oleh Akbar Firmansyah dan Novita Poerwanto

http://www.semestarasa.wordpress.com

Dingin. Beberapa detak lagi jarum jam akan terlihat seperti sepasang tubuh dalam sebuah pelukan. Saling himpit, satu tubuh menutup tubuh lainnya. Sebuah pelukan yang akan selalu kuingat. Dan, tak akan terhapus oleh musim mana pun. Sementara daun jendela kamar tua ini, masih sedikit terbuka. Belum sempat kututup rapat, karena malam ini, malam bulan mati. Malam yang selalu kutunggu, sebab aku bisa memandang langit yang tampak gelap. Segelap sebuah peristiwa yang selalu menusuk-tikam pikiranku. Angin dari luar kamar — yang kebetulan, jendela di sisi barat kamar tua ini menghadap ke sebuah lahan kosong, yang tak pernah terjamah oleh siapa pun — seperti tangan-tangan lembut yang mengantarkan sebuah kabar dari masa silam, yang kelam. Kabar tentang seorang perempuan yang mencoba menjerit. Tapi, siapa pun tak akan mampu mendengar suaranya. Hanya air matanya, terlihat seperti segar embun yang mulai membasahi dedaun malam hari, lalu, menetes pelan, sepelan napasnya.

Tapi, akan beda halnya ketika kutoleh ke ranjang di sisi selatan kamar ini: Birahi, masih terasa seperti api. Panas yang sudah sangat purba di tubuhku ini. Terkadang, tubuhku masih gemetar, mengingatnya. Setiap kali seperti itu, tiba-tiba keringat dingin selalu meleleh pelan di tubuhku. Keringat yang tak lagi panas seperti keringat seusai ciuman-ciuman menggairahkan itu. Ciuman yang terakhir kali kurasakan, tepat tengah malam pada hari yang kulingkari dengan warna merah, di sebuah kalender tua di sebelah cermin yang terdapat retakan di tengahnya. Di cermin itu juga, ada bekas bibir, merah, terseret sepanjang sekian senti. Cermin yang sudah lusuh oleh debu, tapi masih jelas memantulkan warna perak rambutku.

Setiap tahun, bertahun-tahun lamanya, tak sekali pun aku ingkar. Walau memori yang dulu kuat mengakar kini layaknya belukar. Menyiasati rasa, mengelabui akal. Lebat mengekal.

Waktu. Mungkin akan selalu jadi musuh kita bersama. Seberapa kuat kamu melolong minta tolong, pun seseram apa aku menyalak, dia tak kunjung geming.

Dimensi. Mungkin ia pun lelah merutuki kita yang tak kunjung peduli. Kita yang sibuk merentang renggangkan garisnya. Demi sebuah kecupan kecil. Kecupan kecil yang melontarkanku padamu dan kamu padaku dulu. Saat dimensi menjerit panik di antara riuhnya derit. Saat waktu menandak murka di antara lenguhanmu.

Reuni tahunan yang kunanti, demi merayakan ulang kemenangan kita, dulu, atas mereka. Merasa pernah menang membuatku gelisah. Kemenangan itu lalu jadi candu. Licik merayu. Padahal kita sama tahu, rentetan kekalahan yang harus kuteguki tetesnya menggurati tiap jengkal lidahku, menjorok sampai ke dalam pusat detakku, mengikisi setiap kapur belulangku. Tanpa henti, dalam congkak kekeh dan bahaknya, sampai Waktu sudah bosan mengolok-olokku.

Dingin. Beberapa detak lagi jarum jam akan terlihat seperti sepasang tubuh dalam sebuah pelukan…

***

Suatu pagi yang berkabut di luar jendela — juga kabut yang sama gelapnya, seperti di dalam kepala — membuat mataku yang baru saja terbuka tak lagi terasa berat seperti biasanya. Entah, mimpi semalam, menikam. Anak-anak kecil di dalam mimpi itu seolah kini ada di setiap sudut ruanganku, di sisi-sisi ranjangku. Dengan senyum kecil, tanpa kata, mereka seolah mengingatkanku perihal dosa-dosa. Sesekali beberapa di antara mereka menyalakan lilin, lalu terlihat mulai membakar bajunya sendiri. Tertawa, melihat tubuhnya perlahat tersulut api, lalu perlahan, menghitam. Ingin kutusuk mataku, yang meski kukatupkan, masih saja tampak jelas tubuh-tubuh kecil itu terbakar, tanpa teriakan. Sebuah pemandangan yang menjelma pisau berkarat, diseret-sayatkan di dalam kepalaku.

“Apakah pagi ini begitu menakutkan bagimu?” Tubuhku gemetar. “Bukankah birahi, desah-desah pasrah, lenguh-lenguh bercucur peluh, begitu nikmat kaurasakan?” Bulu-bulu lembut di tanganku, merinding. Bayangan dalam cermin di depanku terlihat berkata lembut, tapi begitu menggema di dalam jantungku.

Entah kenapa, dalam sehari itu — hari yang masih kuingat, agak mendung, dengan sinar matahari menembus sela-selanya, terlihat cantik, seperti jemari emas dari langit — yang seharusnya menyenangkan untuk berjalan-jalan ke kota, justru membuatku terdiam. Pikiranku menyeretku ke sebuah lemari tua, yang lama tak terbuka. Pelan-pelan kuputar kunci, kuambil sebuah buku tua di dalamnya. Kubuka halaman demi halaman: almanak, perhitungan hari, perlengkapan ritual, dan berbagai mantra kuno yang tak jelas artinya. Satu lagi, sebuah keris dengan ukiran emas di tengahnya.

