oleh Novita Poerwanto/@LVCBV dan Fajar Jasmin Sugandy/ @fajarjasmin

Suatu petang di Jakarta, Mei 2013.

Memang sudah seharusnya. Segala sesuatu akan jadi salah pada waktunya. Bantahan mutlak dari suatu hukum yang pernah kudengar entah di mana, bahwa “semuanya akan indah pada waktunya.”

Seperti hari ini.

Tadi pagi, di tengah-tengah kemacetan yang telah niscaya adanya, ban mobilku robek akibat ulah ranjau paku yang sengaja ditebar di jalan. Aku baru tahu bahwa bentuk ranjau tersebut didesain sedemikian rupa agar daya rusaknya maksimal. Yang ini menyerupai seekor bulu babi yang dapat kau jumpai di pantai.

Jelas, aku jadi terlambat mengikuti suatu rapat penting di kantor. Tak perlu pula kubayangkan pengaruhnya dalam performance assessment tengah tahun yang sebentar lagi tiba waktunya. Telah kudapat dua kali teguran dalam periode ini.

Tak kalah menjengkelkannya adalah lengketnya keringat yang mengering di badan seusai kegiatan ganti ban. Kau masih ingat kan, betapa aku membenci bau badan? Akhirnya, pada jam makan siang aku memutuskan untuk pergi membeli sebuah kemeja baru yang bersih. Yang berarti, satu lagi pengeluaran yang tak direncanakan dalam bulan ini.

Seakan belum cukup, sepanjang sore aku pun masih harus mengurusi seorang klien yang bodohnya setengah mati. Tentu saja, klien seperti ini selalu merupakan yang paling sering membantah, sekaligus masih menjadi salah satu sanak famili bos besar.

Tapi untungnya, aku masih memiliki kamu. Kadang, aku merasa kasihan dengan teman-teman kantorku yang melakukan segala sesuatunya -berlari ke kanan dan ke kiri- tanpa tahu untuk siapa mereka melakukannya. Mereka sendirian, tak seperti kita berdua. Sampai sekarang, aku tetap waras karena aku tetap berbicara denganmu. Bahkan semenjak kau pergi tanpa kabar di suatu petang pada hari Minggu dua belas tahun yang lalu.

Sekarang, ketika aku kembali duduk di balik kemudi dalam perjalanan pulang, aku menyibukkan diri dengan membayangkan kamu. Rasanya, ini memang opsi terbaik dibanding jika kita tumbuh bersama dan aku jadi menikahimu. Bisa jadi, kita cuma akan sibuk saling memaki seperti sejuta pasangan lainnya.

Lampu merah terakhir sebelum memasuki area perumahanku.

Kubuka jendelaku untuk sekedar membagi satu dari lembaran-lembaran uang yang memang kusiapkan dalam mobil. Ada tangan kecil yang menyambutnya. Namun kali ini, tangan itu tak cepat ditarik. Ia malah tinggal diam di sana seraya berkata, “Makasih Oom. Dapat salam dari Lana…”

What on earth?

Dari mana ia tahu namamu?

***

Suatu petang di Amsterdam, September tahun 2000

Pipi-pipiku nyeri dirajahi dinginnya angin. begitu nyerinya sampai-sampai tamparanmu pada pipiku tak membuatku geming. Tamparan yang membuat beberapa orang menoleh lalu cepat membuang muka ketika kamu mendelik nyalang. Biasanya aku cukup mengusap tengkukmu untuk menenangkanmu. Memenangkan kamu.

Amsterdam Cental Station. 8 derajat celsius siang itu. Tanpa matahari. Hujan rintik yang setia dan, kita. Mematung di platform 5b jalur kereta amsterdam menuju Nijmegen. Berdiri bersisian di ‘roken zone’. mengisap batang demi batang rokok sedalam-dalamnya. mengiba pada kepul asap untuk membuaikan lidah yang kelu. Kita sama diamnya. Menikmati olok-olok angin yang semakin tak tahu diri. Menertawakan tangis yang penuh karat di pelupuk. Menyobek-nyobek rindu yang sepakat kita haramkan. Entah sejak kapan tepatnya…

