Kami hanya duduk berhadapan dalam diam. Aku tahu betul ia sedang memandangiku. Sesekali didangakkannya kepalanya untuk melihat ke arah jalan. Entah siapa yang sedang dinantikannya. Aku berusaha tak ambil pusing. Setidaknya sekarang ia sedang berusaha membuatku merasa istimewa. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat padaku. Mendadak aku mulai merasa gelisah dan merubah letak kursiku.

Ia menunggu. Lalu kembali mendekat. Hembus nafasnya semilir pada tengkukku. “Diminum kopinya, keburu dingin”. Aku hanya mengangguk sembari menambahkan “terima kasih” yang nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri. Dia menggeser kursinya tepat di belakangku, lalu meletakkan kedua tangannya pada bawah dagu dan atas tengkukku. Pelan saja. “Cukup mas? Atau mau dicukur lebih pendek lagi?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s