan nominal terendah dahulu (dasar pelit!) yaitu 10sgd. Tujuan pertama kami adalah Universal Studios! Alasannya adalah karena hari itu hari Jumat yang pastinya tidak akan sehiruk pikuk Sabtu. Untuk sampai ke Universal Studios yang terletak di Sentosa Island, kami harus berkereta sampai ke Harbour Front. Rutenya, dari Bugis kami harus ke stasiun interchange (percabangan rute). Rute Bugis adalah line hijau yang menghubungkan sampai ke Changi airport, sementara Harbour Front adalah line ungu. Kami turun di stasiun MRT Outram dan pindah ke line ungu dengan tujuan Harbour Front. Dari sana, kami tinggal berjalan sedikit saja dan masuk ke dalam pertokoan megah Vivo City. Kereta ke Sentosa/ Universal bisa ditemukan di lantai 3 pertokoan itu. Asyiknya, kartu Eazylink kami masih tetap bisa digunakan untuk kereta menuju Sentosa/ Universal ini yang notabene bukan MRT.  Kurang dari 5 menit sampailah kami di pemberhentian Universal. Benar dugaan kami, antrian nyaris tak ada, kami membeli tiket bahkan tanpa mengantri. Harga tiket terusan yang dipatok cukup masuk akal, sekitar 70 sgd per orang yang sudah termasuk voucher 5 sgd off untuk makanan di dalam area Universal Studio dan 5 sgd off lagi untuk merchandise.

Walaupun dibekali peta lokasi dan wahana, kami memutuskan untuk menikmati langsung dan melompat ke dalam wahana apa saja yang kami lewati. Selain itu, areanya juga tak seluas bayangan kami. Hanya 1 putaran saja (mudah tak berkelok-kelok jadi semuanya pasti dilewati) dan tak kebih dari 20 wahana di dalamnya. Selain wahana-wahana itu ada juga atraksi panggung hiburan, bioskop, dan studio efek Steven Spielberg. Wahana pertama kami adalah mini coaster (yang saya lupa namanya). Cukup seru tapi tak begitu menegangkan karena lintasannya yang relatif pendek, dan hanya mengandalkan kelokan-kelokan tajam. Berikutnya kami mengantri untuk menonton Shrek 4 dimensi di istana Shrek yang megah dan menakjubkan. Antrian di luar sih tak mengular, tapi ternyata di dalam istana antrian terbilang lumayan panjang. Durasi film 4D yang hanya 15 menit itu terasa terlalu cepat. Efek yang digunakan cukup mengejutkan seperti saat ada serangga, kaki kita pun seperti dilewati serangga sehingga banyak penonton spontan menjerit dan mengangkat kaki mereka. Kami mencoba banyak wahana lain tapi yang paling seru dan berkesan adalah indoor coaster di bagian Ancient Egypt. Antriannya bukan main berular tangga. Dari lantai dasar sampai ke lantai atas. Jeda waktu mengantri semakin membuat hati kebat kebit karena kita tidak tahu bentuk coasternya seperti apa, sepanjang apa lintasannya dan berapa mahal kami harus membelanjakan nyali kami di sana. Tidak sedikit pengunjung yang mengurungkan niat dan keluar dari antrian. Untunglah rasa penasaran kami lebih besar ketimbang godaan untuk menghemat nyali. Setelah mengantri sekitar 40 menit, sampai jugalah kami di lantai atas tempat lintasan. Coaster siap dikendarai. Sebaris berisi 6 orang. Ruangan gelap pekat. Jadi sama sekali tak ada contekan bentuk lintasannya, seberapa ngerinya dan apa saja yang akan kami alami di depan sana. Dan coaster pun melesat maju, di antara pekat ruangan yang sedingin kulkas. Menukik-nukik tajam bahkan mundur mendadak dan meluncur curam. Lalu kami masuk ke dalam neraka. Bahkan panas apinya pun terasa di kulit. Durasi yang hanya kurang dari 10 menit itu terasa kurang karena keseruan coaster ini yang luar biasa. Bagi yang ketakutan naik coaster karena ada bagian di mana kepalamu harus tergantung menghadap langit, tak usah risau karena coaster ini nggak memutar balikkanmu. Kepala tetap di atas hanya jantungmu saja yang lumayan berceceran.

