Surat Cinta kepada Dia yang Bersemayam di Hati

Posted: January 22, 2011 in Uncategorized
Tags:

Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali ku berkirim surat padaMu. Lima tahun lalu? Lima belas?

Aku juga tak ingat lagi, kapan terakhir kali kubaca suratMu untukku. Lima tahun lalu? Lima belas?

Yang kuingat dahulu kita luar biasa mesra. Saling bercakap sebelum malamku tercuri pagi, bertukar gelak sebelum matahari menyeringai sengit. Berbalas surat cinta yang tak butuh letup. Cukup kecup pada kening, dada dan kedua pundakku di antara sebut namaMu.

Tapi ternyata buatku itu tak lagi cukup. Kedanginganku butuh letup dan gelenyar yang bisa diraba rasakan. Lalu aku mengenalnya, dan dia. Mereka yang melenakanku dalam saruk maruk letup cinta. Cinta yang bukan cintaMu, kutahu. Cinta yang tak sesetia cintaMu, kutahu. Aku tahu, tapi aku tak terima. Seperti saat dia mematahkan hatiku berkeping-keping, aku marah. PadaMu. Ya, padaMu. Karena aku tahu kamu setia, terlalu setia sampai-sampai cemburu satu dalam hembus nafasMu.

Betapa Kamu tega, membiarkan hatiku patah berkeping-keping, air mataku menggenang-genang dalam kenang.

Lalu aku menuntut ganti. Cinta yang lebih luar biasa. Cinta yang tak terpatahkan.

Kamu lagi-lagi, mengabulkannya. Kau hadirkan dia, pria bermata sendu yang melumat hatiku lamat-lamat.

Dan Kamu tak ingkar, memang luar biasa cintanya. Cintaku. Sampai-sampai aku jadi luar biasa sibuk, mencintainya tentu saja, dan diriku. Aku tak sempat bertukar surat denganMu. Sekedar sapa ala kadarnya, seingat-ingatku saja. Tapi kan Kamu memang tak ke mana-mana. KataMu, cintaMu padaku bukan karena apa yang kulakukan, tapi karena kasihMu semata. KataMu, Kamu selalu siap memaafkan aku. Kapan saja, karena apapun.

Dan aku pun lupa, bahwa dia bukanlah Kamu. Aku mengimani dia yang kupikir juga tak ke mana-mana, persis sepertiMu, bersemayam di hatiku. Aku lupa, aku dan dia tak sekedar butuh cinta yang luar biasa. Cinta yang kini mendadak biasa. Aku lalu sibuk kecewa padaMu. Karena pastinya ini ulahMu yang cemburu. Pasti. Bahkan aku merutuki cintaMu, kini.

Tapi Kamu sungguh mencengangkan. Kamu bergeming di antara sembur serapahku. Hanya dekap topang di antara kelu dua tungkaiku. Hanya percaya dan ampunan di antara ngilu hatiku. Kamu benar-benar tak ke mana-mana. Masih di sana, dengan persediaan cinta yang jauh lebih besar.

Kamu bahkan meletupkan kembali cinta yang sama untuknya, di hatiku. Yang baru, tak menandak-nandak dan berpelatuk seperti dulu. Cinta yang mendekati cintaMu padaku. CintaMu yang setia menunggu aku, dalam semayam yang tak pernah temaram. Aku mau terus belajar tentang cinta, denganMu. Hanya denganMu. Pada kecup di dahi, dada dan kedua pundakku, di antara sebut namaMu.

Comments
  1. gustinusa says:

    Take this story as a favorite,
    Aku hanya bisa tersenyum dan haru biru pada kelopak mataku

  2. Judith says:

    Cinta padaNya yg luar biasa….sampai selamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s