image

Sejauh Kita, Hari Ini

Hari ini kucumbui
Andai.
Yang dihembus kemarin

Andai menggeliat
Jengah di antara engah
Lihat!

Erangnya padu
Merdu
Dusta mengambil rupa
Pedih sempurna

Hari ini kupunguti
Remah.
Yang diporakporandakan kemarin.
Anehnya, renyah.

Tak kunjung enyah.
Walau dilumat Karena
Kenapa keras kepala
Bah!

Andai dan remah 
Sejauh kita hari ini.
Karena esok, 
Hanya entah yang punya

image

Ia memilih untuk tidak mengaku.
Tapi tidak pula menyangkal bila dituding.
Terlebih sekarang, saat Ibunya menudingnya suka perempuan.

Ia berusaha menangkap kata-kata yang meletup letus berhamburan dari bibir Ibunya.
Persis seperti kembang api di tahun baru. Meriah. Hanya saja kali ini tanpa suara.
Ia hanya ingat mengangguk, tamparan keras Ibu di pipinya.
Lalu suara tangisan. Ibu. Pecah membelah-belah.

Hatinya porak poranda. Ikut pedih, sekaligus bingung. Kenapa keterusterangannya melukai Ibu. Kenapa ketelanjangannya merisaukan Ibu.

Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya melihat Ibu menangis.

Tapi ia ingat kapan terakhir kalinya melihat Ibunya tertawa.
Saat itu usianya belum 5 tahun. Sehari sebelum perayaan ulang tahunnya. Ibu, Ayah dan dirinya pergi ke toko kue. Toko sederhana berwarna jingga yang baru buka dekat alun-alun kota.

Hannaaa???

Sepintas lalu, mata Ibunya berwarna hitam. Hanya di saat-saat tertentu, saat Ibu benar-benar mendelik atau berbinar-binar, warna kecoklatan di bola matanya mendominasi. Cantik.
Seperti kali itu. Saat perempuan itu menyapa Ibunya dengan panggilan gadisnya.

Perempuan itu memeluk Ibunya dan mengusap-usap tengkuk Ibunya di antara
“Baik kabarmu?”, “Ya ampun” dan sebuah kecup di kening Ibunya.

Ibunya memperkenalkan Ayah dan dirinya kepada perempuan yang dipanggilnya Dillah. Sekedarnya saja, sebelum keduanya kembali lesap dalam tawa lepas, di antara erat taut jemari mereka

——

Rohanna. Demikian Ibuku memanggilku. Lengkap. Tak pernah dipendekkan menjadi Roh, Han, Hana, atau Anna.
Ayah memanggilku sesukanya. Seringkali cuma “Nak”. Tak lebih dan tak kurang.

Sejak kecil, aku tidak pernah suka main boneka, masak-masakkan, apalagi berdandan.
Rambutku sih tetap panjang karena Ibu bilang begitu, dan Ayahku yang tak banyak bicara cuma bilang “turuti apa kata Ibumu”.
Kawan lelakiku jumlahnya dua atau tiga kali lipat kawan perempuanku. Pernah seorang kawan perempuanku bertanya, kenapa aku memilih bermain bola dan bersepeda sampai dekil tak karuan.
Aku ingat, tak punya jawaban. Lalu makin bingung karena Meta, nama kawan perempuanku itu dan beberapa kawan lainnya mulai mengolok-olokku yang dianggap naksir salah seorang kawan lelaki geng main bolaku.

“Jadi anak perempuan nggak boleh cuek dan dekil begitu”
“Ngelamun lagi. Pengen dapet pacar? Gimana cowok bisa naksir kalau ga mau belajar dandan”
“Kamu tuh cewek kok pake rok cuma kalau ke sekolah aja”

Sebenarnya aku pernah lelah. Betapa orang-orang di sekitarku merasa selalu punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka kepadaku.
Mungkin diamku terlalu menggelisahkan bagi mereka. Atau mungkin kegelisahan mereka yang malah bikin aku (memilih) diam.

Diam, mungkin caraku mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan yang belum tentu akan berubah jadi kepastian. Dan yang menurutku, sungguh tidak harus jadi pasti.
Ibu selalu bilang “yang pasti-pasti saja” dan Ayah, “Apa kata Ibumu saja”.
Yang pasti-pasti saja justru selalu bikin aku bertanya-tanya. Dalam diam.

Waktu itu usiaku 14 tahun. Basah kuyup kehujanan setelah bersepeda ke pemancingan bersama kawan-kawan lelakiku.
Rumahku tidak searah dengan Bram, tapi ia berkeras mengantarku pulang.
Karena hujan terlalu deras, kami berteduh sebentar di sebuah reruntuhan bekas pos sekuriti kompleks perumahan.
Minisetku tak cukup tebal dirembesi hujan sedemikian deras. Putingku terbentuk jelas. Bram, yang usianya setahun lebih tua dariku, duduk gelisah dan membuang pandang.
Aku malah mendekatkan posisi dudukku, bersila berhadapan. Mengolok-oloknya, lalu bersandar sekenaku di pundaknya sambil asal saja membenarkan ikat rambutku.

Pada saat aku menoleh untuk mengambil karet rambutku yang jatuh di balik punggungnya Bram meremas payudaraku sambil melumat cepat bibirku. Kikuk setelahnya, Ia buru-buru minta maaf dan memintaku bersumpah untuk tidak pernah membicarakannya lagi. Selamanya.
Kami pulang bersepeda dalam diam. Tanpa olok-olok dan jajan cakwe di gerbang kompleks rumahku seperti biasa.

Aku ingat memandangi diriku di cermin lama sekali. Tidak ada rasa berdebar sedikit pun. Rasa senang, apalagi bangga seperti teman-teman perempuanku yang lain selepas ciuman pertamanya. Tidak juga rasa malu, atau marah.
Aku juga ingat lebih mendekatkan wajahku ke arah cermin. Mencoba menemukan apa yang salah dari diriku.
Satu hal yang kuingat betul, aku tidak mau kehilangan Bram. Lebih tepatnya aku tidak rela kehilangan dinamika geng.

Setelah ciuman itu, Bram memilih menghindar. Sampai pada satu siang, aku sengaja menunggunya di perpustakaan sekolah. Tempatnya sembunyi sampai seluruh geng meninggalkan sekolah, terutama aku.
Aku duduk di sebelahnya, kugamit lengannya, menyeretnya ke rak terujung. Lalu kucium dia. Ciuman yang kulatih pada lenganku beberapa hari belakangan ini.
Bram mendorongku jatuh. Lalu “dasar lesbian!”

Sejak dituding Lesbian, aku didepak tanpa kesempatan-untuk- membuktikan-sebaliknya oleh teman-teman lelaki satu geng.
Teman-teman perempuan ikut-ikutan menjauhiku. Takut dipikir lesbi juga. Khawatir nilai jual mereka merosot tajam.

