Perjalanan ke kota-kota besar dunia memang asyik. Mungkin karena informasi untuk destinasi unggulannya sudah begitu banyak tersedia. Praktis. Aman, dan biasanya keduanya membawa nyaman.

Mungkin saya bukan orang yang mudah nyaman dengan rasa aman. Beberapa butir cemas dan was-was itu pelengkap perjalanan yang terasyik. Makanya saya suka sekali dengan kota-kota kecil di satu negara. Apalagi kota yang punya ‘hidden jewel’ seperti yang satu ini.

Perjalanan saya ke Italia kala itu, berawal dari Milan, lanjut ke Firenze atau Florence, dan berakhir di Roma. Tapi tulisan kali ini bukan tentang Milan, bukan juga tentang Roma. Tulisan saya kali ini tentang romantisme was-was di Firenze.

Kota kecil, yang hanya berjarak sekitar 2 jam berkereta dari Milan. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar tahun 2010. Kali itu hanya day trip. Karena saya pikir, kotanya terlalu kecil dan tak banyak yang dilihat. Ternyata sesampainya di sana, saya harus menjilat pikiran sendiri. Kota kecil ini cantik, dengan resto italia rumahan di sudut-sudut jalan. Bukan metropolis. Senyum hangat dan sapaan Ciao! masih terbilang mudah didapatkan di saat menyeduh cappucino di teras kafe, atau saat menunggu churros di kaki lima.

Setahun kemudian, saya kembali ke sana. Menginap 2 malam. Seperti biasa, waktu adalah komoditi termahal di samping nilai mata uang. Perjalanan-perjalanan saya selalu terlihat ambisius. Cuma punya waktu seminggu atau 2 minggu, tapi bercita-cita keliling beberapa negara dan kota, dan harus menjajal transportasi publiknya. Padahal, ambisius = kurang waktu dan kurang dana. Kadang terpikir, apakah bila saya punya waktu dan dana tak terbatas saya akan lebih menikmati perjalanan saya? Jawabnya, boleh dicoba, tapi saya rasa kok belum tentu. Kepuasan yang dipanjang-panjangkan berbuah jenuh dan krisis apresiasi. Sementara kepuasan yang dibatasi atau ditahan, berbuah apresiasi dan ketagihan jangka panjang.

Kunjungan pertama dan kedua saya, tetap tanpa ikut tur. Saya butuh cemas. Deg-degan supaya merasa hidup. Deg-degan pertama adalah ternyata saya dan sahabat salah baca informasi di tiket kereta. Bodohnya kami menunggu di platform yang salah. Dan kereta kami ke Firenze dari Milan, sudah berangkat sejam yang lalu. Walhasil, kami harus menunggu kereta berikutnya sekitar 2 jam lagi. Lalu berdiri di kereta selama sekitar 2 jam lagi karena secara teknis kami jadi semacam penumpang gelap yang tak punya nomor tempat duduk.

Seharusnya kami membeli tiket bernomor tempat duduk lagi ke kantor stasiun, tapi kami memutuskan. Well, tepatnya saya, memutuskan nekat mengambil resiko naik ke kereta berikutnya tanpa melapor (supaya tidak harus beli tiket lagi :D). Sahabat saya, yang terbiasa tepat segala dan toleransi was-wasnya sangat kecil, tak bisa menyembunyikan wajah tegangnya sepanjang perjalanan.

Saat kondektur datang mengecek, saya menjelaskan apa adanya, merutuki kebodohan sendiri dan menjual alasan paling standar: kami turis yang baru pertama kalinya berkereta ke Firenze. Kondektur memaafkan kami. Membolak-balik tiket euro railpass kami, lalu kembali merengut. Sial, apa lagi?

Ternyata, kami juga lupa memvalidasi rail pass kami di stasiun sebelumnya. Railpass ini berlaku untuk 3 hari jadi kami harus mendapatkan stempel ‘start’nya di stasiun pertama, supaya petugas tahu bahwa kami berkereta dengan railpass yang masih berlaku. Wajah sahabat saya sudah pucat pasi. Membayangkan denda 500 euro (seingat saya) yang harus kami bayarkan per orang. Tapi silence is golden, dan mungkin juga the best sign of remorse ya? Karena kami tidak mungkin menjual alasan ‘kami turis yang baru pertama kali berkereta ke Firenze’ lagi. Kondektur itu memeriksa mata kami. Mencari-cari tanda kebodohan dan penyesalan. Sepertinya dia menemukannya karena ia akhirnya melepas kami tanpa denda, dengan wanti-wanti, hal pertama yang harus kami lakukan sesampai di Firenze adalah memvalidasi railpass kami. Kami berjanji.