“Bulan mati ada di akhir pekan ini,” aku mulai gemetar.

***

Kau meletakkan telunjuk kananmu pada bibirku. Pekat bola matamu lekat. Waktu itu bulan hampir mati. Setengah mati seperti aku yang meraba paksa penanda, menyebut aneka tuhan yang pernah kukenal, atau yang sekedar pernah kudengar sambil lalu. Semuanya, bungkam.

Ada sesuatu yang memintaku pergi sekaligus tinggal. Sesuatu yang lebih besar dari bulir-bulir peluhku yang turun dalam gegas. Sesuatu yang ingin dikenal, dan diakui. Sesuatu yang lelah menjadi sekedar desas desus murahan orang bertuhan. Sesuatu yang kamu embuskan di antara pagutmu. Satu-satu, lantas beranak pinak menandak-nandak.

Kengerian itu begitu kental. Tapi aku memutuskan untuk tinggal. Melihatmu mengambil rupa. Sama denganku. Hampir.

“Ritual ini belum selesai… ”

Aku seolah mendengarmu berkata-kata. Kata-kata yang kau embuskan di antara kemaluan yang asyik berpagut. Mataku berusaha menangkap bayang di cermin lemari. Mencarimu. Tapi malam demikian pekat. Hanya kelebat tubuh telanjangku yang telentang, dan kabut dingin yang menunggangiku, lebat dan setia. Menghalangi pandanganku dari cermin. Memaksaku percaya, bahwa ini semua nyata adanya. Persis seperti apa yang dijanjikan perhitungan almanak di dalam buku tua itu.

Kuambil keris berukiran emas di bawah bantalku, tepat di saat kabut di atas tubuhku sedang pekat-pekatnya. Mengayun seiring derit. Setengah menjerit.

Pada erang pertama, ritual itu nyaris rampung kabut yang lebat sontak porak poranda, terburai di seluruh penjuru kamar. Dingin. Mataku lekat pada cermin lemari. Nyalang mencari sosokmu. Tapi malam lebih cekatan menyembunyikanmu. Bulan mati malam ini…

Tiba-tiba, kulihat kabut berputar-putar di kamarku, seperti badai. Seperti musim dingin yang deras menelusup ke jantungku, melalui lubang memerah, melelehkan darah, di dada kiriku. Merahnya mulai kental, membeku sebab dingin yang tiba-tiba. Begitu pula yang terjadi pada lelehan di ujung lekuk keris berjumlah tigabelas itu. Jumlah lekukan, yang menurut buku tua itu mampu menghapus semua kesialan-kesialan.

Kabut masih berputar. Kini yang mulai membeku bukan hanya apa yang meleleh dari dada kiriku. Tapi tubuhku, perlahan kaku. Bahkan untuk sekadar menjentikkan jari pun — yang konon bisa membebaskan seseorang dari sleep paralysis, aku tak mampu. Hanya, mataku tetap menyalang tak bisa kukedipkan.

Di mataku, langit-langit kamar yang bertabir samar-samar kabut, menjelma sebuah layar besar. Peristiwa-peristiwa antara sadar dan tak sadar, dengan sosok-sosok yang tak pernah kukenal di dalamnya.

Sampai pada akhirnya, dalam peristiwa-peristiwa — yang lebih menyerupai mimpi — yang ditampakkan di langit-langit kamarku itu, kulihat dirimu. Mengerang lirih, sebab jerit yang tak lagi bersuara. Melelehkan air mata. Tepat di malam bulan mati, tiga tahun lalu.

Sebuah ritual di atas hamparan melati yang menakutkan. Sebab kau, menjemput kematianmu sendiri, setelah birahi-birahi tak selesai. Yang membuat ritual itu begitu menakutkan, kau memintaku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Setelah mengikat tubuhku di kursi tua, menutup mulutku dengan sobekan kain mori. Tak bisa bergerak. Lalu, mengganjal mataku dengan tusuk gigi agar tetap menyala. Menyaksikan takdirmu.

“Tuhan-tuhan telah pergi,” katamu.

Pada ritual malam ini kurasakan, seolah tuhan-tuhan yang kukenal, pergi, membiarkan aku, tebaran-tebaran melati di ranjang, dan sebilah keris, mencumbui kematian. Seperti katamu, kekasihku.

“Tuhan-tuhan telah pergi….”

Belum sempat selesai aku berkata-kata, ada yang datang, lembut, seolah menyadarkan semuanya: Tanah kosong di samping rumah dengan makammu yang dulu kugali sendiri, kabut dingin yang tiba-tiba, dan peristiwa-peristiwa kematian yang mencekam di langit-langit kamar. Keris di tanganku, gemetar. Gemetar!

“Ritual ini tak akan pernah selesai, kekasihku.”

Perlahan, tubuhku mulai bisa kugerakkan. Mataku bisa kukedipakan. Kabut-kabut pergi, bulan mati malam ini, menyisakan satu pertanyaan: Milik siapakah kematian? Milik hasrat, almanak tua, ataukah Tuhan?

Comments
  1. riga says:

    aku bingung…
    otakku ga nyampe.😐

  2. sgtrhj says:

    bahasanya sungguh kelas pujangga…menakjubkan, tapi dari cerita sama dengan riga, otakku gak gadug rek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s