Sepanjang jalan penuh dengan toko suvenir bertema, ie: bagian Madagascar, Dinosaurus, Shrek dll. Di sana berjejer pula rumah-rumah makan cepat saji. Kami menjatuhkan pilihan pada satu rumah makan cepat saji tortilla wrap. Sepaket wrap (bisa pilih isi teriyaki chicken, caesar salaad etc), kentang dan minuman dingin seharga 8 sgd. Kami pun bisa menggunakan voucher 5 sgd off kami di sana. Kami pun segera membelanjakan voucher suvenir 5 sgd  off kami di toko cindera mata Shrek dan madagascar. Rata-rata magnets kulkas bergambar tokoh kartun favorit seharga 4-7 sgd sebuah.

Tak terasa sudah pukul 5 sore, kami pun segera kembali ke hotel dengan rute sama, Sentosa- Vivo city, Harbour Front-Outram Park, Outram Park-Bugis. Matahari mulai jenuh bertandang, kami pun bergegas menyegarkan diri di hotel untuk tujuan berikutnya. Korean dinner di Far east Plaza. Far east adalah tempat favorit saya karena selain dekat dengan orchard tapi harganya miring dengan koleksi fesyen  terkini.  Di sana juga terdapat resto Korean favorit saya yang cukup ramah di kantong “Su”, dan satu lagi yang selalu membuat ingin kembali: Durian pancake nya yg luar biasa renyah hangat dan harum dengan sekian sendok durian dingin di dalamnya. Yum! Untuk menuju Far East Plaza, cukup dengan naik MRT di Bugis, 1 stop saja turun di Cityhall, lalu pindah kereta jalur merah turun di Orchard. Dari MRT Orchard berjalanlah terus lewat underpass dan keluar di Mariott/ Tangs.

Selepas berbelanja di Far East dengan perut penuh durian pancake, seafood pancake, kimchi dan cap jae, kami menghabiskan malam di Clarke Quay.  Tempat ini tetap asyik untuk dikunjungi karena aneka cafe, restaurant, irish pub berjejer sepanjang sungai. Bar hopping! Besar keinginan tak sebesar stamina yang kekenyangan dan mulai letih. Malam itu kami hanya menghabiskan waktu di Marokkan bar dan menikmati live band yang seru di irish bar yang sangat hip di sana the Pump Room. Rata-rata harga masuk pub di sana bervariasi. Ada yang gratis sama sekali, sementara untuk pub-pub yang lebih hip dan punya home band laris, mematok harga 20-30sdg/ orang sudah termasuk minuman.

DAY TWO, Saturday 30 Oct 2010

Hari ini kami mau belanja pernak pernik interior yang seru di Ikea! Selain display desainnya yang kreatif dan menyegarkan mata, Ikea terkenal karena Swedish Meatballs di kantinnya yang super lezat dengan saos jamur dan selai arbeinya. Lokasi Ikea lumayan jauh karena dekat Changi. Kami tak harus berganti jalur MRT, cukup naik di MRT Bugis, ambil jurusan Pasir Ris dan turun di MRT Tampines, di sana sudah tersedia shuttle bus yang akan membawa kita (free) ke Ikea, atau Courts atau Giant. 3 raksasa grosir yang bersebelah-sebelahan di Tampines.

Selesai dari Tampines, kami meluncur ke Orchard, lagi! Untuk hunting kostum/ pernak pernik untuk pesta halloween malam itu! Yay! Pilihan jatuh pada topeng glam merah dan emas dengan bulu-bulu di salah satu sisinya. Karena lokasi yang tak seberapa jauh dan kostum yang ‘niat’ kami memutuskan naik taksi ke Stereolab, sebuah music lounge and dance room yang terletak di Pan Pacific hotel di daerah Marina.  Cover charge malam itu lumayan mahal karena sifatnya tematik. Seorang dikenakan 35 sgd, sudah termasuk minuman di luar champagne (sedangkan di Pump room, Clarke Quay, 20 sgd sudah termasuk minuman dan champagne termasuk salah satu pilihannya).