Sesampainya di Santa Maria Novella, Firenze, hal pertama yang kami lakukan adalah pontang-panting ke toilet sebelum ke kantor stasiun. Toilet-toilet di stasiun kereta Eropa itu menyebalkan. Kita harus selalu menyiapkan uang 50 sen. Bayar di muka. Masukkan ke boks baru pintunya terbuka. Petaka buat yang kebelet luar biasa, dan kiamat buat yang tidak punya uang receh. Untungnya keduanya tak terjadi pada kami berdua saat itu.
image

Usai memvalidasi tiket, kami berjalan kaki ke penginapan yang hanya berjarak sekitar 10 menit. Sederhana dan hangat ala rumah keluarga Italia. Kebanyakan penginapan di sana memang masih dikelola oleh pemiliknya yang memang si empunya rumah yang masih tinggal di sana juga. Hari sudah hampir sore saat kami tiba di Firenze, malam itu kami habiskan di sebuah resto Italia kecil (dan sialnya namanya saya lupa, kartu namanya pun entah di mana) di pojok jalan tak seberapa jauh dari hotel. Sekitar 5 menit berjalan kaki. Selain memesan aneka pasta favorit seperti gnocchi pesto dan spinach ravioli, kami juga menghabiskan malam dengan menertawakan kekonyolan hari itu di antara denting gelas anggur. Minum wine di restoran Italia rumahan benar-benar murah. Dihidangkan di glass jug bukan di botolnya, saya curiga mereka punya galon anggur, bukan air mineral di dapurnya.
image

Hari berikut, kami bangun pagi-pagi sekali untuk sarapan. Hanya madelaine (seperti di Perancis) dan butter, croissant dan aneka selai. Padahal kami mengharapkan aneka kudapan Italia. Mungkin saja mereka pikir, menghidangkan sarapan a la Perancis lebih gaya dan memikat. Sayang ya?

Sekedar saja sarapannya, karena hari itu ada yang dinanti-nanti sekian lama. Berbelanja di Outlet bermerk di pedesaan di luar kota kecil Firenze. Designer brand. Dengan harga mediocre brand. Asli dengan harga KW premium mahal sedikit. Too good to be true but it is true.

Bagi saya, merk pilihan itu bukan cuma soal prestige semata. Kualitas itu penting. Daripada punya selemari tas KW saya memilih punya beberapa gelintir tas asli yang berkualitas dengan desain yang klasik, atau sekalian tas non designer brand yang bagus desain dan kualitasnya. Biasanya yang jadi masalah adalah ada harga, ada kualitas. Membeli tas itu di butiknya di Indonesia atau di Singapur sama dengan mencekik leher sendiri. Itu lah kenapa saya paling bergairah mencari designer brand outlet saat traveling.

Untuk sampai di outlet andalan saya ini, kita butuh naik kereta antar desa, yang terbilang kumuh dan jauh sekali kondisinya bila dibandingkan dengan kereta antar kota Milan – Firenze atau Milan – Roma. Harus hati-hati melihat jadwal, karena kalau sampai ketinggalan kereta untuk kembali ke Firenze, pilihannya cuma cari penginapan di desa yang jarang rumah penduduknya itu, atau naik taksi dari stasiun Regello ke Milan, yang pastinya akan bikin kami meringis menahan pedih.

Di Leccio, Regello ada outlet Prada terbesar. Tapi saya bukan termasuk seseorang yang suka diberi pilihan, bila tidak akan (ngotot) mencari sendiri. Dan kebetulan, I am not a big fan of Prada. Kami memilih the Mall, outlet. Walau pun namanya Mall, bentuknya bukan seperti mall di Asia. Butik-butiknya bersisian, bentuknya walau lebih kecil, termasuk biasa saja, seperti rata-rata outlet bermerk seperti di Le Valee Paris, dan La Roca, Barcelona. Yang luar biasa adalah pilihan designer brandnya. Merk-merk tertentu sudah lazim kita temui di branded outlet (Burberry, Longchamp, Zegna, Michael Kors, Furla dll), tapi merk premium seperti Bottega Veneta cuma ada di the Mall. Yang tak kalah asyik, selain harganya yang bisa 70 persen lebih murah dari harga butiknya di kota, kami yang non European citizen juga bisa mendapatkan tax refund sekitar 11-12 persen.

image

The Mall juga punya koleksi Gucci yang terbilang lengkap. Harga dompet kulit pria cuma berkisar 90an Euro saja. Bayangkan! Bagaimana menuju the Mall? Sayangnya tak ada pilihan selain naik Coach atau layanan taksi antar jemput yang sudah menunggu di stasiun Regello. Biayanya 10 Eur/orang/ trip. Jadi kalau PP 20 Eur/ orang. Selain outlet, Leccio Regello ini benar-benar desa yang hijau berbukit-bukit. Dari sana sebenarnya tidak jauh jika ingin mengunjungi Pisa.

