image

Malam itu hujan datang sekenanya. Membatalkan terlalu banyak janji, mematahkan lebih banyak hati. Dan memadamkan yang terlanjur patah berulang.

Dia, perempuan muda yang demikian rajin menabung luka. Celengan tembikarnya penuh keping kehilangan, dan lembaran pilu yang ngilu.
Malam itu, ia merapal janji pada dirinya. Sayup pada awalnya. Lantang pada akhirnya. Ia siap membuka hatinya, menata ulang retakannya, dan berhenti mengunjungi celengan tembikarnya.

Seminggu kemarin, ia membuat ritual kecil perpisahan dengan celengan tembikarnya. Tarian di bawah gemintang, air mata yang jalang. Senandung bersambung lolong panjang. Telanjang.

Lelaki itu, datang seperti hujan malam itu. Sekenanya.
Kebetulan yang hangat mempertemukan mereka. Bukan di kedai kopi yang menyeduh luka dalam cangkir.
Bukan juga di kelab malam yang menawarkan bebas luka semalam.

Taman berdanau itu terletak tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Matahari bahkan belum menggeliat di peraduannya,
Lelaki itu, bersila di depan danau melukis luka.
Luka yang demikian hebat melebihi isi celengan tembikar perempuan itu.
Sapuan kuasnya tegas, tanpa gegas. Lelaki itu menyapa tanpa melepas pandangnya dari kanvas di depannya.
Meminta perempuan itu duduk. Menyodorkan selembar koran untuk beralas dari rumput yang basah.
Mereka duduk bersisian. Menyulam sunyi.
Menabung luka.
Mereka, perempuan dan lelaki itu, datang sekenanya. (Mungkin masih) menyulam sunyi. Menabung luka..
Tak lagi sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s