image

Menanggalkan Citra di Ibu Kota.
Langit belum lagi berwarna jingga. Taksi membawaku dan rombongan pemburu hore ke Muara Angke. Kepadatan jalan, di pagi yang masih buta bukan lah sesuatu yang luar biasa. Tapi di antara sembab wajah dan satu dua tai mata yang luput dari usaha membersihkan wajah sekenanya di pukul 4 pagi, ada binar penuh harap. Ada penat yang rindu dilarung.

Kerinduan yang demikian besar membuat kami tak berpikir dua kali untuk berjalan kaki melalui jalanan becek dan berbau di sepanjang pasar ikan untuk mencapai pelabuhan. Buatku, ini pengalaman yang menarik. Aku bahkan tak lagi ingat kapan terakhir kali menginjak pasar tradisional. Sebagai manusia yang diperlakukan waktu sebagai komoditi (bukan sebaliknya), aku dan sebagian besar kawanku terlalu dimanjakan oleh aneka pasar modern, dan penjaja sayur atau ikan keliling. Belakangan, justru makanan rumah adalah kemewahan yang tak terbeli bagi kami, karena sering kali kami harus makan di luar karena jadwal dan rute pekerjaan yang tidak memungkinkan kami pulang dulu untuk sekedar menikmati makanan rumah.

Kali ini, waktu seolah-olah berhenti punya kuasa atas diriku. Dan aku menikmatinya. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit sampai lah kami di pelabuhan Muara Angke. Kapal nelayan yang kami naiki bernama Dolphin. Warnanya biru dan putih. Sewarna dengan terpal yang dihamparkan di dasar geladak. Tak ada satu pun bangku di sana. Para penumpang bebas selonjor, bersila, tengkurap atau memilih apa pun posisi ternyamannya di bawah sana. Setengah berdesakan, aku memilih sisi samping kapal, kemiringannya bisa kujadikan tempat bersandar yang cukup nyaman.

Berdesakan seperti itu membuatku bertanya, kapan terakhir kali aku bersentuhan dengan orang yang sama sekali asing dalam posisi berdesakan seperti ini. Rasa nyaman sudah menjadi biasa, duduk berlapang-lapang di mobil pribadi dengan AC yang disetel sedingin-dinginnya. Tidak seperti sekarang ini. Berhimpitan dan kepanasan. Kulit bersinggungan dengan kulit lain yang asing. Putih pualam. Kuning langsat. Sawo matang hingga gosong sekali pun. Ajaibnya tak satu pun memasang wajah risih. Walau tanpa sengaja. Betapa kita terlalu nyaman dalam jarak. Menciptakan jarak, menjaga jarak, lalu memelihara jarak. Memilih untuk tidak mengenali lebih jauh, karena rasa nyaman yang jadi taruhannya.

Sejak awal memutuskan untuk ikut perjalanan ini, aku memang membuang semua ekspektasi, sampai ke biji-bijinya. Aku ingin menikmati perjalanan ini dan kejutan-kejutannya dengan lapang dada. Bahkan matahari yang membabi buta mengecup wajahku tak lagi mengganggu. Saking nyamannya, aku tertidur selama 3/4 perjalanan. Tidur pulas tanpa direcoki mimpi sepenggal pun.

Waktu yang ditempuh untuk sampai di Pulau Harapan sekitar 3,5 jam. Perjalanan belum usai, kami harus pindah ke kapal nelayan yang lebih kecil untuk dibawa ke Pulau Bira. Dari sekian banyak penumpang di kapal ini, kebanyakan berangkat beramai-ramai. Kelompok terkecil adalah pasangan-pasangan kekasih, dan kelompok terbesar adalah semacam kami ini, 22 orang dengan berbagai latar belakang dan usia. Hanya tujuan kami kurang lebihnya sama, atau setidaknya beda-beda tipis. Menghalau penat. Menabuh keriaan. Berdamai dengan hati. Bagiku pribadi mungkin ini, (kembali) mengakrabi diri sendiri.

