Mereka masih saja mencariku. Ayah, ibu,  kakak adikku. Bergandengan tangan dengan kaki telanjang. Ibu menggendong si kecil Mirah sembari setengah menyeret Dilmah dan Raihan yang mengikuti di belakangnya. Ayah dan kedua kakakku sibuk bertanya pada sekeliling. Tak jarang mereka justru menerima dengus tak suka dan tepis mencemooh. Hanya sebagian yang masih sopan mengucap “lewati saja, maklumkan ya”

Aku  merutuki keramaian yang lara. Seperti saat menahan lapar demi gelak ketiga adikku. Menawar kantuk demi sekejap dengkur ibu. Karnival ini menawarkan keramaian yang tak lara. Sungguh. Bahkan ketika aku harus menjual masa kecilku pada pemain trapeze bercelana seketat cekatku. Lalu pawang singa itu, dan entah siapa lagi. Berhentilah mencariku, aku tak lagi lara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s