image

Di pekarangan rumahnya, di antara pot tembikar bunga mataharinya, ada sebuah timbangan tua.

Timbangan dari kuningan yang biasa ditemui di toko-toko kelontong, untuk menakar berat tepung, gula, telur atau apa saja yang butuh ditimbang-timbang agar penjualnya tak bimbang menentukan harga. Pemberatnya sama terbuat dari kuningan, yang sudah menghitam pada tepi-tepinya. Asyik dicumbui karat yang kelewat sarat.

Ia suka sekali duduk di pekarangannya, menghadap timbangan tuanya. Agak berlebihan bila menyebutnya timbangan kesayangannya. Karena ia benar-benar cuma punya satu timbangan saja. Tak ada yang bisa dijadikan pembanding.

Lain halnya dengan laki-laki yang sedang menguras sedikitnya tujuh per delapan oksigen dari otaknya. Laki-laki yang diutus jauh-jauh entah dari masa lalu atau masa depan. Laki-laki yang belum lama datang. Laki-laki yang sesungguhnya sudah lama jadi sekedar ide. Gagasan tentang seseorang yang pas berkendara dengannya menuju masa depan. Gagasan yang hampir siap dia lupakan.

Pada timbangan itu dia gemar mengadu. Seperti sekarang, bertumpu di antara kedua dagunya. Ia tergugu. Bukan karena patah hatinya seperti yang sudah-sudah. Tapi karena entah yang tak berkesudahan.

Hatinya mengenal terlalu banyak kehilangan. Mengakrabi kesepian. Berakar. Membelukar melilit-lilit.
Sampai pada akhirnya matanya tertambat pada timbangan tua di pasar loak. Lima tahun yang lalu.

Sejak itu Ia punya kebiasaan baru, kebiasaan yang sekaligus membuatnya tak lagi merasa sendirian. Menakar-nakar dan menimbang-nimbang. Harus persis. Tak boleh bimbang. Intuisi dan hati itu petaka. Ganjaran ikut perasaan.

Ia terlihat sibuk memindah letakkan pemberat-pemberat kuningan pada alas pengukur. Mengangkat hatinya sedikit, memeganginya setengah wadah, tapi tak pernah meletakkannya penuh. Baru kali ini ia benar-benar ingin tahu hasilnya. Sekaligus ketakutan bila hasilnya bukan sama dengan, melainkan lebih kecil. Takut hatinya tak cukup kuat. Takut seperti dulu.
Sambil menahan nafasnya, perlahan diturunkannya lagi hatinya. Dapat dirasakannya persendian pada jemarinya ngilu menahan berat hatinya.
Saat itu juga bibirnya merasakan hangat yang luar biasa. Memabukkan tapi tetap menjejak. Ada gelenyar yang bukan sesaat. Akrab walau belum terbiasa. Di saat itu juga hatinya menggelinding begitu saja ke dasar wadah timbangan. Jatuh. Hatinya jatuh. Tapi ia tak lagi peduli. Jemarinya tertaut. Menaut. Bibirnya terpagut. Memagut. Laki-lakinya. Dirinya. Karena berhati-hati mungkin tak pernah jadi takdir hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s