image

Tidak ada yang tak biasa dari perempuan itu.
Tatap matanya wajar. Senyumnya cenderung tawar. Riasannya samar.

Perempuan yang tidak membuat siapa pun menoleh atau mengunci pandang.
Perempuan yang biasa kau senggol tanpa sengaja di persimpangan jalan, lalu kau ucapkan maaf ala kadarnya tanpa kau tatap matanya.

Perempuan yang biasa kau rebut antriannya karena terlihat tak perlu buru-buru.

Perempuan itu Lara.
Nama yang pedih untuk seorang perempuan yang berpenampilan wajar. Seumur hidupnya ia berjuang untuk tak terlihat lara. Ternyata memasang senyum tak semudah melangkahkan kaki ke depan.

Ia pernah bertanya pada Ibunya, kenapa harus Lara?
Ia cemburu pada senyum lebar Ibunya, suaranya yang lantang dan tatapannya yang nyalang.
Kau tau jawab Ibunya?
Perempuan itu hanya terbahak hebat. Mengusap rambut putrinya, mengambil selembar label kosongan dan pena lalu meletakkannya di hadapan Lara.

Usianya belum genap 7 tahun saat itu. Ibunya bilang, tak ada yang terlalu belia atau terlalu renta untuk mengenali rasa.

Ibu memintanya menuliskan setiap rasa di label-label kosong tadi. Seperti perasaannya sekarang, saat Ibu bukannya menjawab pertanyaan sederhananya melainkan memintanya melabeli rasa.

Marah.
Bingung.
Kecewa.

Sampai Ibunya meninggal 10 tahun kemudian, Lara tak pernah mendapat jawabnya. Kenapa harus Lara?
Entah terdorong rasa ingin tahunya, atau kemarahannya, Lara begitu sibuk melabeli rasa.
Tak ada satu rasa pun yang terlewat.
Ia mengenali mereka, satu demi satu. Tanpa ampun.
Sampai pada satu waktu, seseorang memaksanya melabeli rasa dengan Cinta.
Namanya Perkasa. Sama seperti tubuhnya yang liat, tegap berkilat-kilat. Seorang pelaut yang menidurinya di saat matahari kembali ke peraduannya, dan kembali menidurinya saat matahari mengumandangkan pagi.
Perkasa sungguh memabukkan Lara. Rasa berlabel Cinta mendadak menjadi favoritnya. Senyumnya tak lagi tawar. Tubuhnya beranjak mekar.
Sedemikian mekar, sampai Perkasa semakin gemas pada kedua payudaranya. Malam itu, malam terakhir sebelum kekasihnya harus kembali melaut.
Lara mengusap-usap perutnya yang membusung. Perkasa tidur di atas dadanya. Dengkurannya membuat bakal manusia di dalam perutnya menendang dan menyikut.

Perkasa meninggalkan Lara di pagi yang gelap. Dan tak pernah lagi berkabar, apalagi berkunjung.
Lara melahirkan dalam gelap, di antara desis dan hujat yang akrab.
Bijak. Demikian dinamainya putranya. Yang memilih tak menangis saat dilahirkan. Pada saat Lara tersenyum, barulah Bijak membisikkan tangis pertamanya.

Perempuan itu Lara.
Nama yang pedih untuk seorang perempuan yang berpenampilan wajar. Seumur hidupnya ia berjuang untuk tak terlihat lara. Ternyata memasang senyum tak semudah melangkahkan kaki ke depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s