Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah sebelum natal, setahun lalu.. Saya masih mencintainya… Bukan milik saya lagi… Terlarang..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu.. Saya masih mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu… Saya mulai mencintai seseorang yang lain.. Bukan milik saya.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah tiga hari yang lalu… Saya semakin mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah kemarin.. Saya..merindukanmu. Terlarang?

Di balik bilik pengakuan dosa itu. Seorang frater dalam kelunya, menggengam erat rosario penuh duri. Duri yang sama yang merasuk cabik hati perempuan ini, sebelum natal, setahun yang lalu.

Comments
  1. commaditya says:

    Sudah kubaca tiga kali mbak. Hatiku terenyuh sembilu. *brb belajar nulis*

  2. aulsoemitro says:

    Huaaaaah. Singkat padat mantap…

  3. fransisca says:

    aku suka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s