Bram termasuk laki-laki idaman di sekolah. Cowok favorit. Tinggi, atletis, atau apalah mereka bilang. Sebutan-sebutan dan pemandangan yang tidak pernah sekali pun menggetarkan kelaminku, alih-alih hatiku. Jadi mungkin benar, ada yang salah denganku. 
Atau mungkin ini sekedar masalah “kebetulan bukan tipeku” saja.
Tidak lagi punya teman di sekolah jadi membuatku punya banyak waktu mencari tahu. What does it take to be normal.
Aku jadi lebih memperhatikan teman-teman lelakiku, kawan lelaki ayahku, sepupu-sepupu lelakiku. Lelaki-lelaki di televisi, majalah. Lelaki manapun di mana-mana. Lelaki dan kelaminnya yang angkuh. Yang teriak bila ditolak. 
Kupandangi mata mereka dalam-dalam tiap mengobrol, kubiarkan beberapa di antaranya menyentuhku di tempat-tempat yang rahasia. Bersandar, menggantung, duduk, telentang, tengkurap, berulang-ulang. Berbeda-beda, tetapi tetap satu juga hasilnya, aku gagal normal. 

Tak sedikit pun aku menikmatinya. Di dada, terluar maupun terdalam. Pun di kelamin terluar dan terdalamku.
Bedanya, kelaminku jauh dari angkuh.
Tidak seperti lelaki dan kelaminnya, aku sanggup berpura-pura sampai tuntas. Aku mau tahu, benar-benar mau tahu, tanpa jalan pintas.

Tahun pertama di perguruan tinggi, aku memutuskan menghentikan eksperimen berulang dengan hasil yang sama.
Bila laki-laki memang bukan untukku, mungkin benar tudingan Bram dulu. Aku seorang Lesbian. Penyuka sejenisku. Perempuan.
Tapi sampai saat itu, ajaibnya, belum seorang perempuan pun pernah membuatku malas makan, susah tidur, uring-uringan, berdebar-debar, dan aneka gejala lain akibat kejatuhan cinta.
Bereksperimen dengan laki-laki dan kelaminnya ternyata jauh lebih mudah. Mereka semacam spesies dengan kriptonit yang sama:  perempuan dan kelaminnya.
Bereksperimen dengan perempuan membutuhkan lebih dari sekedar kelamin.
Dan apa pun yang lebih dari sekedar kelamin, tak pernah mudah.
Tak semudah mengeratkan pelukanmu pada seseorang yang menganggapmu sahabat tanpa perlawanan hebat dalam diri untuk mengecup bibirnya.
Tak semudah menyembunyikan tatap cemburu pada tiap lelaki yang digilai sahabatmu, dan keinginan untuk membalaskan sakit hati sahabatmu setiap para lelaki itu mematahkan hatinya.

Sahabatku. Kekasihku. Mungkin dia tahu. Mungkin juga tidak. Mungkin dia tak perlu tahu. Belum. Atau belum mau tahu. “Ariella, boleh panggil Ariel. Atau Lala boleh juga tapi Ella lucu juga…” Demikian racaunya saat kami pertama kali bertemu, di kantor tempatku bekerja.
Ia, seorang anak magang dan aku yang ditugaskan untuk membimbingnya selama masa magangnya.

______

Bantingan pada pintu membuatnya tersedak. Tangisnya makin menjadi. Ia meraih handphone dari sisi tempat tidurnya. Emergency contact. Hanna.

______

Namaku Ariella. Boleh dipanggil Ariel. Atau Ella. Lala juga lucu sih. Kawan SD sampai SMA biasanya memanggilku Lala. Kawan kuliah, Ella. Tapi orang-orang terdekatku memanggilku Ariel. Cuma Hanna, yang memanggilku Ar. Artinya apa, tanyaku suatu hari. Dia bilang karena Ar cuma untuk orang yang lebih dekat dari yang paling dekat.

(Bersambung ☺)

image

“Life is about taking chances”

“Life is the chance itself”

“Chances are, you are not used to taking one”

“What, you mean Life? It is already here without me having to taking it”

“But you would have to actually choose”

“Would I?”

“Well, yes. Eventually”

“Like when, now?”

“I said, eventually”

They were not alike. They were never alike.
In fact, they were two different entities. Entirely.

They both held their cups in silence. Not for long. They would resume talking, soon. Disagreeing on things. Small things. Big things. Anything.

“Are you sure that you are not just in love with the idea of me?”

“And what the heck does it even mean?”

“It’s not me, it is just the idea of me”

“But you are the whole idea of you”

“You’re missing the point”

“Am I? Care for a joint?”

“Stop twist-rhyming my word”

“Ah, the word sword!”

“Cut it out, I am deadly serious”

They could go for hours, just talking.
They were not alike. They were never alike.
In fact, they were two different entities. Entirely.
Two different entities, but their hearts.

image

Di pekarangan rumahnya, di antara pot tembikar bunga mataharinya, ada sebuah timbangan tua.

Timbangan dari kuningan yang biasa ditemui di toko-toko kelontong, untuk menakar berat tepung, gula, telur atau apa saja yang butuh ditimbang-timbang agar penjualnya tak bimbang menentukan harga. Pemberatnya sama terbuat dari kuningan, yang sudah menghitam pada tepi-tepinya. Asyik dicumbui karat yang kelewat sarat.

Ia suka sekali duduk di pekarangannya, menghadap timbangan tuanya. Agak berlebihan bila menyebutnya timbangan kesayangannya. Karena ia benar-benar cuma punya satu timbangan saja. Tak ada yang bisa dijadikan pembanding.

Lain halnya dengan laki-laki yang sedang menguras sedikitnya tujuh per delapan oksigen dari otaknya. Laki-laki yang diutus jauh-jauh entah dari masa lalu atau masa depan. Laki-laki yang belum lama datang. Laki-laki yang sesungguhnya sudah lama jadi sekedar ide. Gagasan tentang seseorang yang pas berkendara dengannya menuju masa depan. Gagasan yang hampir siap dia lupakan.

Pada timbangan itu dia gemar mengadu. Seperti sekarang, bertumpu di antara kedua dagunya. Ia tergugu. Bukan karena patah hatinya seperti yang sudah-sudah. Tapi karena entah yang tak berkesudahan.

Hatinya mengenal terlalu banyak kehilangan. Mengakrabi kesepian. Berakar. Membelukar melilit-lilit.
Sampai pada akhirnya matanya tertambat pada timbangan tua di pasar loak. Lima tahun yang lalu.

Sejak itu Ia punya kebiasaan baru, kebiasaan yang sekaligus membuatnya tak lagi merasa sendirian. Menakar-nakar dan menimbang-nimbang. Harus persis. Tak boleh bimbang. Intuisi dan hati itu petaka. Ganjaran ikut perasaan.

Ia terlihat sibuk memindah letakkan pemberat-pemberat kuningan pada alas pengukur. Mengangkat hatinya sedikit, memeganginya setengah wadah, tapi tak pernah meletakkannya penuh. Baru kali ini ia benar-benar ingin tahu hasilnya. Sekaligus ketakutan bila hasilnya bukan sama dengan, melainkan lebih kecil. Takut hatinya tak cukup kuat. Takut seperti dulu.
Sambil menahan nafasnya, perlahan diturunkannya lagi hatinya. Dapat dirasakannya persendian pada jemarinya ngilu menahan berat hatinya.
Saat itu juga bibirnya merasakan hangat yang luar biasa. Memabukkan tapi tetap menjejak. Ada gelenyar yang bukan sesaat. Akrab walau belum terbiasa. Di saat itu juga hatinya menggelinding begitu saja ke dasar wadah timbangan. Jatuh. Hatinya jatuh. Tapi ia tak lagi peduli. Jemarinya tertaut. Menaut. Bibirnya terpagut. Memagut. Laki-lakinya. Dirinya. Karena berhati-hati mungkin tak pernah jadi takdir hati.

image

I believe that there are things called Fate. Destiny.
Things that are bound to happen. No matter what. Things we have no control over. Things that are predetermined. Inevitable things. Big big picture things.

