image

Ia memilih untuk tidak mengaku.
Tapi tidak pula menyangkal bila dituding.
Terlebih sekarang, saat Ibunya menudingnya suka perempuan.

Ia berusaha menangkap kata-kata yang meletup letus berhamburan dari bibir Ibunya.
Persis seperti kembang api di tahun baru. Meriah. Hanya saja kali ini tanpa suara.
Ia hanya ingat mengangguk, tamparan keras Ibu di pipinya.
Lalu suara tangisan. Ibu. Pecah membelah-belah.

Hatinya porak poranda. Ikut pedih, sekaligus bingung. Kenapa keterusterangannya melukai Ibu. Kenapa ketelanjangannya merisaukan Ibu.

Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya melihat Ibu menangis.

Tapi ia ingat kapan terakhir kalinya melihat Ibunya tertawa.
Saat itu usianya belum 5 tahun. Sehari sebelum perayaan ulang tahunnya. Ibu, Ayah dan dirinya pergi ke toko kue. Toko sederhana berwarna jingga yang baru buka dekat alun-alun kota.

Hannaaa???

Sepintas lalu, mata Ibunya berwarna hitam. Hanya di saat-saat tertentu, saat Ibu benar-benar mendelik atau berbinar-binar, warna kecoklatan di bola matanya mendominasi. Cantik.
Seperti kali itu. Saat perempuan itu menyapa Ibunya dengan panggilan gadisnya.

Perempuan itu memeluk Ibunya dan mengusap-usap tengkuk Ibunya di antara
“Baik kabarmu?”, “Ya ampun” dan sebuah kecup di kening Ibunya.

Ibunya memperkenalkan Ayah dan dirinya kepada perempuan yang dipanggilnya Dillah. Sekedarnya saja, sebelum keduanya kembali lesap dalam tawa lepas, di antara erat taut jemari mereka

——

Rohanna. Demikian Ibuku memanggilku. Lengkap. Tak pernah dipendekkan menjadi Roh, Han, Hana, atau Anna.
Ayah memanggilku sesukanya. Seringkali cuma “Nak”. Tak lebih dan tak kurang.

Sejak kecil, aku tidak pernah suka main boneka, masak-masakkan, apalagi berdandan.
Rambutku sih tetap panjang karena Ibu bilang begitu, dan Ayahku yang tak banyak bicara cuma bilang “turuti apa kata Ibumu”.
Kawan lelakiku jumlahnya dua atau tiga kali lipat kawan perempuanku. Pernah seorang kawan perempuanku bertanya, kenapa aku memilih bermain bola dan bersepeda sampai dekil tak karuan.
Aku ingat, tak punya jawaban. Lalu makin bingung karena Meta, nama kawan perempuanku itu dan beberapa kawan lainnya mulai mengolok-olokku yang dianggap naksir salah seorang kawan lelaki geng main bolaku.

“Jadi anak perempuan nggak boleh cuek dan dekil begitu”
“Ngelamun lagi. Pengen dapet pacar? Gimana cowok bisa naksir kalau ga mau belajar dandan”
“Kamu tuh cewek kok pake rok cuma kalau ke sekolah aja”

Sebenarnya aku pernah lelah. Betapa orang-orang di sekitarku merasa selalu punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka kepadaku.
Mungkin diamku terlalu menggelisahkan bagi mereka. Atau mungkin kegelisahan mereka yang malah bikin aku (memilih) diam.

Diam, mungkin caraku mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan yang belum tentu akan berubah jadi kepastian. Dan yang menurutku, sungguh tidak harus jadi pasti.
Ibu selalu bilang “yang pasti-pasti saja” dan Ayah, “Apa kata Ibumu saja”.
Yang pasti-pasti saja justru selalu bikin aku bertanya-tanya. Dalam diam.

Waktu itu usiaku 14 tahun. Basah kuyup kehujanan setelah bersepeda ke pemancingan bersama kawan-kawan lelakiku.
Rumahku tidak searah dengan Bram, tapi ia berkeras mengantarku pulang.
Karena hujan terlalu deras, kami berteduh sebentar di sebuah reruntuhan bekas pos sekuriti kompleks perumahan.
Minisetku tak cukup tebal dirembesi hujan sedemikian deras. Putingku terbentuk jelas. Bram, yang usianya setahun lebih tua dariku, duduk gelisah dan membuang pandang.
Aku malah mendekatkan posisi dudukku, bersila berhadapan. Mengolok-oloknya, lalu bersandar sekenaku di pundaknya sambil asal saja membenarkan ikat rambutku.

Pada saat aku menoleh untuk mengambil karet rambutku yang jatuh di balik punggungnya Bram meremas payudaraku sambil melumat cepat bibirku. Kikuk setelahnya, Ia buru-buru minta maaf dan memintaku bersumpah untuk tidak pernah membicarakannya lagi. Selamanya.
Kami pulang bersepeda dalam diam. Tanpa olok-olok dan jajan cakwe di gerbang kompleks rumahku seperti biasa.

