Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti malam itu, saat aku mengambil kendali, menungganginya. Aku tahu ia menikmati itu, tapi tak lama ia akan berubah gelisah. Tak nyaman. Lalu buru-buru aku dibaliknya ibarat ikan bakaran. Posisi misionaris atau doggy yang selalu memuaskannya.

Seperti siang tadi, saat kami berpapasan dengan kawan lama dan aku menceritakan karyaku dan kecintaanku pada tekstil. Ia membuang pandang dan larut dalam sesap asap rokoknya. Gelisah. Tak nyaman.

Seperti tiap kali kami menyeberang jalan, aku yang terbiasa memulai langkah, dan ia yang ragu-ragu. Aku yang menggamitnya, dan ia yang menepis, gelisah. Lagi-lagi tak nyaman.

Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti pagi ini saat ia mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah ini. Dalam diam.

Bila kutebas satu dari tangan atau kakiku, bahkan mungkin bibirku, maukah ia kembali dan mengenalku?

Comments
  1. seo software says:

    You actually make it seem so easy with your presentation but I find this matter to
    be actually something which I think I would
    never understand. It seems too complex and extremely
    broad for me. I’m looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s