Nah, was-was berikutnya adalah menenteng aneka belanjaan pulang dengan kereta. Justru karena lebih dari separuhnya adalah pesanan alias bukan milik sendiri, hati jadi lebih kebat-kebit. Sahabat saya nyaris tak bersuara, sepertinya dia berdoa tanpa henti. Saya sibuk menahan kantuk karena biasanya kereta hanya berhenti sebentar dan tidak ada yang teriak-teriak mengingatkan untuk turun. Gerbong kami hanya berisi tak lebih dari 10 orang. Sepasang kakek nenek, yang sepertinya warga lokal, dan beberapa turis Korea. Sepasang anak muda beranting di hidung dan ujung bibirnya. Warga lokal atau bukan, entahlah. Setelah sempat bengong melihat kantong belanjaan kami dan rombongan turis korea tadi, mereka sibuk bergandengan dan mencuri lumat. Ah!

Sesampainya di Firenze, kami cukup letih tapi terlalu pelit untuk beristirahat. Bagaimana tidak, besok siang kami sudah harus terbang, kembali ke Belanda. Jadilah kami, berjalan-jalan di area pengrajin tas kulit, universitas Firenze, Duomo juga pasar tradisionalnya yang tak begitu jauh dari alun-alun besar yang merupakan pusat perbelanjaan merk-merk retail internasional. Menjilati gelato sambil bersandar di tembok jembatan yang berdiri di atas sungai Arno.
image

image

Firenze adalah kota yang romantis. Dengan bangunan-bangunan renaissancenya yang tetap terjaga. Walau terletak hanya sekitar 3 jam berkereta dari Romawi, pengaruh Romawi nyaris tak ada di sana. Gereja-gereja kunonya (piazza) dan katedralnya (duomo). Sayangnya jadwal kami tidak cocok dengan pasar senggol musiman di Firenze. Aneka hasil kulit dan barang-barang antik dijual di sana. Selain suka berburu designer outlet di negara kunjungan, saya juga suka berdesak-desakkan dan berbelanja di flea market atau pasar senggol. Seru sekali. Beberapa flea market favorit adalah chatuchak di BKK, Puces St.Ouen di Paris dan Groote Markt di Den Haag.
image

Malam itu kami sadar, 2 malam di Firenze adalah dusta yang hebat benar. Kami bertekad untuk kembali lagi ke Firenze, segera, setelah mengunjungi beberapa tempat impian kami (dan daftar itu semakin panjang!) Keesokan paginya, kami cepat-cepat packing dan repacking karena barang bawaan sudah beranak pinak. Terpaksa membatalkan rencana naik Shuttle bus ke budget airport Firenze yang terletak lumayan jauh dari kota. Karena kami harus berjalan kaki dulu ke stasiun Santa Maria Novella, lalu menunggu jadwal Shuttle bus, sementara barang bawaan kami membutuhkan setidaknya 6 tangan. Pilihan kami cuma naik taksi. Mahal? Iya, sakit hati bila dirupiahkan. Waktu itu jumlahnya sekitar sejuta rupiah, dengan jarak tempuh hampir satu setengah jam.

Kami pikir was-was terakhir adalah soal argo taksi yang tak bisa ditawar. Jadi hati-hatilah pada keinginan hati! Was-was masih mengintai dari balik meja check in bagasi. Apa lagi kalau bukan: kelebihan beban bawaan. Dan sadisnya naik budget airline, biaya overweight atau beli bagasi on the spot itu luar biasa mahal. Hebatnya kami, walau panik, kami tak pernah saling tuding atau merutuki satu sama lain. Sahabat saya tetap tenang, membongkar ulang kopernya, membuang toiletriesnya, buku bacaannya dan entah apa lagi yang bisa mengurangi beban bagasinya. Saya pun tak kalah sibuk, sambil mencari-cari penumpang lain yang berwajah ramah dan minim bagasi. Pucuk dicinta, ulam tiba, seorang pemuda baik hati yang ternyata mahasiswa Indonesia di Belanda, menawarkan bantuannya. Jadilah dia mengakui satu kantongan besar milik kami sebagai hand carry itemnya.

Sebagai tanda terima kasih, kami traktir dia minum cappucino dan ini nih, yang asyik, makan thin pepperoni pizza dengan mozzarella yang meleleh-leleh minta ampun dari mesin pizza otomatis. Cuma 5 Euro.

image

image

Ryan Air membawa kami kembali ke Belanda. Seperti naik angkot, tidak ada nomor tempat duduk di Ryan Air. Siapa cepat, dia dapat. Biar murah asal selamat, Ryan Air hampir selalu mendarat sempurna. Disambung dengan bunyi musik Irlandia dan tepuk tangan penumpangnya. Ciao Firenze. Sampai jumpa lagi. “The best things in life are Free?” Hell no ;D

Comments
  1. arievrahman says:

    Culik aku tanteee ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s