Rutinitas pekerjaan, tanggung jawab atas aneka peran yang dijalani setiap hari terkadang membuatku tidak sempat pulang pada diri. Sekedar bercakap-cakap dalam diam. Bahkan sebelum mata terpejam pun, aku masih sibuk berencana. Mengatur langkah dan membuat anggaran. Hidup jadi semata-mata rencana yang berjalan mulus atau rencana yang berakhir berantakan. Kalau hasil akhirnya memang sama tak terjamin, mungkin asyik juga untuk tidak berencana. Sesekali. Supaya bisa bilang “WOW” sekencang mungkin pada diri sendiri. Bukannya “Ah, ya sudah layak dan sepantasnya, perencanaannya kan sudah sangat matang”. Apresiasi dan rasa syukur punya kecenderungan besar untuk bergeser. Karena ada ‘aku’ yang merasa punya kendali. Sementara kema(mp)uan untuk pasrah dan merelakan diri untuk dikejutkan oleh hidup semakin usang, dan terancam punah.

Ketika melihat tautan perjalanan ke Bira ini di halaman media sosial seorang kawan, aku mendaftar tanpa berpikir dua kali. Aku bahkan tak menanyakan apa jadwal acaranya, seberapa jauh, dan aneka pertanyaan lain yang biasanya muncul.

image

Tak kurang dari 30 menit, sampai lah kami di pulau Bira. Matahari sedang lebar-lebarnya menyeringai. Tak ada lagi wajah lelah dan penuh kantuk, semuanya menyeringai tak kalah lebar. Pulau ini akan jadi ‘rumah’, ‘surga’, ‘bunker’, ‘kepompong’ atau apa pun lah bagi masing-masing dari kami selama 2 hari 1 malam.

Berbeda dengan beberapa pulau yang kami lewati, laut di pulau Bira sangat bersih. Tak ada sampah mengapung. Warnanya biru kehijauan. Jernih sampai ke dasarnya di mana terumbu karang berumah. Sayangnya dasar laut di dekat dermaga ini banyak dihuni kawanan bulu babi yang konon mengakibatkan nyeri luar biasa bila terinjak.

Lepas dari lautnya yang bersih dan cantik, Pondok-pondoknya jauh dari kesan terawat. Kayu-kayu pada plafon dan lantainya sudah nyaris habis dimakan usia. 1 dari kamar mandi di pondok kami, sama sekali tidak bisa dipakai. Waktu sudah habis menggerogoti tempat ini tanpa ampun. Pendingin ruangan pun tidak berfungsi lagi. Herannya, dalam situasi atau waktu yang berbeda mungkin aku akan mengomel, minta pindah kamar yang lebih bagus dan lain sebagainya. Kali ini, aku mengijinkan apa pun keadaan dan suasana dalam perjalanan ini mengambil kendali. “Sometimes it is best not to fight, so that you can appreciate things, and people all the more”.

Siang itu sehabis makan siang ikan segar bakar dan lalapan tempe tahu, island hopping yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Pemandangan bawah lautnya memang tak seindah di gili-gili Lombok sana, tapi acara snorkeling ini lebih dari sekedar membandingkan pemandangan bawah laut (sehingga akibatnya jadi kurang bisa menikmati), di bawah sini, kami mendadak lebur dengan alam. Merunduk. Berbaikan kembali. Tanpa jarak. Berbenturan dengan kawan dan orang asing tanpa kuda-kuda yang tak perlu. “When off guard, a person is her/ his own self”. Menertawakan diri sendiri bergantian. Yang perempuan terpingkal-pingkal tanpa make up, tanpa krim tebal pemutih atau bulu mata palsu, yang laki-laki juga, perut buncit, pipi tembam, jerawat yang meradang tak menahan kami untuk bergembira. Aku menemukan benang merah yang menyatukan kami semua di sini. Kerinduan untuk kembali pada diri sendiri. Entah disengaja atau tidak, kami sama menanggalkan citra di ibu kota. Saling bergandengan demi mendapatkan foto bawah laut yang seru. Seringkali tanpa tahu siapa nama orang yang tangannya kami gandeng tanpa ragu. Semuanya tadi, tidak mungkin terjadi di antara bising kota dan cadasnya waktu. Karena kita terlalu sibuk mendengarkan kepala yang penuh dengan kekhawatiran dan desakan untuk berjaga-jaga serta berencana, kita lupa bahwa hati pun punya suara. Percaya…