Sejam lagi kamu sudah harus tiba di Schiphol. Sejam lagi kamu dalam perjalanan menuju apa yang kamu sebut masa depan. Tempat di mana aku sempat menempati kamar utamanya, bersama kamu sepagian, sesiangan, sesorean, semalaman. Suatu sore koper dan sepatuku berjongkok bersisian di depan pintu kamar. mereka mengadukan perbuatanmu, tapi mereka lupa, entah sengaja atau tidak, menyebutkan pergulatanmu denganNya. Diam-diam kubuat perjanjian denganNya. Jika kamu tinggal, aku akan mewartakan kabar baikNya. Jika tidak, akan kulakukan sebaliknya dengan sebaik-baiknya. dan kamu tentunya tahu tak sekali pun aku ingkar. Sekali pun itu sukar. Sesukar mencari kamu di balik nyalang bola matamu. Seusai menamparku tadi. Sebelum kita sama tersesat dalam diam.

Keretaku tiba. Lidahku tetap kelu. Kamu pun. Di antara rutuk ancamanku padaNya, kubayangkan aku yang melumat pahit lukamu, meminta maaf tanpa harus berkata-kata. Mengusap tengkukmu ibaratnya ia tombol rahasia yang akan melontarkanku pada kita yang dulu. Sebelum Kepahitan menjadi kabut lebat lalu menelan kita bulat-bulat.

Kamu mengulurkan tangan. Menjabatku. Menatapku cepat saja. Seakan -akan hanya kebetulan yang membawa kita di sini. Seakan-akan Pernah itu tak lagi punya arti.

“Lana! what on earth…” Seseorang yang tak kukenal tapi jelas mengenalmu baik. Cukup baik sampai kabut di antara nyalang matamu terbirit lari. Berganti senyum yang pernah milikku.

“Hi Jess, this is Reza…an old friend”. Singkat saja kamu memperkenalkanku pada Jess. Mungkin hatiku tak serenta sekarang jika saja kamu memperkenalkanku sebagai Kekasih usang ketimbang sebagai sekedar teman lama.

***
Jakarta, Mei 2013

“Dik, Lana katamu tadi?” Anak perempuan itu kira-kira berusia 7 tahun. Perawakannya kecil tapi kuat untuk anak seusainya yang menggendong tumpukan harian sore juga majalah keluaran terbaru pada punggungnya dan alat musik keroncong pada lengan kurusnya. Anak itu mengangguk. Menunjuk cover sebuah majalah wanita 2 mingguan edisi terakhir.

Om juga dapat salam dari, -anak itu menyebutkan nama seorang model papan atas yang jadi tampilan sampul sebuah majalah gaya hidup-. Apa-apaan ini. Lelucon apalagi yang Dia sedang siapkan untukku. Rupanya mengambil kamu dua belas tahun lalu dariku belum juga cukup. Pada saat aku mulai bisa menjalani hidup ‘normal’ versi keluarga besarku, dan menikah dengan wanita ‘normal’ pilihan orang tuaku, yang kata ibuku adalah jawaban dari aneka novena dan doa puasa tanpa jeda. Mungkin jawabanNya tertukar, lontarku iseng pada ibu beberapa tahun lalu. Lontaran kecil yang membuatnya merutuki dirinya yang telah salah mendidikku sampai-sampai aku ini tak lagi takut padaNya. Aku diajarkan untuk takut padaNya. Takut. Seperti ibuku yang ketakutan setengah mati bila terlambat beribadah, tidak tepat waktu merapal novena, juga tiap kali ia harus membatalkan acara doa lingkungan di rumah karena anak lelaki tertuanya, aku, dan anak perempuan terkecilnya menolak untuk ikut serta.

Sedangkan ayahku mengajarkanku untuk tidak pernah takut. Pada apa pun. Siapa pun. Live with conviction and to Live without regret. Untuk hal yang terakhir, aku butuh kamu. Ayahku tidak takut padaNya. Ia lebih takut kehilangan cinta ibu. Takut pada ancaman-ancaman ibu untuk membawa adikku dan aku pergi setiap kali mereka bertengkar hebat. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana rasa takut yang dikondisikan itu membuatku bergidik jijik.

Kubayar majalah wanita yang bertampilan sampul kamu. Meletakkannya di jok sebelah lalu mengacungkan jari tengahku padaNya. Setinggi mungkin.

***

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s