2 malam di Barcelona adalah dusta. Bagaimana mungkin menikmati semuanya dalam waktu yang hanya 2 malam. Aku menjejak di sana Senin siang. Siang adalah waktu yang buruk untuk menyapa kota yang seharusnya meriah itu. Siesta, atau lunch break mereka bisa berlangsung berjam-jam hingga menjelang senja. Keriaan baru mulai terasa lagi selepas pukul 4 sore, hingga tengah malam. Terutama di Placa Cataluna dan La Rambla.

Tapi cerita kali ini bukanlah tentang Barcelona dan keriaannya di La Rambla dan lorong-lorong kecil di antaranya. Ini tentang Eivissa, atau Ibiza nama populernya, dan ‘kesialanku’ pergi di musim yang salah. Di bulan November! Seperti biasanya, aku suka merencanakan perjalanan jauhku dari jauh-jauh hari. Mau ke mana saja, menginap di mana, ekspresi umum yang biasa digunakan, mengunduh peta lokasi dan rute transportasi publik dan lain-lain. Standar sih sebenarnya. Aku tidak suka ikut tur, karena terlalu ‘terencana’ dan tidak banyak ruang untuk eksperimen dan improvisasi. Menurutku, walaupun ada perencanaan, harus ada elemen kejutan dalam sebuah perjalanan. Itu sebabnya aku tidak pernah panik atau marah-marah saat tersesat. “You can’t say that you found your way if you haven’t lost it”, bukan? Rencana awalnya adalah party 2 malam, mulai Pacha, Amnesia, Space, dan lainnya. Bukannya cek jadwal ‘gigs’ dan ‘DJ line ups’nya, pasangan perjalananku dan aku sepakat untuk mengambil jalur go-show saja.

Pesawat bujet yang kunaiki, Ryan Air hanya membolehkan bawaan kabin dengan dimensi dan volume yang mereka tentukan. Dan mereka tidak main-main dalam penerapannya. Beberapa gadis eropa dan turis asia sampai menangis menahan kejengkelan mereka karena harus membayar ekstra hampir 40euro gara-gara koper kabin mereka berbentuk cembung. Walaupun ringan dan kecil, koper mereka tidak bisa masuk dalam kotak ukuran yang disiapkan kru maskapai tepat di depan Final boarding gate (bukan check in gate ya!).

Agak licik juga sebenarnya. Bayangkan, harga check in koper dadakan itu lebih mahal ketimbang harga tiket Barcelona- Ibiza, yang kalau promo bisa cuma 20an Eur bahkan lebih murah. Aku sendiri sibuk memilah milah barang lama yang boros volume, untuk dibuang. Karena sedikit overweight hasil kalap belanja di La Rambla night market dan La Roca village outlet sehari sebelumnya di Barcelona..

Penerbangan Barcelona- Ibiza hanya berlangsung selama kurang dari 60 menit. Di maskapai Ryan Air ini ada yang unik, setiap pendaratan yang sempurna mereka akan membunyikan musik terompet Irlandia, lalu penumpang semuanya bertepuk tangan. Pasangan perjalananku menganggapnya norak, tapi menurutku itu bisa jadi pengingat, untuk tak menyepelekan dan menganggap pendaratan yang mulus itu ‘sudah layak dan sepantasnya’.

Bandara Ibiza kecil saja, mungkin seukuran bandara di Mataram. Hujan deras menyambut kami Rabu siang itu. Mencari taksi tidak sulit karena mereka sudah berjejer rapi di depan pintu kedatangan. Billboard sepanjang jalan, dari bandara hingga ke kota memajang aneka club kebanggaan Ibiza dan jadwal… Closing Party. Bahkan semua tanggalnya sudah lewat. Yang terakhir, Space, Closing Partynya sudah hampir 2 minggu lalu. Sial! Jadilah kami menyiapkan plan B2. Alias Buru-buru Browsing. Mau ngapain saja kita di kota sekecil ini 3 hari. Hujan yang mengguyur deras seakan ikut mengolok-olok.