I also believe that there is always a choice. The free will. The act of taking a plunge. The will to explore those roads less traveled.

None of it might ever make any sense. And they probably don’t have to, anyway. Like the most of us, I walk on. But wandering does not stop me wondering.

I have met people. People I’d rather not meet. People I wished I had met sooner. We are just bound to meet. Bumping up to each other no matter what. Despite my Choices.
The inevitable.

What about the free will. The choices I think I always have.
Or am I being led to believe that there is. Was it ever?
As a parent, I wanted my 7 year old son to become someone who knows what he really wanted. Someone who will not let others decide for him.
Understanding that one actually has choices, recognizing the options, and making a decision are tough stuff  to teach.
So I simply encourage my boy to know what he wanted Most. To Choose.
I create an illusion of Having Choices. I lay the options for him.
Like this one time when I didn’t want him to spend too much time in the game arcade, I asked him to choose between hourly charged Playground or book store.
He choosed Playground. Happily.
Not just because he loved playing there, but because his mom was Not telling him to go to the playground. It was entirely up to him whether he wanted to play there or not.

What if that too happens in a much much bigger picture. That we are given simply an illusion of having a choice.
The options are after all predetermined. The inevitable is bound to happen no matter what.
Whatever I choose, no matter how far I deviate from whatever it is that is bound to happen, Fate will meet me at some point of my journey. My very journey. One I’d love to think that I have control over.

One thing I know, for sure. As a parent, I want my boy to choose good. To do good. To live. And not to be afraid.
So I guess in a let’s-look-at-the-big- picture spirit, instead of frustrating over such allegations of being ‘Tricked’ or ‘Trapped’, I choose to ask. What is My purpose in this road less traveled.
The big picture answer would simply be “To Live” and to touch the Life of other people. But It is entirely up to me to figure out How and Whose. Or not?

“We don’t always get to choose. Choose, anyway.
We don’t always have to know the answers. Ask, anyway”

image

Tidak ada yang tak biasa dari perempuan itu.
Tatap matanya wajar. Senyumnya cenderung tawar. Riasannya samar.

Perempuan yang tidak membuat siapa pun menoleh atau mengunci pandang.
Perempuan yang biasa kau senggol tanpa sengaja di persimpangan jalan, lalu kau ucapkan maaf ala kadarnya tanpa kau tatap matanya.

Perempuan yang biasa kau rebut antriannya karena terlihat tak perlu buru-buru.

Perempuan itu Lara.
Nama yang pedih untuk seorang perempuan yang berpenampilan wajar. Seumur hidupnya ia berjuang untuk tak terlihat lara. Ternyata memasang senyum tak semudah melangkahkan kaki ke depan.

Ia pernah bertanya pada Ibunya, kenapa harus Lara?
Ia cemburu pada senyum lebar Ibunya, suaranya yang lantang dan tatapannya yang nyalang.
Kau tau jawab Ibunya?
Perempuan itu hanya terbahak hebat. Mengusap rambut putrinya, mengambil selembar label kosongan dan pena lalu meletakkannya di hadapan Lara.

Usianya belum genap 7 tahun saat itu. Ibunya bilang, tak ada yang terlalu belia atau terlalu renta untuk mengenali rasa.

Ibu memintanya menuliskan setiap rasa di label-label kosong tadi. Seperti perasaannya sekarang, saat Ibu bukannya menjawab pertanyaan sederhananya melainkan memintanya melabeli rasa.

Marah.
Bingung.
Kecewa.

Sampai Ibunya meninggal 10 tahun kemudian, Lara tak pernah mendapat jawabnya. Kenapa harus Lara?
Entah terdorong rasa ingin tahunya, atau kemarahannya, Lara begitu sibuk melabeli rasa.
Tak ada satu rasa pun yang terlewat.
Ia mengenali mereka, satu demi satu. Tanpa ampun.
Sampai pada satu waktu, seseorang memaksanya melabeli rasa dengan Cinta.
Namanya Perkasa. Sama seperti tubuhnya yang liat, tegap berkilat-kilat. Seorang pelaut yang menidurinya di saat matahari kembali ke peraduannya, dan kembali menidurinya saat matahari mengumandangkan pagi.
Perkasa sungguh memabukkan Lara. Rasa berlabel Cinta mendadak menjadi favoritnya. Senyumnya tak lagi tawar. Tubuhnya beranjak mekar.
Sedemikian mekar, sampai Perkasa semakin gemas pada kedua payudaranya. Malam itu, malam terakhir sebelum kekasihnya harus kembali melaut.
Lara mengusap-usap perutnya yang membusung. Perkasa tidur di atas dadanya. Dengkurannya membuat bakal manusia di dalam perutnya menendang dan menyikut.

Perkasa meninggalkan Lara di pagi yang gelap. Dan tak pernah lagi berkabar, apalagi berkunjung.
Lara melahirkan dalam gelap, di antara desis dan hujat yang akrab.
Bijak. Demikian dinamainya putranya. Yang memilih tak menangis saat dilahirkan. Pada saat Lara tersenyum, barulah Bijak membisikkan tangis pertamanya.

Perempuan itu Lara.
Nama yang pedih untuk seorang perempuan yang berpenampilan wajar. Seumur hidupnya ia berjuang untuk tak terlihat lara. Ternyata memasang senyum tak semudah melangkahkan kaki ke depan.

image

It is never easy to stop remembering things and get emotionally attached. To the memories. Not necessarily to the person(s) in it.
The next thing I’d do would be, saying, inside my head, that I’d give up anything to relive those days all over again.
It happened to me. And it is happening again now, as we are approaching the new year. When the opportunity is there, out in the brightest spot to Create new memories. To overwrite the old ones. And yet here I am, wishing to relive (some of) those days all over again.

I wanted to believe that we have fuller control of our Present. And that is exactly where I should stick my head, and drag my heart along. Not the past.
Not that bitch.
I have this sick crave to put all concerning characters (read: Not the Persons) together, (trying to) relive the same memories. But it, not surprisingly though, fails to no avail.
Maybe because they are Persons. Not just Characters in My story. My memory.
They are real persons, with their own emotions and its complexities, with their changing needs and insights.

So maybe, maybe this is the time to eventually cut off the rope. One that chokes me insanely tight to the past.
One that keeps me obsessed with the idea of the person I think I need.
Perhaps this is exactly when I should sneak out from my comfort box, and start embracing the fact that there is life too, outside that very box.

Perhaps acceptance is a sugarcoated cowardice.
Perhaps happiness are treasures, scattered all along in the journey, not in the destination.
Perhaps I am wrong. But hell yeah, I’m gonna find out about it soon rather than not ever.

image

“Be strong”.
Katanya. Katamu. Kata mereka. Kataku pada hati. Ia dituntut untuk kuat. Berlapis baja. Walau tidak anti jatuh tapi harus tetap tahan banting. Dilarang lembek, empuk, karena itu gejala kelemahan yang paling utama.

