image

“Be strong”.
Katanya. Katamu. Kata mereka. Kataku pada hati. Ia dituntut untuk kuat. Berlapis baja. Walau tidak anti jatuh tapi harus tetap tahan banting. Dilarang lembek, empuk, karena itu gejala kelemahan yang paling utama.

“Stay strong”.
Katanya. Katamu. Kata mereka. Kataku. Saat hati mulai melemas.  
Lalu kita merapal doa yang pintas. Lekas-lekas.
Untuk tidak merasa. Lepas dari lemas. Untuk menjadi kebal ever after. 

Mungkin, lagi kita berasumsi. Happily ever after cuma bualan kesiangan, propaganda harapan yang berlebihan. Mengada-ada. Kekanak-kanakan. 
Kita yang mengaku dewasa, begitu ingin membuktikan kekuatan kita, keberpihakan kita pada kenyataan, kepercayaan kita pada bukti, fakta dan semua yang terlihat, tersentuh, tertelan, terdengar, tapi tidak pada yang terasa.

Karena rasa adalah anak kesayangan Hati. Tempat kelemahan bersarang, beranak pinak, meringkuk sabar sebelum menyerang. 

Seseorang yang kukenal, mematahkan semua dengan pesannya.
“To feel is to heal”.
Seseorang yang kutemui dalam suatu kebetulan yang katanya bukan. Karena dia percaya, nggak ada yang terjadi cuma karena kebetulan.

Saat bertemu dengannya, aku dan seorang lagi sahabat lamaku, Riska, sedang ingin berobat jalan dari sakit hati stadium tinggi. 
Roberto (bukan) kebetulan adalah seorang teman dari teman sahabatku. Istilah Temanceptionnya mungkin teman lapis ketiga.  
Ada sesuatu tentang Roberto yang menenangkan. Bukan cuma aku yang merasakan ini, tapi juga Riska sahabatku.

Dalam pertemuan pertama itu, Roberto tanpa segan membagikan kisahnya. Tentang bagaimana dia mengasingkan dirinya dari hati, dan jalan gelap yang dipilihnya karena aneka penyangkalan. Dan bagaimana intervensi ilahi menyelamatkannya. Kisah yang membuat Riska dan aku rindu berbaikan dengan hati.

Kami berdua sempat mengumpati hati. Yang sudah kami bela dan perjuangkan sekian lama, tapi ternyata tak mengantarkan kami pada akhir yang indah.
Mungkin ada baiknya dia dibiarkan patah. Once and for all. Kami dua perempuan rasional dan mandiri yang punya titik lembek yang sama.  Dikutuk dengan kriptonit yang sama. 
Apalagi kalau bukan Cinta.
Dan subkriptonit yang sama juga: Bukan cinta yang patah satu tumbuh seribu. Ah!

Hari berikutnya, kami bersama-sama ‘piknik’ ke perkebunan kopi di daerah Gianyar. Dari 5 orang yang berangkat bersama, 2 di antaranya benar-benar total stranger. Tapi hari itu, kami seperti sahabat lama yang saling menguatkan. Mungkin karena pada akhirnya kami berani terlihat patah. 

image

Kami mengobrol lepas, main heads-up game, tertawa dan menangis bersama seharian. Terus terang, aku agak kewalahan menuliskannya, karena khawatir mengecilkan artinya. Ada beberapa hal yang terlalu megah di hati, yang kupikir lebih baik dibiarkan di sana, agar maknanya tak bergeser, apalagi disalah-artikan. Tapi kisah ini kutulis karena kerinduan untuk berbagi jadi akan kucoba untuk menuliskan ulang bekal dari obrolan dengan Roberto hari itu.  

1. Halangan terbesar dari kesembuhan hati adalah penyangkalan. 

2. “It is okay not to be okay”

3. “To feel is to heal” 

4. Tetap percaya walau tak terlihat dan tak terpikir. 

5. Tak ada yang kebetulan, dan tak ada yang sia-sia.

6. Energi positif akan menarik energi positif juga dan bisa saling menguatkan (Positif bukan berarti nggak bisa patah atau nggak bermasalah)

7. Letting go, atau ikhlas berarti berhenti melawan menggunakan kekuatan (sendiri).

image

Setelah healing trip itu, kami masih saling berkomunikasi dengan satu sama lain dan juga Roberto. Dia sempat bilang, ingin membukukan kisah perjalanannya. Membagikan pesan untuk tak takut pakai hati. Sebenarnya itu adalah sebuah proyek kecil dengan mimpi besar yang tak sempat terjadi. Dia ingin aku membantunya menulis. 
Selain menyentuh banyak hati, dan membantu meditasi, Roberto juga aktif menyelamatkan anjing-anjing kelaparan, dan yang ditelantarkan pemiliknya di Bali bersama suaminya, Mike. 
Karena sakit paru-paru akut yang sudah lama dideritanya, Roberto mendahului kami semua, berpulang, beberapa bulan yang lalu. Kisahnya memang tak sempat terbukukan, tapi aku yakin, sahabat-sahabat yang sempat disentuh hatinya akan terus membagikannya dengan cara masing-masing. 
Karena kami, pejuang hati, tak lagi takut babak belur.

Rest in peace dearest Roberto Tandrik…
image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s