Sesampainya di apartemen kami di Noguera, Via Punica (Via adalah ‘jalan’, kebanyakan jalan di Spanyol dan Italia berawal dengan Via) tak satu pun manusia terlihat di lobi. Resepsionis sekali pun. Sebuah kertas menempel pada kaca apartemen: “Out for Siesta. Check in only at 4pm. Please call this number to get the pass code to enter the lobby”

Perut sedang lapar-laparnya, mengantuk sih untungnya tidak. Hujan mulai mereda. Kutelpon nomor yang tertera di kertas. Seseorang bersuara berat di seberang sana dengan ringannya bilang, “I will probably be there at 5. Make your self comfortable”.
image

Lobinya kecil, dengan desain putih minimalis yang senada dengan tampilan apartemen. Ada satu bench saja. 2 kursi dan satu meja panjang dengan computer untuk tamu yang menghadap samping kaca. Meja receptionnya berukuran sedang, sedikit menjorok ke belakang, dekat dengan pintu menuju teras belakang. Teras mungil berlantai a la geladak kayu kapal itu berisi 1 vending machine dan set meja kursi putih untuk tamu. Making our self comfortable is definitely not an option, bukan? Untuk setengah jam ke depan mungkin masih masuk akal, tapi untuk 3 jam ke depan?

Kami meninggalkan koper dan mulai berjalan kaki di sekitar apartemen, melalui gang-gang kecil yang sepi. Siesta di sini lebih gawat daripada di Barcelona, mungkin karena kotanya juga jauh lebih kecil, saat Siesta ia ibarat kota mati. Semua restoran dan toko tutup dengan palang ‘siesta’ menggantung di kaca pintu, kecuali satu kafe asyik di sudut jalan. Asyik, karena ia adalah satu-satunya kafe terdekat yang masih buka saat siesta, plus waiternya serupa dan sebangun dengan Adam Levine. Ha! Nama kafe yang segera menjadi favoritku ini, Chill Cafe. Kafe mungil dengan harum kopi yang melenakan, menawarkan wifi yang tanpa siesta, senyum mempesona waiternya dan ini dia favoritku, croissant sandwich brie avocadonya! Isinya avocado, lettuce, keju brie, sun-dried tomato dan entah apa dressingnya yang super lezat itu.
image

Yang ajaib, ternyata si Levine ala-ala ini bukan saja waiter di Chill Cafe. Dia juga merangkap Kasir dan tukang masak, bikin kopi/ teh, dan sandwich. Kerjanya cepat pula, dan rapi. Kebayang kan, begitu sibuknya sampai tidak mungkin lagi diajak mengobrol atau sekedar pura-pura bertanya arah jalan atau destinasi alternatif selain party di Ibiza.
image

Tepat di sebelah Chill Cafe, ada convenience store yang khusus menjual aneka makanan jadi, kudapan, bahan baku, dan bumbu masak serba organik.

Usai makan dan browsing, serta mencari jadwal gigs yang mungkin masih tersisa (The party season is over. See you next summer!), kami kembali berjalan kaki ke apartemen. Resepsionis menyambut kami dengan senyum lebar. “Welcome to Ibiza”. Dia menertawakan kami karena kekonyolan kami datang untuk party di season yang salah, bahkan untuk closing party pun kami sudah terlambat. Dia menyarankan Formentera. Formentera adalah pulau kecil berpasir putih dan bersiiiih sekali, di kepulauan ballearic. Kami harus menyeberang dengan boat dari dermaga Ibiza. Sayangnya, cuaca kurang bersahabat, sore itu saja gerimis masih gigih membasahi kota, dengan suhu 15’c.