“Stay strong”.
Katanya. Katamu. Kata mereka. Kataku. Saat hati mulai melemas.  
Lalu kita merapal doa yang pintas. Lekas-lekas.
Untuk tidak merasa. Lepas dari lemas. Untuk menjadi kebal ever after. 

Mungkin, lagi kita berasumsi. Happily ever after cuma bualan kesiangan, propaganda harapan yang berlebihan. Mengada-ada. Kekanak-kanakan. 
Kita yang mengaku dewasa, begitu ingin membuktikan kekuatan kita, keberpihakan kita pada kenyataan, kepercayaan kita pada bukti, fakta dan semua yang terlihat, tersentuh, tertelan, terdengar, tapi tidak pada yang terasa.

Karena rasa adalah anak kesayangan Hati. Tempat kelemahan bersarang, beranak pinak, meringkuk sabar sebelum menyerang. 

Seseorang yang kukenal, mematahkan semua dengan pesannya.
“To feel is to heal”.
Seseorang yang kutemui dalam suatu kebetulan yang katanya bukan. Karena dia percaya, nggak ada yang terjadi cuma karena kebetulan.

Saat bertemu dengannya, aku dan seorang lagi sahabat lamaku, Riska, sedang ingin berobat jalan dari sakit hati stadium tinggi. 
Roberto (bukan) kebetulan adalah seorang teman dari teman sahabatku. Istilah Temanceptionnya mungkin teman lapis ketiga.  
Ada sesuatu tentang Roberto yang menenangkan. Bukan cuma aku yang merasakan ini, tapi juga Riska sahabatku.

Dalam pertemuan pertama itu, Roberto tanpa segan membagikan kisahnya. Tentang bagaimana dia mengasingkan dirinya dari hati, dan jalan gelap yang dipilihnya karena aneka penyangkalan. Dan bagaimana intervensi ilahi menyelamatkannya. Kisah yang membuat Riska dan aku rindu berbaikan dengan hati.

Kami berdua sempat mengumpati hati. Yang sudah kami bela dan perjuangkan sekian lama, tapi ternyata tak mengantarkan kami pada akhir yang indah.
Mungkin ada baiknya dia dibiarkan patah. Once and for all. Kami dua perempuan rasional dan mandiri yang punya titik lembek yang sama.  Dikutuk dengan kriptonit yang sama. 
Apalagi kalau bukan Cinta.
Dan subkriptonit yang sama juga: Bukan cinta yang patah satu tumbuh seribu. Ah!

Hari berikutnya, kami bersama-sama ‘piknik’ ke perkebunan kopi di daerah Gianyar. Dari 5 orang yang berangkat bersama, 2 di antaranya benar-benar total stranger. Tapi hari itu, kami seperti sahabat lama yang saling menguatkan. Mungkin karena pada akhirnya kami berani terlihat patah. 

image

Kami mengobrol lepas, main heads-up game, tertawa dan menangis bersama seharian. Terus terang, aku agak kewalahan menuliskannya, karena khawatir mengecilkan artinya. Ada beberapa hal yang terlalu megah di hati, yang kupikir lebih baik dibiarkan di sana, agar maknanya tak bergeser, apalagi disalah-artikan. Tapi kisah ini kutulis karena kerinduan untuk berbagi jadi akan kucoba untuk menuliskan ulang bekal dari obrolan dengan Roberto hari itu.  

1. Halangan terbesar dari kesembuhan hati adalah penyangkalan. 

2. “It is okay not to be okay”

3. “To feel is to heal” 

4. Tetap percaya walau tak terlihat dan tak terpikir. 

5. Tak ada yang kebetulan, dan tak ada yang sia-sia.

6. Energi positif akan menarik energi positif juga dan bisa saling menguatkan (Positif bukan berarti nggak bisa patah atau nggak bermasalah)

7. Letting go, atau ikhlas berarti berhenti melawan menggunakan kekuatan (sendiri).

image

Setelah healing trip itu, kami masih saling berkomunikasi dengan satu sama lain dan juga Roberto. Dia sempat bilang, ingin membukukan kisah perjalanannya. Membagikan pesan untuk tak takut pakai hati. Sebenarnya itu adalah sebuah proyek kecil dengan mimpi besar yang tak sempat terjadi. Dia ingin aku membantunya menulis. 
Selain menyentuh banyak hati, dan membantu meditasi, Roberto juga aktif menyelamatkan anjing-anjing kelaparan, dan yang ditelantarkan pemiliknya di Bali bersama suaminya, Mike. 
Karena sakit paru-paru akut yang sudah lama dideritanya, Roberto mendahului kami semua, berpulang, beberapa bulan yang lalu. Kisahnya memang tak sempat terbukukan, tapi aku yakin, sahabat-sahabat yang sempat disentuh hatinya akan terus membagikannya dengan cara masing-masing. 
Karena kami, pejuang hati, tak lagi takut babak belur.

Rest in peace dearest Roberto Tandrik…
image

Perjalanan ambisius kali ini, adalah Brussel. Waktunya, lagi-lagi sepakat singkat. 2 malam saja. Sepupuku, Cinth dan aku berangkat dari Rotterdam Centraal Station selepas makan siang. Brussel terbilang dekat dari Belanda, hanya sekitar 3 jam perjalanan, melewati Antwerpen.
image

Karena Belgia yang memang terletak di antara Belanda dan Perancis, kebudayaan di sana, gaya bangunan dan bahasanya, sebagian Belanda, sebagian lagi Perancis. Dialeknya juga berbeda. Sebagian besar masih berbahasa Belanda, tapi mereka juga fasih berbahasa Perancis. Nama-nama jalannya saja sebagian berbahasa Belanda (berakhiran dengan Straat yang artinya Jalan) dan sebagian lagi berbahasa Perancis (berawalan Rue yang juga berarti Jalan).
image
image

Kami harus berganti kereta di Stasiun Antwerpen, dan menunggu sekitar 30 menit. Harum waffle dari kedai kaki lima menggugah selera tapi antriannya panjang juga. Kalau kami ketinggalan kereta, harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk keberangkatan berikutnya.

Kami tiba di Brussel menjelang sore, suhu kala itu sekitar 13′ C. Cukup menyebalkan, dingin dan berangin. Untungnya hotel kami tak begitu jauh dari stasiun. Berjalan kaki kurang dari 15 menit. Sama seperti rata-rata pertokoan di Eropa, selepas jam 5 kita cuma bisa window shopping, literally. Hanya bisa ngintip-ngintip dari jendela toko, karena semuanya sudah tutup. Malam itu kami langsung naik Metro menuju daerah Opera. Metro di Brussel seperti di Paris dan Italia, bisa beli day trip, atau beli per perjalanan. Untuk day trip biaya yang dipatok kurang lebih sama, sekitar 6 Euro. Di daerah Opera, ada gang panjang yang ramai dengan kafe-kafe dan restoran. Kami memilih sebuah restoran Thailand yang sudah kami intip reviewnya di Trip Advisor. Jauh-jauh ke Brussel, makan Thai food? Itu adalah hari ke 14ku di Eropa, dan lidah ini sudah begitu rindu nasi atau mi atau sejenisnya. Pad Thainya berporsi besar, dengan ‘garnalen’ (udang) yang juga besar-besar dan gurih. Sepupuku, Cinth memesan ayam kari hijau, yang juga tak kalah lezat. Usai makan, kami sempat duduk-duduk minum satu pint Stella Artois. Selain coklat, Belgia terkenal juga akan brewerynya. Beberapa merk bir seperti Hoegaarden, Stella Artois dan Palm berasal dari sana. Seusai minum bir kami pindah ke daerah pusat seni di Brussel, Sablon. Sepanjang jalannya banyak sekali galeri-galeri seni, bahkan salah satunya berjudul Indonesie, yang artinya Indonesia. Malam itu di alun-alunnya malam ternyata sedang ada Festival jazz keliling. Sayangnya cuaca begitu dingin, kami pun kembali ke hotel.
image
image

