Kemarin aku si gadis desa, hari ini aku siswa SMU, besok aku nona perawat. Tergantung permintaan pelanggan. @fiksimini

Dibukanya paksa pilin pada rambutnya. Waktunya tak banyak. Dengan cekatan kedua tangannya beringsut turun melepas kancing demi kancing kebayanya. Ternyata kebaya ini masih terlalu longgar untuknya, bahkan untuk dadanya yang membusung bangga dengan cup C. Dibiarkannya kebaya putih menerawang itu meluncur turun dari tubuhnya. Teronggok manis di antara kedua kaki telanjangnya. Masih saja ia menyempatkan diri terkagum-kagum pada ranum buah dadanya yang terpantul pada cermin kusam di hadapannya. Huh, memangnya mudah, mencari kebaya yang pas melekat di badan dalam waktu singkat. Boro-boro punya waktu untuk beli, untuk meminjam saja butuh nyali dan juga, urat. Seperti tadi saat harus menagih hutang ke mbak Mimin. Tetangga baru. Seorang janda eks kembang beranak 5. Alih-alih membayar hutang, mbak Mimin malah memintanya memilih langsung barang-barang apa yang mau disitanya sebagai ganti. Dia tahu betul televisi pun mbak Mimin tak punya. Setiap sore kelima anaknya kecuali yang masih menyusu, sudah duduk manis di hadapan televisinya. Terpaksa, dengan wajah merah padam karena jengkel, dibongkarnya isi lemari mbak Mimin. Dan yah, didapatinya kebaya putih menerawang ini. Satu-satunya kebaya di lemari mbak Mimin yang dikenakannya sewaktu menikah.

“Kebaya itu tak ternilai untuk saya, mbak” ratap mbak Mimin sembari memilin-milin ujung dasternya yang koyak sana sini.
Tapi dia tak peduli. Disampirkannya kebaya putih itu pada pundaknya lalu melenggang pergi.

Sebenarnya hatinya tak sampai. Ia tahu betul apa arti kenangan. Memang kini dia tak lagi bertegur sapa dengannya, apalagi duduk berhadapan sembari menyeduh teh poci dan mengunyah ketela rebus. Tapi ia punya peran yang harus ia mainkan, supaya ia lupa, bukan saja supaya ia bisa selamat dari dingin kolong jembatan. Ternyata lupa pun ada harganya. Dan ia bertekad mencicilnya sampai lunas, suatu hari nanti.

****

Lelaki botak berperut panci di hadapannya tengadah, lingerie membebat sempurna mulut lelaki itu. Dengus nafasnya seribut bunyi pendingin ruangan di kamar hotel transit itu. Dengan anggun dinaikkannya satu kakinya di tepi tempat tidur. Rok putih mininya tersingkap nyaris sempurna. Kedua tangan lelaki itu menggapai-gapai hendak meraihnya tanpa hasil. Berat tubuhnya menghalanginya untuk bangun dan meraihnya. Dia, membuka dua kancing teratas baju perawatnya. Kutang putih berenda menyembul dari baliknya. Mata lelaki itu mulai berair, kemerahan.

“Iya saya tahu, harusnya hari ini pakai seragam SMU. Buat minggu depan ya Om. Nemunya yang ini sih”

Ia mulai menjalankan rutinitasnya. Meliuk-liuk dan membungkuk tekuk sintal tubuhnya sembari sesekali melempar pandang binal pada lelaki di hadapannya. Entah bagaimana lelaki itu mendadak sudah lekat pada punggungnya, menekuk paksa lehernya dan menuntaskan segala. Ternyata yang dipikirnya segala belumlah seberapa. Lelaki berperut panci itu memecutinya dan menendanginya dengan buas. Membentur-benturkan kepalanya pada lantai lalu meludahinya dan entah apa lagi yang membuat malam pun meringkuk ketakutan di balik remang kamar.

****

Matahari mulai melebarkan seringainya. Sayang, kali ini ancaman sang surya tak lagi mempan untuknya. Tirai kamar berjeruji itu tertutup rapat, setiap waktu. Bahkan waktu pun menutup wajahnya rapat-rapat dari tempat ini.

Dua lelaki tegap berseragam putih-putih itu memegang kedua kaki dan tangannya. Ia bergeming. Tak pernah ia merasa setenang ini. Kembang sepatu aneka warna bertebaran di hadapannya. Berduyun-duyun senyum sewarna pelangi menghampirinya. Kelima anak mbak Mimin, tetangganya, mendadak bersayap dan bermahkotakan dedaunan, bergantian mengecup keningnya di antara denting harpa. Namanya, ya, namanya, tersulam rapih pada awan putih yang berarak-arak. Sementara itu perawat berdada tambun menyuntikkan sesuatu pada lengannya yang kebas.

“Dosis ini tak lagi cukup untuknya, sus” Dokter itu, berkepala botak. Berperut serupa panci. Matanya berair, kemerahan

Comments
  1. rebekah chandra says:

    saya tertarik dg fiksimini anda+cerpen anda, terutama yg ini! boleh tau mendapat inspirasi drimana? saya seorg mahasiswa yg bru mengenal fiksimini

    • Hai, terima kasih apresiasinya. Soal inspirasi, datang bisa dari mana saja, kapan saja. Prostitusi contohnya adlh realita sosial yg tidak pernah jadi basi. Antara kebebasan individu dan belenggu sosial, kenyataan dan keimanan, kebutuhan dan keinginan dll selalu ada paradoks di sana yang bisa jadi inspirasi tanpa henti

  2. rebekah chandra says:

    mau tanya lg, kalo tdk salah paham, di akhir cerita si gadis sepertinya berakhir dlm keadaan sekarat/bahkan meninggal, mengapa di gambarkan demikian? apa yg hendak di capai dari penokohan gadis tsb kalo blh tau?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s