Jadilah kami menghabiskan sisa hari itu dengan berbelanja di supermaket terdekat, membeli cider drink dan bir juga beberapa kudapan lokal dan roti, kemudian berjalan kaki hingga ke dermaga. Dermaga hanya 35-40 menit berjalan kaki dari apartemen. Di sana juga ada centrum (pusat perbelanjaan sepanjang jalan, khas Eropa. Pertokoannya mengelompok sepanjang jalan, biasa disebut Centrum/ Center). Toko-toko busana, kedai kopi, dan toko suvenir berjejeran. Berbelanja CD dan kaos suvenir di toko Club favorit Ibiza, seperti Pacha, Amnesia dan Space, lumayan jadi hiburan. Bagi yang mengoleksi seri Global Underground, MoS, Defected, Hed Kandi, Fierce Angel dan lain sebagainya, record store di Ibiza adalah surga karena kelengkapan koleksinya.
image

Oh, dan yang menyedihkan sekaligus menyenangkan, saat mengobrol dengan beberapa pemilik atau penjaga toko, hampir semuanya tahu Indonesia. Tepatnya, Bali. Itu saja. Puja pujinya tak berkesudahan. Mereka bukan hanya sekali dua kali ke Bali. Rata-rata mereka ke Bali setahun sekali saat cuaca mulai dingin.
image

Selesai berbelanja dan berjalan-jalan, kami mencicipi Paella di satu resto tak jauh dari dermaga. Paella adalah makanan khas Spanyol yang berbentuk seperti nasi, tapi sedikit lebih besar bulirnya dan agak sticky. Dimasak dengan pasta tomat, dan aneka topping, misalnya seafood.
image

Paella dihidangkan hangat-hangat berikut wajannya. Menarik, tapi terus terang, aku lebih suka nasi Asia, atau pasta ‘nasi’ italia sekalian macam risotto. Malam masih panjang, tidak ada klub yang buka. Bahkan bar untuk minum bir sekali pun. Kami lalu memutuskan untuk menonton di bioskop yang kebetulan tak jauh letaknya dari restoran paella tadi. “No English. Lo Siento” demikian kata wanita penjaga loket di bioskop. Bukan hanya subtitle yang berbahasa Spanyol. Bahkan sepanjang film dialih bahasakan (dubbing) dengan bahasa Spanyol.

Setelah musim party lewat, Ibiza justru banyak dijadikan tempat tujuan berlibur oleh turis-turis berumur. Mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, minum wine atau bir di kedai-kedai minum sepanjang jalan-jalan di Ibiza.
image

Hari kedua kami habiskan mengunjungi kota tua yang terletak di dataran tinggi Ibiza. Letaknya juga tidak jauh dari apartemen. Cukup dengan berjalan kaki, lalu melalui benteng kuno dengan lorong batu, sampailah kami di kota tua yang cantik. Jangan memakai heels kalau tidak mau terkilir, sama seperti jalanan di Roma, jalanan di sana bukan terbuat dari aspal yang mulus, melainkan batu jalan tua yang permukaannya tak rata. Rumah-rumah bertembok kapur dengan jendela dan pintu kayu berwana cerah nampak berjejer di dataran yang kian meninggi. Naik terus ke puncaknya, kami bisa melihat seluruh kota Ibiza dan dermaganya dari atas. Pemandangan yang indah dan menyenangkan bila angin tidak sedang bertiup dengan kencangnya.
image

Selepas menjelajahi kota tua, kami kembali ke dermaga yang kami kunjungi sehari sebelumnya untuk makan siang di resto Itali Bella Napoli. Pilihannya cukup variatif dengan rasa yang otentik. Sisa hari terakhir di Ibiza, itu hanya kami habiskan di Chill Cafe (belum juga rela untuk meninggalkan croissant sandwichnya!), dan bersantai di teras apartemen kami sembari menyesap white wine dari supermaket lokal.
image