Hari berikutnya, kami mengunjungi grote markt dan Grand Palace yang terletak dalam satu square besar di tengah-tengah kota Brussel. Letaknya di belakang Opera. Jalanan dari Opera menuju Grand Palace dipenuhi aneka toko kudapan dan coklat Belgia, suvenir, warung-warung bir, dan ini dia, kedai-kedai waffle! Waffle dengan Nuttela dan keju adalah favoritku. Tapi walau pun sama-sama Belgia, waffle di Antwerpen lebih enak daripada yang di Brussel. Adonannya lebih pas tekstur dan rasanya. Derita yang sama di beberapa kota di Eropa yang kukunjungi, adalah derita mencari toilet. Selain hampir nggak ada yang gratisan, dan harus bayar dulu baru pintunya terbuka, mencari toilet umum memang termasuk susah setengah mati. Kalau pun ada, di kedai-kedai semacam kedai waffle tadi, ukurannya keciiiil sedikit lebih kecil dari bilik toilet di pesawat. Belum lagi tangganya menuju toilet (biasanya di loteng atau di basement) yang melingkar curam dan sempit. Bayangkan petaka yang mabuk bir dan harus bolak balik ke toilet.
image

image

Sebelum ke Grand Palace kami mampir dulu ke St Hubert galleries, galeri kuno yang cantik tapi kini berisi butik-butik internasional. Walau jauh lebih kecil, konsepnya kurang lebih sama dengan Galeria Vittorio Emanuelle di Milan. Di samping St Hubert ada pasar senggol kecil yang menjual aneka art and craft warga lokal, asesoris gelang, syal rajut dan aneka pernik lainnya. Berjalan kaki ke Grand Palace dan Grote Markt (yang artinya Pasar Besar) square seharusnya tak seberapa jauh, yang bikin lama adalah ritual masuk keluar toko di sisi kanan kiri jalan.
image

Sesampainya di Grand Palace- Grote Markt Square ternyata Festival Jazz utamanya sedang berlangsung. Ini adalah puncak festival jazz keliling yang kami lihat di Sablon malam sebelumnya. Musisi yang tampil selain dari sekitar Belgia, juga US dan UK. Ini tontonan rakyat dan gratis. Area penonton disediakan meja-meja bundar dan kursi plastik putih, dan di sekelilingnya dipagari kedai-kedai bir aneka merk dan bratwurst juga fries. Pilihan kadar birnya juga macam-macam. Mild. Strong. Energy Beer. Kami pilih Palm, yang mild. Ya memang mild sih. Sampai tidak terasa sudah berapa gelas yang kami habiskan. Sebelum kembali ke hotel, kami sempat mampir ke maskot kota Brussel, Maneken Pis (patung anak kecil pipis) dan batal mengambil foto. Malahan sibuk membahas, “apa bagusnya?”, “apa uniknya?”, dan cerita di balik patung itu juga menurut kami ‘biasa saja’.
image

image

Belum lengkap cerita perjalananku tanpa kisah tersesat, ketinggalan kereta, atau kesialan-kesialan serupa. Kali ini judulnya lagi-lagi, ketinggalan kereta untuk kembali ke Rotterdam. Kejadiannya di stasiun Antwerpen, seperti waktu berangkat, kami harus turun di Antwerpen untuk berganti kereta. Waktu tunggunya sekitar 30 menit. Setelah terbirit-birit ke toilet, kami masih punya sedikit waktu untuk membungkus makanan bekal makan di perjalanan kembali ke Rotterdam. Perkiraan waktunya pas. 2 menit sebelum jadwal kereta berangkat, kami sudah sampai di dalam kereta dengan nafas yang tersengal-sengal. Tapi sayangnya, kereta yang kami naiki adalah kereta yang salah. Kereta yang justru kembali ke Brussel! Walhasil kami harus mencari kereta kembali ke Antwerpen dari sebuah stasiun kecil sebelum Brussel. Lalu menunggu lagi di Antwerpen sampai hampir tengah malam karena jadwal keretanya tidak ada yang berdekatan. Udara juga lagi berangin dan suhu cuma sekitar 9′ atau 10′ Celcius. Sekitar pukul 1 dini hari kami baru tiba di Rotterdam yang lebih dingin lagi.

Aku paham betul dan menerapkannya hampir di setiap perjalananku, bahwa tersesat, dan kehilangan adalah bagian penting dari proses menemukan itu sendiri. Tapi pada prakteknya, apalagi bila perjalanan itu dijalani berdua atau lebih, bukan hanya sendiri, tantangannya adalah tidak menuding pihak lain sebagai penyebab kesialan. Aku jadi ingat perjalanan ke Bandung dengan 2 sahabat terdekat beberapa tahun sebelumnya, salah satu dari kami keliru membaca jadwal tiket dan mengakibatkan kami semua ketinggalan pesawat. Apa boleh buat, daripada saling menyalahkan dan merusak sisa perjalanan dengan kata-kata masam dan wajah pahit, kami sama-sama segera cari solusi, yang berakhir dengan naik angkutan dulu ke Jakarta baru terbang ke Surabaya lewat Jakarta.

Dalam banyak hal, mungkin kita terbiasa terjebak dalam kotak (siapa paling) benar dan (siapa paling) salah. Kompetisi menjadi yang terbaik (benar) sudah telanjur melekat dalam diri. Pada prosesnya, seperti saat berlomba, kita jadi kehilangan kesanggupan untuk bergembira dan menikmati perlombaannya. Karena masing-masing kita, sibuk untuk menang. Perjalanan-perjalanan jauh atau dekat, mengingatkan aku untuk tidak takut tersesat, kehilangan, atau bahkan kalah, sekali pun.
image

Perjalanan ke kota-kota besar dunia memang asyik. Mungkin karena informasi untuk destinasi unggulannya sudah begitu banyak tersedia. Praktis. Aman, dan biasanya keduanya membawa nyaman.

Mungkin saya bukan orang yang mudah nyaman dengan rasa aman. Beberapa butir cemas dan was-was itu pelengkap perjalanan yang terasyik. Makanya saya suka sekali dengan kota-kota kecil di satu negara. Apalagi kota yang punya ‘hidden jewel’ seperti yang satu ini.

Perjalanan saya ke Italia kala itu, berawal dari Milan, lanjut ke Firenze atau Florence, dan berakhir di Roma. Tapi tulisan kali ini bukan tentang Milan, bukan juga tentang Roma. Tulisan saya kali ini tentang romantisme was-was di Firenze.

