Setahun sudah kuhindari jalan pintas berbelukar di belakang danau. Setahun sudah aku menolak bertegur sapa dengan wanita paruh baya bergincu sepekat darah. Karena katanya, jangan. Dia, si pria gipsy berdada sebidang dermaga, bermata sewarna abu yang gelap berkilat-kilat. Setahun sudah sejak ia mengatakan itu sembari meraba rasai tengkukku yang masih berpeluh di antara remah gelinjang.

Sungguh, aku tak ingat apa dan siapa yang mengawali segala. Yang kutahu bibirku terasa tebal dalam gigil, langkahku berat. Tersaruk sampai jengah di tepi danau. Bibir itu, bibirku..sepekat darah. Sepekat merah pada kedua jemariku yang gontai di atas dada sebidang dermaga yang kini sehening danau di hadapanku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s