Gadis kecil itu terbatuk. Terduduk di sisi tempat tidurnya. Berusaha setengah mati agar tak membangunkan lelaki di sebelahnya. Lelaki yang tertidur dengan kemeja kerjanya, dan buku dongeng di atas perutnya yang tak lagi buncit. Gadis kecil itu lalu melingkarkan lengannya pada pundak lelaki itu. Sejauh mungkin, seketat mungkin semampu dayanya. Dengkur halus lelaki itu kembali meninabobokkannya. Pelan. Pasti.

Lelaki ituterbangun, mengecup dahi putrinya. Lalu bertelut di sisi tempat tidur. Merapal apa yang mereka sebut dengan doa. Yang baginya adalah tawar menawar tanpa akhir, pinta dan rutuk yang bersahut-sahutan kepada apa yang mereka sebut Tuhan. Mestinya Tuhan yang sama yang mengambil istrinya begitu saja, dalam tidurnya. Seperti pencuri yang mengendap-endap. Pelan. Pasti

Comments
  1. nugrahaditya says:

    Romantis miris mengiris-iris, seperti yang kebanyakan tulisan Novita Poerwanto biasa lakukan kepada hatiku.

  2. TUHAN adalah sesuatu yang tak berujung pangkal bahkan sulit untuk mendefinisikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s