Pesta malam itu seru sekali, pengunjung club benar-benar all out dalam berkostum. Ada pasangan berkostum pengantin yang berdarah-darah di sekujur gaunnya dan berwajah pucat mengerikan, ada yang memilih jadi Frankenstein, karakter monster inc, draculla dan lain-lain. Club itu dibagi jadi 2 ruangan besar, yang satu bermusik R+B (Stereo Lounge), sementara yang satunya lagi bermusik progressive, sexy dance (Stereo Lab). Kami bertemu dengan beberapa teman lama di sana dan pesta berlangsung riuh di antara gelak tawa dan gerak tubuh.

DAY THREE, Sunday 31 Oct 2010

Wah tak terasa ini hari terakhir kami di Singapura. Tapi kami tak terlalu sedih karena masih punya hampir seharian untuk berkeliling Singapura. Pesawat kami baru akan lepas landas pukul 2155.  Sisa hari itu kami habiskan dengan berfoto-foto di Esplanade, Marina Bay, dan sekitarnya, yang cukup ditempuh dengan berjalan kaki dari MRT Cityhall (dari Bugis hanya 1 stop saja dan turun di Cityhall).  Setelah lelah berfoto kami memutuskan untuk makan siang di tempat favorit saya, Asian Kitchen yang bercabang di beberapa pertokoan di Singapur. Menu favorit saya adalah nasi goreng cereal dan kepiting soka bersausnya! Kepiting sokanya benar-benar garing tapi tak berminyak, dengan saos asam manis yang khas. Bisa juga disajikan bersama mi nya yang tipis-tipis gurih. Lezat!

Masih belum puas berbelanja, kami kembali ke Bugis dan berkeliling Bugis market untuk membeli pernak pernik unik, asesoris dan oleh-oleh untuk keluarga. Sisa sore itu kami habiskan di Bugis Junction sembari menyesap kopi dan berbagi gelak dengan 2 teman lama kami yang berdiam di Singapura.  Tak terasa sore pun mulai mengetuk-ketuk gusar. Nyaris saja kami terlalu larut dalam gelitik nostalgi, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kami pun bergegas kembali ke hotel, mengambil barang di concierge, memasukkan barang belanjaan baru dan mengepak ulang (oops!), dan memesan taksi. Taksi dari Ibis Bencoolen hotel ke Changi airport sekitar 20sgd dan bila kehabisan dolar singapur, kita dengan mudahnya dapat menggunakan Visa atau Master Card kita. Hanya saja jangan lupa memilih taksi dengan bendera Comfort (warnanya biru atau kuning). Sisa waktu yang masih beberapa jam kami gunakan untuk berfoto-foto dan berbelanja antar Terminal. Untungnya ada Sky Train di dalam bandara Changi yang memudahkan kita berpindah-pindah seenak nafsu belanja ke Terminal 1, 2 dan 3. Last time shopping di bandara ini tidaklah buruk karena harganya sudah duty free alias bebas pajak yang sekitar 7 persen. Hanya saja karena di bandara, koleksinya seringkali tak selengkap di luaran. Sebelum berlarian cantik ke gate, kami masih sempat mengunyah kaya toast dan teh O di Toast Box. Maksud hati membeli nasi lemaknya yang murah meriah dan lezat, tapi sayang, selarut itu sudah tak lagi bersisa. Hati terlalu riang untuk merasakan aki dan pundak yang pegal. Tak sampai 5 menit setelah lepas landas kami bertiga sama tenggelam dalam mimpi indah berdengkur yang isinya: WEEKEND GETAWAY BERIKUTNYAAAA!

*Dimuat di Jawa Pos ‘For Her’ 16 desember 2010 dengan judul “Belanjakan Nyali di Coaster Seru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s