Kota kecil, yang hanya berjarak sekitar 2 jam berkereta dari Milan. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar tahun 2010. Kali itu hanya day trip. Karena saya pikir, kotanya terlalu kecil dan tak banyak yang dilihat. Ternyata sesampainya di sana, saya harus menjilat pikiran sendiri. Kota kecil ini cantik, dengan resto italia rumahan di sudut-sudut jalan. Bukan metropolis. Senyum hangat dan sapaan Ciao! masih terbilang mudah didapatkan di saat menyeduh cappucino di teras kafe, atau saat menunggu churros di kaki lima.

Setahun kemudian, saya kembali ke sana. Menginap 2 malam. Seperti biasa, waktu adalah komoditi termahal di samping nilai mata uang. Perjalanan-perjalanan saya selalu terlihat ambisius. Cuma punya waktu seminggu atau 2 minggu, tapi bercita-cita keliling beberapa negara dan kota, dan harus menjajal transportasi publiknya. Padahal, ambisius = kurang waktu dan kurang dana. Kadang terpikir, apakah bila saya punya waktu dan dana tak terbatas saya akan lebih menikmati perjalanan saya? Jawabnya, boleh dicoba, tapi saya rasa kok belum tentu. Kepuasan yang dipanjang-panjangkan berbuah jenuh dan krisis apresiasi. Sementara kepuasan yang dibatasi atau ditahan, berbuah apresiasi dan ketagihan jangka panjang.

Kunjungan pertama dan kedua saya, tetap tanpa ikut tur. Saya butuh cemas. Deg-degan supaya merasa hidup. Deg-degan pertama adalah ternyata saya dan sahabat salah baca informasi di tiket kereta. Bodohnya kami menunggu di platform yang salah. Dan kereta kami ke Firenze dari Milan, sudah berangkat sejam yang lalu. Walhasil, kami harus menunggu kereta berikutnya sekitar 2 jam lagi. Lalu berdiri di kereta selama sekitar 2 jam lagi karena secara teknis kami jadi semacam penumpang gelap yang tak punya nomor tempat duduk.

Seharusnya kami membeli tiket bernomor tempat duduk lagi ke kantor stasiun, tapi kami memutuskan. Well, tepatnya saya, memutuskan nekat mengambil resiko naik ke kereta berikutnya tanpa melapor (supaya tidak harus beli tiket lagi :D). Sahabat saya, yang terbiasa tepat segala dan toleransi was-wasnya sangat kecil, tak bisa menyembunyikan wajah tegangnya sepanjang perjalanan.

Saat kondektur datang mengecek, saya menjelaskan apa adanya, merutuki kebodohan sendiri dan menjual alasan paling standar: kami turis yang baru pertama kalinya berkereta ke Firenze. Kondektur memaafkan kami. Membolak-balik tiket euro railpass kami, lalu kembali merengut. Sial, apa lagi?

Ternyata, kami juga lupa memvalidasi rail pass kami di stasiun sebelumnya. Railpass ini berlaku untuk 3 hari jadi kami harus mendapatkan stempel ‘start’nya di stasiun pertama, supaya petugas tahu bahwa kami berkereta dengan railpass yang masih berlaku. Wajah sahabat saya sudah pucat pasi. Membayangkan denda 500 euro (seingat saya) yang harus kami bayarkan per orang. Tapi silence is golden, dan mungkin juga the best sign of remorse ya? Karena kami tidak mungkin menjual alasan ‘kami turis yang baru pertama kali berkereta ke Firenze’ lagi. Kondektur itu memeriksa mata kami. Mencari-cari tanda kebodohan dan penyesalan. Sepertinya dia menemukannya karena ia akhirnya melepas kami tanpa denda, dengan wanti-wanti, hal pertama yang harus kami lakukan sesampai di Firenze adalah memvalidasi railpass kami. Kami berjanji.

Sesampainya di Santa Maria Novella, Firenze, hal pertama yang kami lakukan adalah pontang-panting ke toilet sebelum ke kantor stasiun. Toilet-toilet di stasiun kereta Eropa itu menyebalkan. Kita harus selalu menyiapkan uang 50 sen. Bayar di muka. Masukkan ke boks baru pintunya terbuka. Petaka buat yang kebelet luar biasa, dan kiamat buat yang tidak punya uang receh. Untungnya keduanya tak terjadi pada kami berdua saat itu.
image

Usai memvalidasi tiket, kami berjalan kaki ke penginapan yang hanya berjarak sekitar 10 menit. Sederhana dan hangat ala rumah keluarga Italia. Kebanyakan penginapan di sana memang masih dikelola oleh pemiliknya yang memang si empunya rumah yang masih tinggal di sana juga. Hari sudah hampir sore saat kami tiba di Firenze, malam itu kami habiskan di sebuah resto Italia kecil (dan sialnya namanya saya lupa, kartu namanya pun entah di mana) di pojok jalan tak seberapa jauh dari hotel. Sekitar 5 menit berjalan kaki. Selain memesan aneka pasta favorit seperti gnocchi pesto dan spinach ravioli, kami juga menghabiskan malam dengan menertawakan kekonyolan hari itu di antara denting gelas anggur. Minum wine di restoran Italia rumahan benar-benar murah. Dihidangkan di glass jug bukan di botolnya, saya curiga mereka punya galon anggur, bukan air mineral di dapurnya.
image

Hari berikut, kami bangun pagi-pagi sekali untuk sarapan. Hanya madelaine (seperti di Perancis) dan butter, croissant dan aneka selai. Padahal kami mengharapkan aneka kudapan Italia. Mungkin saja mereka pikir, menghidangkan sarapan a la Perancis lebih gaya dan memikat. Sayang ya?

Sekedar saja sarapannya, karena hari itu ada yang dinanti-nanti sekian lama. Berbelanja di Outlet bermerk di pedesaan di luar kota kecil Firenze. Designer brand. Dengan harga mediocre brand. Asli dengan harga KW premium mahal sedikit. Too good to be true but it is true.

Bagi saya, merk pilihan itu bukan cuma soal prestige semata. Kualitas itu penting. Daripada punya selemari tas KW saya memilih punya beberapa gelintir tas asli yang berkualitas dengan desain yang klasik, atau sekalian tas non designer brand yang bagus desain dan kualitasnya. Biasanya yang jadi masalah adalah ada harga, ada kualitas. Membeli tas itu di butiknya di Indonesia atau di Singapur sama dengan mencekik leher sendiri. Itu lah kenapa saya paling bergairah mencari designer brand outlet saat traveling.

Untuk sampai di outlet andalan saya ini, kita butuh naik kereta antar desa, yang terbilang kumuh dan jauh sekali kondisinya bila dibandingkan dengan kereta antar kota Milan – Firenze atau Milan – Roma. Harus hati-hati melihat jadwal, karena kalau sampai ketinggalan kereta untuk kembali ke Firenze, pilihannya cuma cari penginapan di desa yang jarang rumah penduduknya itu, atau naik taksi dari stasiun Regello ke Milan, yang pastinya akan bikin kami meringis menahan pedih.

