Perjalanan ambisius kali ini, adalah Brussel. Waktunya, lagi-lagi sepakat singkat. 2 malam saja. Sepupuku, Cinth dan aku berangkat dari Rotterdam Centraal Station selepas makan siang. Brussel terbilang dekat dari Belanda, hanya sekitar 3 jam perjalanan, melewati Antwerpen.
image

Karena Belgia yang memang terletak di antara Belanda dan Perancis, kebudayaan di sana, gaya bangunan dan bahasanya, sebagian Belanda, sebagian lagi Perancis. Dialeknya juga berbeda. Sebagian besar masih berbahasa Belanda, tapi mereka juga fasih berbahasa Perancis. Nama-nama jalannya saja sebagian berbahasa Belanda (berakhiran dengan Straat yang artinya Jalan) dan sebagian lagi berbahasa Perancis (berawalan Rue yang juga berarti Jalan).
image
image

Kami harus berganti kereta di Stasiun Antwerpen, dan menunggu sekitar 30 menit. Harum waffle dari kedai kaki lima menggugah selera tapi antriannya panjang juga. Kalau kami ketinggalan kereta, harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk keberangkatan berikutnya.

Kami tiba di Brussel menjelang sore, suhu kala itu sekitar 13′ C. Cukup menyebalkan, dingin dan berangin. Untungnya hotel kami tak begitu jauh dari stasiun. Berjalan kaki kurang dari 15 menit. Sama seperti rata-rata pertokoan di Eropa, selepas jam 5 kita cuma bisa window shopping, literally. Hanya bisa ngintip-ngintip dari jendela toko, karena semuanya sudah tutup. Malam itu kami langsung naik Metro menuju daerah Opera. Metro di Brussel seperti di Paris dan Italia, bisa beli day trip, atau beli per perjalanan. Untuk day trip biaya yang dipatok kurang lebih sama, sekitar 6 Euro. Di daerah Opera, ada gang panjang yang ramai dengan kafe-kafe dan restoran. Kami memilih sebuah restoran Thailand yang sudah kami intip reviewnya di Trip Advisor. Jauh-jauh ke Brussel, makan Thai food? Itu adalah hari ke 14ku di Eropa, dan lidah ini sudah begitu rindu nasi atau mi atau sejenisnya. Pad Thainya berporsi besar, dengan ‘garnalen’ (udang) yang juga besar-besar dan gurih. Sepupuku, Cinth memesan ayam kari hijau, yang juga tak kalah lezat. Usai makan, kami sempat duduk-duduk minum satu pint Stella Artois. Selain coklat, Belgia terkenal juga akan brewerynya. Beberapa merk bir seperti Hoegaarden, Stella Artois dan Palm berasal dari sana. Seusai minum bir kami pindah ke daerah pusat seni di Brussel, Sablon. Sepanjang jalannya banyak sekali galeri-galeri seni, bahkan salah satunya berjudul Indonesie, yang artinya Indonesia. Malam itu di alun-alunnya malam ternyata sedang ada Festival jazz keliling. Sayangnya cuaca begitu dingin, kami pun kembali ke hotel.
image
image

Hari berikutnya, kami mengunjungi grote markt dan Grand Palace yang terletak dalam satu square besar di tengah-tengah kota Brussel. Letaknya di belakang Opera. Jalanan dari Opera menuju Grand Palace dipenuhi aneka toko kudapan dan coklat Belgia, suvenir, warung-warung bir, dan ini dia, kedai-kedai waffle! Waffle dengan Nuttela dan keju adalah favoritku. Tapi walau pun sama-sama Belgia, waffle di Antwerpen lebih enak daripada yang di Brussel. Adonannya lebih pas tekstur dan rasanya. Derita yang sama di beberapa kota di Eropa yang kukunjungi, adalah derita mencari toilet. Selain hampir nggak ada yang gratisan, dan harus bayar dulu baru pintunya terbuka, mencari toilet umum memang termasuk susah setengah mati. Kalau pun ada, di kedai-kedai semacam kedai waffle tadi, ukurannya keciiiil sedikit lebih kecil dari bilik toilet di pesawat. Belum lagi tangganya menuju toilet (biasanya di loteng atau di basement) yang melingkar curam dan sempit. Bayangkan petaka yang mabuk bir dan harus bolak balik ke toilet.
image

image

Sebelum ke Grand Palace kami mampir dulu ke St Hubert galleries, galeri kuno yang cantik tapi kini berisi butik-butik internasional. Walau jauh lebih kecil, konsepnya kurang lebih sama dengan Galeria Vittorio Emanuelle di Milan. Di samping St Hubert ada pasar senggol kecil yang menjual aneka art and craft warga lokal, asesoris gelang, syal rajut dan aneka pernik lainnya. Berjalan kaki ke Grand Palace dan Grote Markt (yang artinya Pasar Besar) square seharusnya tak seberapa jauh, yang bikin lama adalah ritual masuk keluar toko di sisi kanan kiri jalan.
image