Aku ingat memandangi diriku di cermin lama sekali. Tidak ada rasa berdebar sedikit pun. Rasa senang, apalagi bangga seperti teman-teman perempuanku yang lain selepas ciuman pertamanya. Tidak juga rasa malu, atau marah.
Aku juga ingat lebih mendekatkan wajahku ke arah cermin. Mencoba menemukan apa yang salah dari diriku.
Satu hal yang kuingat betul, aku tidak mau kehilangan Bram. Lebih tepatnya aku tidak rela kehilangan dinamika geng.

Setelah ciuman itu, Bram memilih menghindar. Sampai pada satu siang, aku sengaja menunggunya di perpustakaan sekolah. Tempatnya sembunyi sampai seluruh geng meninggalkan sekolah, terutama aku.
Aku duduk di sebelahnya, kugamit lengannya, menyeretnya ke rak terujung. Lalu kucium dia. Ciuman yang kulatih pada lenganku beberapa hari belakangan ini.
Bram mendorongku jatuh. Lalu “dasar lesbian!”

Sejak dituding Lesbian, aku didepak tanpa kesempatan-untuk- membuktikan-sebaliknya oleh teman-teman lelaki satu geng.
Teman-teman perempuan ikut-ikutan menjauhiku. Takut dipikir lesbi juga. Khawatir nilai jual mereka merosot tajam.

Bram termasuk laki-laki idaman di sekolah. Cowok favorit. Tinggi, atletis, atau apalah mereka bilang. Sebutan-sebutan dan pemandangan yang tidak pernah sekali pun menggetarkan kelaminku, alih-alih hatiku. Jadi mungkin benar, ada yang salah denganku. 
Atau mungkin ini sekedar masalah “kebetulan bukan tipeku” saja.
Tidak lagi punya teman di sekolah jadi membuatku punya banyak waktu mencari tahu. What does it take to be normal.
Aku jadi lebih memperhatikan teman-teman lelakiku, kawan lelaki ayahku, sepupu-sepupu lelakiku. Lelaki-lelaki di televisi, majalah. Lelaki manapun di mana-mana. Lelaki dan kelaminnya yang angkuh. Yang teriak bila ditolak. 
Kupandangi mata mereka dalam-dalam tiap mengobrol, kubiarkan beberapa di antaranya menyentuhku di tempat-tempat yang rahasia. Bersandar, menggantung, duduk, telentang, tengkurap, berulang-ulang. Berbeda-beda, tetapi tetap satu juga hasilnya, aku gagal normal. 

Tak sedikit pun aku menikmatinya. Di dada, terluar maupun terdalam. Pun di kelamin terluar dan terdalamku.
Bedanya, kelaminku jauh dari angkuh.
Tidak seperti lelaki dan kelaminnya, aku sanggup berpura-pura sampai tuntas. Aku mau tahu, benar-benar mau tahu, tanpa jalan pintas.

Tahun pertama di perguruan tinggi, aku memutuskan menghentikan eksperimen berulang dengan hasil yang sama.
Bila laki-laki memang bukan untukku, mungkin benar tudingan Bram dulu. Aku seorang Lesbian. Penyuka sejenisku. Perempuan.
Tapi sampai saat itu, ajaibnya, belum seorang perempuan pun pernah membuatku malas makan, susah tidur, uring-uringan, berdebar-debar, dan aneka gejala lain akibat kejatuhan cinta.
Bereksperimen dengan laki-laki dan kelaminnya ternyata jauh lebih mudah. Mereka semacam spesies dengan kriptonit yang sama:  perempuan dan kelaminnya.
Bereksperimen dengan perempuan membutuhkan lebih dari sekedar kelamin.
Dan apa pun yang lebih dari sekedar kelamin, tak pernah mudah.
Tak semudah mengeratkan pelukanmu pada seseorang yang menganggapmu sahabat tanpa perlawanan hebat dalam diri untuk mengecup bibirnya.
Tak semudah menyembunyikan tatap cemburu pada tiap lelaki yang digilai sahabatmu, dan keinginan untuk membalaskan sakit hati sahabatmu setiap para lelaki itu mematahkan hatinya.

Sahabatku. Kekasihku. Mungkin dia tahu. Mungkin juga tidak. Mungkin dia tak perlu tahu. Belum. Atau belum mau tahu. “Ariella, boleh panggil Ariel. Atau Lala boleh juga tapi Ella lucu juga…” Demikian racaunya saat kami pertama kali bertemu, di kantor tempatku bekerja.
Ia, seorang anak magang dan aku yang ditugaskan untuk membimbingnya selama masa magangnya.

______

Bantingan pada pintu membuatnya tersedak. Tangisnya makin menjadi. Ia meraih handphone dari sisi tempat tidurnya. Emergency contact. Hanna.

______

Namaku Ariella. Boleh dipanggil Ariel. Atau Ella. Lala juga lucu sih. Kawan SD sampai SMA biasanya memanggilku Lala. Kawan kuliah, Ella. Tapi orang-orang terdekatku memanggilku Ariel. Cuma Hanna, yang memanggilku Ar. Artinya apa, tanyaku suatu hari. Dia bilang karena Ar cuma untuk orang yang lebih dekat dari yang paling dekat.

(Bersambung ☺)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s