Di Leccio, Regello ada outlet Prada terbesar. Tapi saya bukan termasuk seseorang yang suka diberi pilihan, bila tidak akan (ngotot) mencari sendiri. Dan kebetulan, I am not a big fan of Prada. Kami memilih the Mall, outlet. Walau pun namanya Mall, bentuknya bukan seperti mall di Asia. Butik-butiknya bersisian, bentuknya walau lebih kecil, termasuk biasa saja, seperti rata-rata outlet bermerk seperti di Le Valee Paris, dan La Roca, Barcelona. Yang luar biasa adalah pilihan designer brandnya. Merk-merk tertentu sudah lazim kita temui di branded outlet (Burberry, Longchamp, Zegna, Michael Kors, Furla dll), tapi merk premium seperti Bottega Veneta cuma ada di the Mall. Yang tak kalah asyik, selain harganya yang bisa 70 persen lebih murah dari harga butiknya di kota, kami yang non European citizen juga bisa mendapatkan tax refund sekitar 11-12 persen.

image

The Mall juga punya koleksi Gucci yang terbilang lengkap. Harga dompet kulit pria cuma berkisar 90an Euro saja. Bayangkan! Bagaimana menuju the Mall? Sayangnya tak ada pilihan selain naik Coach atau layanan taksi antar jemput yang sudah menunggu di stasiun Regello. Biayanya 10 Eur/orang/ trip. Jadi kalau PP 20 Eur/ orang. Selain outlet, Leccio Regello ini benar-benar desa yang hijau berbukit-bukit. Dari sana sebenarnya tidak jauh jika ingin mengunjungi Pisa.

Nah, was-was berikutnya adalah menenteng aneka belanjaan pulang dengan kereta. Justru karena lebih dari separuhnya adalah pesanan alias bukan milik sendiri, hati jadi lebih kebat-kebit. Sahabat saya nyaris tak bersuara, sepertinya dia berdoa tanpa henti. Saya sibuk menahan kantuk karena biasanya kereta hanya berhenti sebentar dan tidak ada yang teriak-teriak mengingatkan untuk turun. Gerbong kami hanya berisi tak lebih dari 10 orang. Sepasang kakek nenek, yang sepertinya warga lokal, dan beberapa turis Korea. Sepasang anak muda beranting di hidung dan ujung bibirnya. Warga lokal atau bukan, entahlah. Setelah sempat bengong melihat kantong belanjaan kami dan rombongan turis korea tadi, mereka sibuk bergandengan dan mencuri lumat. Ah!

Sesampainya di Firenze, kami cukup letih tapi terlalu pelit untuk beristirahat. Bagaimana tidak, besok siang kami sudah harus terbang, kembali ke Belanda. Jadilah kami, berjalan-jalan di area pengrajin tas kulit, universitas Firenze, Duomo juga pasar tradisionalnya yang tak begitu jauh dari alun-alun besar yang merupakan pusat perbelanjaan merk-merk retail internasional. Menjilati gelato sambil bersandar di tembok jembatan yang berdiri di atas sungai Arno.
image

image

Firenze adalah kota yang romantis. Dengan bangunan-bangunan renaissancenya yang tetap terjaga. Walau terletak hanya sekitar 3 jam berkereta dari Romawi, pengaruh Romawi nyaris tak ada di sana. Gereja-gereja kunonya (piazza) dan katedralnya (duomo). Sayangnya jadwal kami tidak cocok dengan pasar senggol musiman di Firenze. Aneka hasil kulit dan barang-barang antik dijual di sana. Selain suka berburu designer outlet di negara kunjungan, saya juga suka berdesak-desakkan dan berbelanja di flea market atau pasar senggol. Seru sekali. Beberapa flea market favorit adalah chatuchak di BKK, Puces St.Ouen di Paris dan Groote Markt di Den Haag.
image

Malam itu kami sadar, 2 malam di Firenze adalah dusta yang hebat benar. Kami bertekad untuk kembali lagi ke Firenze, segera, setelah mengunjungi beberapa tempat impian kami (dan daftar itu semakin panjang!) Keesokan paginya, kami cepat-cepat packing dan repacking karena barang bawaan sudah beranak pinak. Terpaksa membatalkan rencana naik Shuttle bus ke budget airport Firenze yang terletak lumayan jauh dari kota. Karena kami harus berjalan kaki dulu ke stasiun Santa Maria Novella, lalu menunggu jadwal Shuttle bus, sementara barang bawaan kami membutuhkan setidaknya 6 tangan. Pilihan kami cuma naik taksi. Mahal? Iya, sakit hati bila dirupiahkan. Waktu itu jumlahnya sekitar sejuta rupiah, dengan jarak tempuh hampir satu setengah jam.

Kami pikir was-was terakhir adalah soal argo taksi yang tak bisa ditawar. Jadi hati-hatilah pada keinginan hati! Was-was masih mengintai dari balik meja check in bagasi. Apa lagi kalau bukan: kelebihan beban bawaan. Dan sadisnya naik budget airline, biaya overweight atau beli bagasi on the spot itu luar biasa mahal. Hebatnya kami, walau panik, kami tak pernah saling tuding atau merutuki satu sama lain. Sahabat saya tetap tenang, membongkar ulang kopernya, membuang toiletriesnya, buku bacaannya dan entah apa lagi yang bisa mengurangi beban bagasinya. Saya pun tak kalah sibuk, sambil mencari-cari penumpang lain yang berwajah ramah dan minim bagasi. Pucuk dicinta, ulam tiba, seorang pemuda baik hati yang ternyata mahasiswa Indonesia di Belanda, menawarkan bantuannya. Jadilah dia mengakui satu kantongan besar milik kami sebagai hand carry itemnya.

Sebagai tanda terima kasih, kami traktir dia minum cappucino dan ini nih, yang asyik, makan thin pepperoni pizza dengan mozzarella yang meleleh-leleh minta ampun dari mesin pizza otomatis. Cuma 5 Euro.

image

image

Ryan Air membawa kami kembali ke Belanda. Seperti naik angkot, tidak ada nomor tempat duduk di Ryan Air. Siapa cepat, dia dapat. Biar murah asal selamat, Ryan Air hampir selalu mendarat sempurna. Disambung dengan bunyi musik Irlandia dan tepuk tangan penumpangnya. Ciao Firenze. Sampai jumpa lagi. “The best things in life are Free?” Hell no ;D

image

Menanggalkan Citra di Ibu Kota.
Langit belum lagi berwarna jingga. Taksi membawaku dan rombongan pemburu hore ke Muara Angke. Kepadatan jalan, di pagi yang masih buta bukan lah sesuatu yang luar biasa. Tapi di antara sembab wajah dan satu dua tai mata yang luput dari usaha membersihkan wajah sekenanya di pukul 4 pagi, ada binar penuh harap. Ada penat yang rindu dilarung.

Kerinduan yang demikian besar membuat kami tak berpikir dua kali untuk berjalan kaki melalui jalanan becek dan berbau di sepanjang pasar ikan untuk mencapai pelabuhan. Buatku, ini pengalaman yang menarik. Aku bahkan tak lagi ingat kapan terakhir kali menginjak pasar tradisional. Sebagai manusia yang diperlakukan waktu sebagai komoditi (bukan sebaliknya), aku dan sebagian besar kawanku terlalu dimanjakan oleh aneka pasar modern, dan penjaja sayur atau ikan keliling. Belakangan, justru makanan rumah adalah kemewahan yang tak terbeli bagi kami, karena sering kali kami harus makan di luar karena jadwal dan rute pekerjaan yang tidak memungkinkan kami pulang dulu untuk sekedar menikmati makanan rumah.

