Embun dan Fajar di Semesta Laternatif*

*Ini bukan typo. Maksudnya nanti-nanti, entah kapan, bisa iya bisa enggak

“What the fog!”

Fajar melompat dari peraduan

Coba lihat!”

Rasa, menyelinap pelan-pelanMengira tak ada yang tahu

Celingak-celinguk saat langit dipecah jingga”

“Ya mana mungkin rasa tahan

Tinggal diam dalam-dalam”

Balas Embun sekenanya”

Tapi kan di dalam lebih aman

Nyaman dalam-dalam”

Balas Fajar setengah gusar


Rasa memang bukan penyabar seperti Embun

Juga bukan pencuri peluk semalaman seperti Fajar

Ia pantas menandak-nandak, penasaran.

Karena Rasa,akan (ti)ada pada masanya

Masa yang niscaya bukan milik Embun dan Fajar di semesta Laternatif

Haikuhibiniu

Hijau di danau
Berperahu sendiri
Melupa jingga

Semilir surau
Mengembuskan dahulu
Menenun bila
Mana kulupa
Suatu hari nanti
Cara berpulang

Hijau di danau
Berperahukan diri
Melupa jika


Rawa Pening, 2017

Hampir Usai Hujan Bulan Juni

Hujan bulan Juni
Malam minta pulang
Sudah larut, katanya
Pagi mengeratkan pelukan
Nanti saja, rajuknya

Sungguh, tak ada yang terlalu dini
Untukmu membiasakan diri
Pada hal-hal yang tak kunjung usai
Seperti kita, di bulan Juni

Seperti juga kata-kata
yang bergelantungan di langit kamar
Tak ada yang lebih sedih
dari sebuah kisah yang berhenti di kata hampir
Usai hujan bulan Juni

Bukan semesta alternatif, Juni 2021

Fajar dan Embun di Semesta Alternatif

Lalu mereka berdebat
Tentang waktu yang tepat
Untuk rindu

Mana sempat?
Tukasnya cepat
Sambil mengambil tempat
Di sisi Embun

Terlambat,
Fajar menyadari
Bahwa tepat
Tak perlu cepat-cepat

Fajar dan Embun, di semesta alternatif