image

Tiga tahun sudah. Kamu menginginkannya. Aku tidak. Katamu kita adalah omong kosong belaka. Petaka. Kubilang kamu mengada-ada. Biasa.

Kita terbiasa tak sepakat. Terlalu terbiasa. Sampai-sampai kita punya menu makanan berbeda di meja. Nasi merah versus nasi putih. Saos tomat versus kecap manis. Tanpa gula versus banyak gula. dan aneka versus lainnya yang dipaksa bersanding sekian lama. Terlalu lama?

Jawabmu iya. Terlalu lama. Aku melengos kesal, terbiasa melihat kamu menyerah. Bersungut-sungut. Kamu lalu menudingku egois. Cuma ingat diri sendiri. Aku menudingmu balik. Tak kalah sengit. Lalu kamu itu apa, bila bukan egois?
Kita lalu bungkam. Sama kesal. Sudah bebal. Ruangan mendadak hampa udara. Kamu sesak. Aku terdesak. Kamu pergi. Aku, bertahan.

Skenario ini direka dalam diam. Mungkin ia adalah fragmen memori yang tercecer, atau justru kolase masa depan yang menampakkan dirinya satu persatu, dalam pecahan sekenanya.

Sekarang. Aku tak lagi bertanya padamu. Kamu apa lagi. Aku berhenti menjual kita. Kamu, tampaknya lega. Aku mengangguk. Kamu terlebih lagi. Aku untuk aku. Kamu untuk kamu. Pada akhirnya, untuk kali pertama, kita sepakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s