Seperti Pada Permulaan, Sekarang, Selalu dan Sepanjang Segala Abad

Posted: May 5, 2013 in Uncategorized
Tags:

Kenapa tidak menulis tentang kita? Pertanyaan yang sama dari bibir suaminya malam ini. Pertanyaan yang tak pernah dianggapnya serius. Pertanyaan yang kerap dijawabnya dengan kekeh ringan, dan tepukan kecil pada pipi suaminya. Pertanyaan yang menguap ditelan embus pendingin ruangan dan selimut gading mereka. Pertanyaan yang membuatnya menutup laptop lalu menikmati hak sekaligus menunaikan kewajibannya sebagai istri. Hingga suaminya bungkam. Dan hatinya sendiri pun bungkam. Untuk sementara. Mungkin sampai ia tahu jawabnya.

Tapi ia tahu jawabnya. Selalu tahu. Tanpa ragu. Sangat teramat tahu. Ia hanya tak tahu bagaimana menyampaikannya, pada huruf-huruf yang sesak bergelantungan di layar laptopya, dan langit-langit kamarnya. Menunggu dipetik dan dirangkai, dengan hati yang tak perlu berhati-hati. Hati-hati untuk tidak menginjak hati yang lain dalam prosesnya.

Membungkam suaminya menjadi begitu mudah. Manual itu telah dihafalnya luar kepala, tanpa perlu dirapal ulang, ia tahu betul bagaimana mengoperasikan fungsinya, reaksinya. 15 tahun bukan lah waktu yang singkat. Membungkam suaminya menjadi begitu mudah. Semudah membahagiakannya.

Tapi hatinya lebih keras kepala. Bertahun-tahun berjuang membungkam, hatinya semakin bangkang. Bertahun-tahun ia bereksperimen dengan formula, menuangkan sedikit masa lalunya, mengaduk curhatan beberapa sahabat, melumuri pertanyaan-pertanyaan esensi dan membungkusnya dengan lapis terakhir, isu laris eksistensi. Sudah barang tentu, karyanya menuai puja puji, di antara rutukan segelintir hipokrit yang justru membuat karya-karyanya jadi diperhitungkan secara serius. Serius sekali. Penggemarnya bahkan membuat blog khusus untuk menyuarakan pembelaannya. Saking jengahnya mereka karena ia memilih untuk tidak berkomentar.

“Karya yang jujur”, “menyuarakan perempuan di jamannya”. Demikian sebagian kutip puja puji di blog mereka.

Jujur. Hatinya miris. Jujur?

Tak satu pun karya-karya itu bercerita tentang Kita.

Selama ini, ia berusaha keras mempercayai kata kepalanya. Bahwa jujur tidaknya karyanya tidak ada hubungannya dengan Kita.

Selama ini, ia berusaha membenamkan kepala hatinya, menekannya kuat-kuat dengan kedua sikunya. Tapi rupanya kepala hatinya lebih keras, menyembul-sembul tak tahu diri.

Kisah yang jujur = menceritakan tentang Kita Jujur = Kita?

Kata-kata yang bergelantungan di layar laptopnya, pun yang ada di langit-langit kamarnya dulunya berserakan, liar di taman hatinya. Dibiarkannya berubah kekuningan, hingga coklat kering. Sering…

Karena Kita memang bukan sandiwara. Tapi Kita yang rindu ingin dikisahkan, bukan Kita yang suaminya inginkan. Bukan kita versi suaminya.

Kita yang lebih jujur? Atau Kita lebih laknat dalam membohongi hati. Luar kepala. Aku tahu jawabnya, dan tentunya Ia terlebih tahu. Semakin tahu, semakin gesit ia mengelabui kepala. Lalu hatinya.

Ada aku, di dalam Kita yang kedua. Aku yang sontak menyumpah serapah tiap kali ia memintaku merahasiakan Kita. Aku yang tak pernah menahannya kembali pada suaminya. Karena aku tahu, hatinya tidak. Hatinya tinggal di sini. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Persis doa Kemuliaan yang kerap dirapalnya dahulu. Saat ia meminta ampun pada Tuhannya. Untuk kita, kita yang rahasia.

20 tahun yang lalu. Kali terakhir aku melihatnya datang pada Tuhannya. Sebelum ia menuhankan kita. Dan marah pada Tuhannya yang tinggal diam. Ia pun lebih diam. Tak lagi menoleh barang sejenak. Aku membantunya bahagia. Atau mungkin ia yang membantuku bahagia. Kami melangkah tak peduli di antara stempel raksasa Benar atau Salah. Kalau isengnya datang, ia memajukan wajahnya lalu memiringkannya seperti mau mengecup, membuat pandangan beberapa orang di rak buku seberang mendelik panik lalu membuang muka. Beberapa malah mengucap doa. Lalu ia terkekeh. Kami cekikikan bersama. Riuh.. Ah, our book store trips, sesuatu yang teramat kurindukan.

Mungkin memang benar adanya, Tuhannya pencemburu. Dengan caraNya, pada waktuNya. Maut datang mengendap-endap. Merenggutku dari sisinya. Aku marah. Ia lebih marah lagi. Merutuk Tuhannya. Menuding dan mengeruk hatinya dari ampas Tuhannya yang mungkin tersisa di sana.

Dan kini, aku melihatnya bertelut. Kembali, setelah sekian lama. Jari jemarinya lekat terkatup di depan dadanya yang naik turun melawan isaknya. Sayup kudengar lirih doanya. “Tuhan, ampuni aku… Bantu aku mengasihi suamiku. Kurelakan Seraphine. Ampunilah dosa-dosanya semasa hidup. Terimalah ia dalam pangkuanMu… Kemuliaan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s