Suaminya mendengkur di sebelahnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamar. Begitu setiap kali lelaki yang telah menikahinya sebelas tahun lalu sesap dalam lelapnya. Ia beringsut mendekat. Menghirupnya dalam-dalam. Sedalam keinginannya mengabadikan aroma tersebut dalam botol-botol porselen kecil di dalam laci meja riasnya. Berkali-kali ia mencoba tapi semuanya gagal sempurna.  Botol-botol tersebut mendadak mengeluarkan aroma yang bukan main busuknya setiap pagi menjelang.  Saking busuknya, mawar aneka warna yang diletakkannya di pot-pot kecil di dekat jendela kamar sepakat melayu dan mati. Begitu pun ikan mas koki di toples kaca yang diletakkannya di sisi tempat tidur. Mati. Semuanya. Kecuali dirinya.

Ia memilih tidur di siang hari. 4 atau 5 jam saja demi menghirup aroma cendana dan limau semalaman, sesubuhan, hingga tiba saatnya suaminya terjaga dari tidurnya. Awalnya ia sampai harus mengenakan masker penutup hidung di pagi hari sembari menyiapkan air panas bakal mandi suaminya, memasak sarapan untuk mereka berdua dan memakaikan suaminya kaos kaki dan sepatu. Lama kelamaan ia jadi begitu terbiasa. Yang perlu dilakukannya adalah menghembuskan kembali sesap aroma semalam, sedikit demi sedikit. Setelah sekian lama, ia jadi semakin mahir berhemat. Ia sanggup menahan nafas lebih lama, dari hari ke hari. Keinginannya untuk memelihara ikan-ikan hias yang lucu atau seekor anggora sudah dibuangnya jauh-jauh ke semak belukar di negeri seberang.  Kerinduannya untuk menanam mawar aneka warna pun sudah dibenamkannya dalam-dalam di pekuburan massal antah berantah.

Aroma busuk yang tajam akan menyerang lebih hebat saat ia menerima tamu di rumah mereka. Tak seorang pun bertahan lebih dari semenit. Tak butuh waktu lama, para tetangga pun mulai menggunjingkan aroma busuk yang keluar dari rumahnya. Lalu perlahan dan pasti, aroma busuk itu pun sampai ke seluruh penjuru kota dan segera jadi tajuk berita di harian pagi kota mereka. Bantuan dikirimkan. Surat pembaca bernada prihatin dilayangkan. Doa dirapalkan untuknya. Hari ini suaminya tak kunjung terjaga dari lelapnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamarnya, merayapi kampung, lalu sampai ke seluruh pelosok kota dan negeri. Karangan bunga dikirimkan. Ucapan selamat dilayangkan, puji dan syukur dilantunkan. Jauh di dalam hatinya ia tahu, tak butuh lama baginya untuk merapal doa dan serapah berganti-gantian demi mendapatkan aroma busuk itu kembali di sini, menemaninya terjaga dan mengantarkannya dalam lelap yang tak memiliki tepi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s