image

Sore mulai mengobrak-abrik keriaan. Lagi-lagi kami dijajah waktu, walau pun tak seorang pun dari kami (kecuali pemimpin rombongan) mengenakan jam tangan. Kami harus segera ke pulau, -ah, saya lupa namanya!- untuk mendapatkan pemandangan sunset terindah. Tapi apa boleh buat, sunset terindah kami nikmati dari atas atap kapal nelayan kecil yang kami naiki. Tak kalah indah, tentu saja. Matahari yang sama, suasana hati yang sama. Rasa syukur yang juga sama. Malam di pondok kami habiskan dengan bermain tebak kata di depan api unggun. Musik, gelak pingkal, dan lelah yang terabaikan membuat malam merayap lebih lekas dari biasa. Satu persatu mulai rebah, sayup dengkur bersahut-sahutan.

Menata Hati. Kembali ke Ibu Kota.
Pagi itu, hampir semua terbangun dengan wajah tak rela. Setelah menikmati sunrise di dermaga lama pulau Bira, kami berangkat dengan kapal nelayan kecil menuju pulau Bintang. Di sana kami berenang dan snorkeling selama 2 jam, sarapan dan menyeduh kopi pertama pagi itu. Pahit, karena kami cuma punya kurang dari 2 jam lagi untuk kembali ke Ibu Kota. Di pulau ini pun kami sepakat mengabadikan keriaan yang lepas ini dengan membuat sesi video “dancing on the beach” dan beberapa video konyol lainnya. Sesuatu yang bisa jadi pengingat ampuh untuk tetap tertawa sama lepasnya, saat kehidupan kota kembali menindasi diri tanpa jeda.

Tulisan perjalanan ini mungkin bukan tulisan yang kalian harapkan. Tulisan yang berisi rentetan jadwal perjalanan dan tips menarik di tiap lokasi. Perjalanan ke Pulau Bira ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan kembali ke diri sendiri. Kembali mengakrabi diri dan bergumul mesra dengan hati. Sebuah pengingat untuk lebih menikmati hidup dan kejutan-kejutannya yang tak pernah sia-sia. Mungkin ini jawaban atas pertanyaan banyak teman, kenapa aku cukup sering ‘ngabur seenaknya untuk liburan, sewaktu-waktu’. Sesungguhnya, kerinduan itu belum sepenuhnya terbayar lunas. Mungkin saja tak akan pernah terbayar lunas. Setidaknya yang kulakukan adalah mencicilnya sedikit demi sedikit selagi bisa, sebelum rindu itu menjelma jadi letih, dan hati setia membatu. “It is never about the destination. It is the journey that matters the most”

image

@savefunvacation thank you for initiating and arranging the trip. Ditunggu jadwal perjalanan seru berikutnya.

Comments
  1. Ichan says:

    Aaaaaaaaahh, perjalanan kitaaaaaa!!
    :’))

  2. ifanhere says:

    Indah banget menceritakannya. Sampe kangen disko di pantai lagi. Ranu kumbolo menanti kita berikutnya ^^

  3. ifanhere says:

    Indah banget menceritakannya. Sampe jadi kangen disko di pantai lagi . Oiya, ranukumbolo menanti kita jelajahi ❤️

  4. Oddie says:

    My God, ini namanya catatan perjalanan yang asoy!
    The journey to your self.. memang begitulah sebuah perjalanan semestinya.
    Ke destinasi mana pun!🙂

  5. arievrahman says:

    A journey to yourself, setuju sama Mas Oddie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s