“Mungkin kamu memang nggak pernah mencintai aku”

Kata-kata yang sama, dari mulut perempuan yang berbeda. Ada apa dengan  mereka semua. Saling kenal pun tidak. Bagaimana mungkin semuanya menggunakan kata ‘putus asa’ yang persis sama.

Cih.. perempuan, selalu mau lebih. Bahkan perempuan-perempuan happy-go-lucky yang awalnya bersepakat hanya jadi teman ‘kelon’ demikian ia menyebut kategori status yang berdiri (seharusnya) manis di antara teman dan kekasih. Attila melempar handphone-nya ke kasur, lalu dengan hati-hati melepas plastic foil yang membalut lengannya. Mengagumi radjahan baru bergambar naga hitam pekat yang meliuk di antara pekat merah api. Tubuhnya serupa kanvas yang indahnya diapresiasi oleh harmoni warna dan bentuk.

Kutekan tombol silang di ujung kanan atas laptop. Lalu buru-buru memilih NO pada pop up box “do you want to save the changes you make to Chapter II?”.  Belum lagi terlahir sempurna sudah kubunuh karakter laki-laki jahanam di buku terbaruku. Buku yang harusnya bercerita tentang seorang perempuan berprestasi yang bahagia dengan hidup barunya, tanpa elemen memabukkan bernama cinta dan anteknya, laki-laki. Aku tahu betul, tak butuh berapa lama aku akan jatuh cinta, lagi, pada Attila dan membiarkan heroine-ku begitu saja menunggu berbab-bab lamanya sampai akhirnya harus lagi-lagi bertekuk lutut pada rasa kehilangan dan sesal.

“Hey, i made you some cammomile tea. Take a sip” Wanitaku terkasih beringsut duduk di sebelahku. Mengecupku lembut lalu menyusupkan tangannya di balik tipis tank topku. Ada gelenyar yang bersepakat di sana, di antara pagut yang tak lagi meragu.

Jeanette, lututnya tak pernah bertekukan demi Attila-Attila manapun. Sejak awal, ia tak pernah berdesir untuk dada bidang berkilat-kilat, lengan pun betis yang sekokoh dermaga. Ia tak punya ruang pada hati dan vaginanya untuk batang penis manapun.

Mungkinkah karena ia punya itu semua di balik payudaranya yang nyaris rata, di antara hatinya yang seteduh rembulan, pada halus nadi lengannya yang bertato naga api, pun pada elok lekuk tubuhnya yang seterik matahari?

Aku membalas desak pagutnya, bertubi, mendorong kepala berambut pirang cepaknya ke bawah, di antara kedua pahaku.

Jeanette tak perlu tahu, dia mungkin tak harus tahu.

Sial… Attila, berapa kali lagi kamu harus kubunuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s