Pagi-pagi sekali, hari berikutnya taksi dengan supir wanita Spanyol yang berbadan kekar sudah mengantar kami ke bandara. Saking paginya, belum pukul 6 waktu itu. taksi belum bisa masuk ke pelataran bandara yang belum beroperasi. Berbeda dengan bandara di kota besar yang aktifitasnya berlangsung 24 jam, bandara di Ibiza ini baru mulai beroperasi pukul 6 pagi. Penerbangan dari dan ke Ibiza juga tidak banyak. Kebanyakan harus melalui Barcelona terlebih dahulu. Walau pun sudah melalui proses imigrasi di bandara kedatangan pertama kami di Eropa, yaitu Schiphol di Amsterdam, kami tetap harus melapor di meja imigrasi untuk menunjukkan visa dan kelengkapan dokumen sebelum check in. Ryan Air mendarat dengan mulus kembali ke Barcelona, pagi itu. Kami masih punya lebih dari setengah hari sebelum Easy Jet membawa kami kembali ke Belanda. Karena 3 hari, 2 malam di Barcelona adalah dusta, perpanjangan1/2 hari akan membuatnya (sedikit) lebih nyata. Setelah check in awal di terminal 3, bergegaslah kami menaiki shuttle bus to city (6 atau 7 Euro per kepala, berangkat hampir tiap 45 menit dari dan ke kota/ Placa Universidad- Placa Cataluna- La Rambla). Cuaca sedang bagus-bagusnya. Dermaga kayu La Rambla, penuh sesak dengan turis dan warga lokal yang berbaring dengan cueknya demi dikecupi matahari. Ini lah yang sering membuat turis salah kostum di Eropa. Cuaca yang tidak menentu dari satu negara atau kota ke tempat berikutnya, dari yang dingin berangin, atau hujan 10’C – 15’C, jadi terik 22′. 20an derajat celcius sudah termasuk terik di sana. Tentu tidak ada apa-apanya dengan teriknya Surabaya. 1/2 hari setelah dikurangi waktu pulang pergi bandara ternyata hanya menyisakan kami kurang dari 3 jam. Setelah hampir 3 minggu tidak melihat mall, maka kami memutuskan menghabiskan beberapa jam terakhir di Maremagnum mall, di ujung jembatan La Rambla. Sebuah mall dan pusat hiburan di dermaga. Mall ini menghadap ke laut dan jejeran perahu Catamaran yang cantik. Mall termasuk langka di Eropa. Biasanya pusat perbelanjaan mereka terkonsentrasi pada satu area, toko demi toko berjejeran sepanjang jalan (Centrum). Di Amsterdam ada 1 mall kecil berarsitektur kuno, Magna Plaza, di Jerman ada 1 mall besar Oberhausen, dan di Paris, dekat Disney ada Le Village. Di Milan dan Brussel juga ada ‘mall’ kecil yang mereka sebut galeri, bangunan tuanya tetap dijaga, dan ukurannya relatif kecil dibanding mall biasanya. Dan memang, pengunjung terbesarnya adalah turis, bukan warga lokal.

image

Mungkin ada mesin penyedot waktu yang ditanam diam-diam di Maremagnum Mall, sudah waktunya kembali ke bandara dan melanjutkan perjalanan kembali ke Amsterdam. Sedih, karena Spanyol dalam waktu 5 hari 4 malam itu adalah tipuan terbesar untuk diri. Jelas-jelas tak cukup, bahkan untuk dihabiskan di Barcelona dan Ibiza saja sudah tak cukup. Rindu untuk kembali! Kerinduan yang sama setiap datang ke Florence, dan Roma Italia. Secara pribadi, bila harus memilih, kupilih Roma daripada Milan dan Paris untuk kota besar yang ‘menyediakan segala’. Untuk kota kecil, aku suka sekali Florence atau Firenze, kota kecil yang cantik, kota tuanya, pasarnya, galeri-galeri dan toko kulitnya, ‘warung-warung’ italianya yang serasa makan di rumah keluarga, dan hotel-hotelnya yang begitu lokal dan hangat. Akan kutulis Firenze dan romansanya, segera. Semoga isi hati dan kepala bersepakat.
“You only live once. Spend it well. Travel! Feel!”

Comments
  1. arievrahman says:

    Ah, jadi pengin ke sana! *nabung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s