(bukan) Songa Nyaman

Posted: January 9, 2014 in jalan-jalan, jurnal, perjalanan, travel, Uncategorized
Tags:

Tahun lalu, demi memenuhi resolusi yang belum kesampaian, saya dan tiga sahabat memutuskan berarung jeram. Sebenarnya niatnya sudah cukup lama. Ide awalnya adalah menikmati Bromo, mulai dari matahari terbit di Penanjakan, berkuda dan naik sampai ke kawah, turun ke pasir berbisik dan savannah, kemudian naik sampai ke danau Ranu Regulo kemudian saat perjalanan pulang mampir di Songa untuk arung jeram.

Ambisius. Seperti biasa. Tapi ternyata setelah menempuh semua rute tadi di Bromo, sisa tenaga cuma cukup untuk membayar kantuk dan lelah.

Kami memilih Songa atas, supaya rutenya lebih panjang. Bisa jadi kami memang mencari tantangan terpanjang, padahal mungkin kami hanya sekedar pelit. Bayarnya sama, buat apa memilih rute terpendek.

Di antara kami berempat, hanya 1 yang sudah pernah berarung jeram. Dan ia sepertinya menikmati wajah-wajah cemas kami setiap kali dia mengisahkan pengalaman arung jeramnya. Demi membuktikan kebenaran ceritanya juga, kami menyeretnya paksa untuk ikut mengarungi Songa.

Sesampainya di sana, kami disambut dengan Teh botol dingin. Petugas mendata kami, termasuk berat badan. Walaupun berteman baik, rupanya kami tetap menjaga rahasia berat badan rapat-rapat dari satu sama lain. Usai melengkapi data, kami mengumpulkan handphone, dan kamera kami kepada petugas yang akan menyatukannya dalam sebuah dry bag. Kami lalu mengenakan rompi, helm dan memilih dayung, mengganti sepatu dengan sandal, lalu naik ke pick up terbuka. Perjalanan dengan pick up terbuka ini mengingatkan saya pada perjalanan seru bersama 11 sahabat Fiksimini setahun sebelumnya. kami menempuh perjalanan selama hampir 1,5 jam di belakang pick up. Melewati jurang dan jalan terjal luar biasa, untuk sampai ke Ranu Regulo. Tegangnya pas sih buat saya, tapi salah seorang dari kami sampai berjongkok pucat pasi dan tanpa sadar mencengkeram kuat-kuat tungkai 2 teman lainnya yang berdiri di kanan dan kirinya.

image

Perjalanan menuju titik keberangkatan memakan waktu kurang dari 30 menit. Selanjutnya kami harus berjalan kaki menuruni undak-undakan batu, sampai ke sungai. Sesampainya di sana, petugas pendamping kami mengajak berdoa bersama. Bukannya jadi tenang, kami malah saling pandang dalam ngeri. Satu perahu idealnya diisi 6 orang, tapi karena kami hanya berempat, 1 duduk di baris terdepan, miring kanan, 1 lagi duduk di baris kedua miring kiri, dan 2 duduk di baris ketiga. Sedangkan petugas duduk paling belakang. Di bibir perahu karet, tepatnya.

Instruksi mudahnya adalah, kalau petugas berseru Boom! kami harus jongkok masuk ke dalam perahu dengan posisi dayung menghadap ke atas, kanan, berarti harus miring kanan. Kiri, tentu saja miring kiri. Setelah menambahkan dengan beberapa instruksi paddling yang baik, kami pun mulai mengarungi sungai.

image

Arus air cukup kencang tapi debit air sedang-sedang saja. Ini mengakibatkan perahu kami sering terantuk lalu tersangkut batu di awal perjalanan. Selanjutnya pengarungan terbilang lancar. Kami melalui beberapa air terjun, basah kuyup dan bau tai kalelawar yang berumah di sana. Rasa cemas berubah jadi betah. Inginnya berlama-lama. Kata orang, tak penting di mana, asal bersama siapa. Buat saya sih, keduanya penting. Ke mana dan sama siapa. Saya termasuk pemilih untuk berkawan dekat, apalagi kawan perjalanan. Selain harus klik dan sreg, saya menghindari pergi dengan kawan perjalanan yang rewel dan kemampuan adaptasinya minim. Saya bersyukur sekali hampir tidak pernah salah memilih kawan perjalanan yang sebagian besar memang sudah bersahabat sebelumnya.

Di tengah pengarungan, perahu merapat. Ada pondok perhentian yang menanti kami, harumnya seduhan teh gula merah menggelitiki hidung, ditambah sepiring pisang goreng yang mengkal tapi manis.

image

Tak seberapa jauh dari pondok perhentian tadi, sampailah kami di area sungai yang lengang tanpa arus. Kami bisa berenang atau lompat dari tebing rendah di dekat tempat perahu merapat. Tapi tak satupun dari kami yang melompat keluar dari perahu dan berenang. Zona nyaman kami adalah perahu karet ini. Sudah kenal arusnya, sreg dengan penghuninya, aman dalam pengawasan petugas. Jeram yang tadinya seram ini sudah kami taklukkan. Berenang di sungai tanpa arus jadi (seolah) tak menarik. Mungkin memang tidak semua tantangan harus ditaklukkan. Tidak semua kenyamanan harus ditinggalkan. Dan tidak semua rasa aman harus dilawan.

Satu jeram pendek lagi dan sampailah kami di akhir pengarungan. Rasanya ingin langsung mengulang lagi. Tapi apalah artinya keriaan tak berbatas, selain biasa. Kami lalu berjalan kaki mendaki ke tempat truk pick up menanti untuk membawa kami kembali ke pondok keberangkatan & kedatangan untuk mandi dan makan siang.

2 jam yang terlalu singkat tadi ditutup oleh semeja penuh hidangan makan siang, satu cobek penuh penyetan dengan tempe, ikan pe, tahu, dan lain-lain. Urapan. Lalapan. Juga semangkuk besar lodeh. Kerupuk dan sambel. Kopi dan teh sepuasnya. Ketagihan berarung jeram? Ya! Setelah dari Songa, saya sempat menjajal Ayung River di Ubud. Kecewa, karena begitu tenang dan terlalu romantis untuk saya yang saat itu hanya berdua dengan sahabat. Ingin sekali kembali ke Songa, segera. Semoga sama yang bikin (lebih) nyaman. ya?

Comments
  1. arievrahman says:

    Ah, jadi ingat udah lama gak rafting. Terakhir rafting, jam tangan mati total karena air masuk ke mesin-mesinnya. Haha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s