Sesampainya di Grand Palace- Grote Markt Square ternyata Festival Jazz utamanya sedang berlangsung. Ini adalah puncak festival jazz keliling yang kami lihat di Sablon malam sebelumnya. Musisi yang tampil selain dari sekitar Belgia, juga US dan UK. Ini tontonan rakyat dan gratis. Area penonton disediakan meja-meja bundar dan kursi plastik putih, dan di sekelilingnya dipagari kedai-kedai bir aneka merk dan bratwurst juga fries. Pilihan kadar birnya juga macam-macam. Mild. Strong. Energy Beer. Kami pilih Palm, yang mild. Ya memang mild sih. Sampai tidak terasa sudah berapa gelas yang kami habiskan. Sebelum kembali ke hotel, kami sempat mampir ke maskot kota Brussel, Maneken Pis (patung anak kecil pipis) dan batal mengambil foto. Malahan sibuk membahas, “apa bagusnya?”, “apa uniknya?”, dan cerita di balik patung itu juga menurut kami ‘biasa saja’.
image

image

Belum lengkap cerita perjalananku tanpa kisah tersesat, ketinggalan kereta, atau kesialan-kesialan serupa. Kali ini judulnya lagi-lagi, ketinggalan kereta untuk kembali ke Rotterdam. Kejadiannya di stasiun Antwerpen, seperti waktu berangkat, kami harus turun di Antwerpen untuk berganti kereta. Waktu tunggunya sekitar 30 menit. Setelah terbirit-birit ke toilet, kami masih punya sedikit waktu untuk membungkus makanan bekal makan di perjalanan kembali ke Rotterdam. Perkiraan waktunya pas. 2 menit sebelum jadwal kereta berangkat, kami sudah sampai di dalam kereta dengan nafas yang tersengal-sengal. Tapi sayangnya, kereta yang kami naiki adalah kereta yang salah. Kereta yang justru kembali ke Brussel! Walhasil kami harus mencari kereta kembali ke Antwerpen dari sebuah stasiun kecil sebelum Brussel. Lalu menunggu lagi di Antwerpen sampai hampir tengah malam karena jadwal keretanya tidak ada yang berdekatan. Udara juga lagi berangin dan suhu cuma sekitar 9′ atau 10′ Celcius. Sekitar pukul 1 dini hari kami baru tiba di Rotterdam yang lebih dingin lagi.

Aku paham betul dan menerapkannya hampir di setiap perjalananku, bahwa tersesat, dan kehilangan adalah bagian penting dari proses menemukan itu sendiri. Tapi pada prakteknya, apalagi bila perjalanan itu dijalani berdua atau lebih, bukan hanya sendiri, tantangannya adalah tidak menuding pihak lain sebagai penyebab kesialan. Aku jadi ingat perjalanan ke Bandung dengan 2 sahabat terdekat beberapa tahun sebelumnya, salah satu dari kami keliru membaca jadwal tiket dan mengakibatkan kami semua ketinggalan pesawat. Apa boleh buat, daripada saling menyalahkan dan merusak sisa perjalanan dengan kata-kata masam dan wajah pahit, kami sama-sama segera cari solusi, yang berakhir dengan naik angkutan dulu ke Jakarta baru terbang ke Surabaya lewat Jakarta.

Dalam banyak hal, mungkin kita terbiasa terjebak dalam kotak (siapa paling) benar dan (siapa paling) salah. Kompetisi menjadi yang terbaik (benar) sudah telanjur melekat dalam diri. Pada prosesnya, seperti saat berlomba, kita jadi kehilangan kesanggupan untuk bergembira dan menikmati perlombaannya. Karena masing-masing kita, sibuk untuk menang. Perjalanan-perjalanan jauh atau dekat, mengingatkan aku untuk tidak takut tersesat, kehilangan, atau bahkan kalah, sekali pun.
image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s