Kali ini, waktu seolah-olah berhenti punya kuasa atas diriku. Dan aku menikmatinya. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit sampai lah kami di pelabuhan Muara Angke. Kapal nelayan yang kami naiki bernama Dolphin. Warnanya biru dan putih. Sewarna dengan terpal yang dihamparkan di dasar geladak. Tak ada satu pun bangku di sana. Para penumpang bebas selonjor, bersila, tengkurap atau memilih apa pun posisi ternyamannya di bawah sana. Setengah berdesakan, aku memilih sisi samping kapal, kemiringannya bisa kujadikan tempat bersandar yang cukup nyaman.

Berdesakan seperti itu membuatku bertanya, kapan terakhir kali aku bersentuhan dengan orang yang sama sekali asing dalam posisi berdesakan seperti ini. Rasa nyaman sudah menjadi biasa, duduk berlapang-lapang di mobil pribadi dengan AC yang disetel sedingin-dinginnya. Tidak seperti sekarang ini. Berhimpitan dan kepanasan. Kulit bersinggungan dengan kulit lain yang asing. Putih pualam. Kuning langsat. Sawo matang hingga gosong sekali pun. Ajaibnya tak satu pun memasang wajah risih. Walau tanpa sengaja. Betapa kita terlalu nyaman dalam jarak. Menciptakan jarak, menjaga jarak, lalu memelihara jarak. Memilih untuk tidak mengenali lebih jauh, karena rasa nyaman yang jadi taruhannya.

Sejak awal memutuskan untuk ikut perjalanan ini, aku memang membuang semua ekspektasi, sampai ke biji-bijinya. Aku ingin menikmati perjalanan ini dan kejutan-kejutannya dengan lapang dada. Bahkan matahari yang membabi buta mengecup wajahku tak lagi mengganggu. Saking nyamannya, aku tertidur selama 3/4 perjalanan. Tidur pulas tanpa direcoki mimpi sepenggal pun.

Waktu yang ditempuh untuk sampai di Pulau Harapan sekitar 3,5 jam. Perjalanan belum usai, kami harus pindah ke kapal nelayan yang lebih kecil untuk dibawa ke Pulau Bira. Dari sekian banyak penumpang di kapal ini, kebanyakan berangkat beramai-ramai. Kelompok terkecil adalah pasangan-pasangan kekasih, dan kelompok terbesar adalah semacam kami ini, 22 orang dengan berbagai latar belakang dan usia. Hanya tujuan kami kurang lebihnya sama, atau setidaknya beda-beda tipis. Menghalau penat. Menabuh keriaan. Berdamai dengan hati. Bagiku pribadi mungkin ini, (kembali) mengakrabi diri sendiri.

Rutinitas pekerjaan, tanggung jawab atas aneka peran yang dijalani setiap hari terkadang membuatku tidak sempat pulang pada diri. Sekedar bercakap-cakap dalam diam. Bahkan sebelum mata terpejam pun, aku masih sibuk berencana. Mengatur langkah dan membuat anggaran. Hidup jadi semata-mata rencana yang berjalan mulus atau rencana yang berakhir berantakan. Kalau hasil akhirnya memang sama tak terjamin, mungkin asyik juga untuk tidak berencana. Sesekali. Supaya bisa bilang “WOW” sekencang mungkin pada diri sendiri. Bukannya “Ah, ya sudah layak dan sepantasnya, perencanaannya kan sudah sangat matang”. Apresiasi dan rasa syukur punya kecenderungan besar untuk bergeser. Karena ada ‘aku’ yang merasa punya kendali. Sementara kema(mp)uan untuk pasrah dan merelakan diri untuk dikejutkan oleh hidup semakin usang, dan terancam punah.

Ketika melihat tautan perjalanan ke Bira ini di halaman media sosial seorang kawan, aku mendaftar tanpa berpikir dua kali. Aku bahkan tak menanyakan apa jadwal acaranya, seberapa jauh, dan aneka pertanyaan lain yang biasanya muncul.

image

Tak kurang dari 30 menit, sampai lah kami di pulau Bira. Matahari sedang lebar-lebarnya menyeringai. Tak ada lagi wajah lelah dan penuh kantuk, semuanya menyeringai tak kalah lebar. Pulau ini akan jadi ‘rumah’, ‘surga’, ‘bunker’, ‘kepompong’ atau apa pun lah bagi masing-masing dari kami selama 2 hari 1 malam.

Berbeda dengan beberapa pulau yang kami lewati, laut di pulau Bira sangat bersih. Tak ada sampah mengapung. Warnanya biru kehijauan. Jernih sampai ke dasarnya di mana terumbu karang berumah. Sayangnya dasar laut di dekat dermaga ini banyak dihuni kawanan bulu babi yang konon mengakibatkan nyeri luar biasa bila terinjak.

Lepas dari lautnya yang bersih dan cantik, Pondok-pondoknya jauh dari kesan terawat. Kayu-kayu pada plafon dan lantainya sudah nyaris habis dimakan usia. 1 dari kamar mandi di pondok kami, sama sekali tidak bisa dipakai. Waktu sudah habis menggerogoti tempat ini tanpa ampun. Pendingin ruangan pun tidak berfungsi lagi. Herannya, dalam situasi atau waktu yang berbeda mungkin aku akan mengomel, minta pindah kamar yang lebih bagus dan lain sebagainya. Kali ini, aku mengijinkan apa pun keadaan dan suasana dalam perjalanan ini mengambil kendali. “Sometimes it is best not to fight, so that you can appreciate things, and people all the more”.

Siang itu sehabis makan siang ikan segar bakar dan lalapan tempe tahu, island hopping yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Pemandangan bawah lautnya memang tak seindah di gili-gili Lombok sana, tapi acara snorkeling ini lebih dari sekedar membandingkan pemandangan bawah laut (sehingga akibatnya jadi kurang bisa menikmati), di bawah sini, kami mendadak lebur dengan alam. Merunduk. Berbaikan kembali. Tanpa jarak. Berbenturan dengan kawan dan orang asing tanpa kuda-kuda yang tak perlu. “When off guard, a person is her/ his own self”. Menertawakan diri sendiri bergantian. Yang perempuan terpingkal-pingkal tanpa make up, tanpa krim tebal pemutih atau bulu mata palsu, yang laki-laki juga, perut buncit, pipi tembam, jerawat yang meradang tak menahan kami untuk bergembira. Aku menemukan benang merah yang menyatukan kami semua di sini. Kerinduan untuk kembali pada diri sendiri. Entah disengaja atau tidak, kami sama menanggalkan citra di ibu kota. Saling bergandengan demi mendapatkan foto bawah laut yang seru. Seringkali tanpa tahu siapa nama orang yang tangannya kami gandeng tanpa ragu. Semuanya tadi, tidak mungkin terjadi di antara bising kota dan cadasnya waktu. Karena kita terlalu sibuk mendengarkan kepala yang penuh dengan kekhawatiran dan desakan untuk berjaga-jaga serta berencana, kita lupa bahwa hati pun punya suara. Percaya…

image

Sore mulai mengobrak-abrik keriaan. Lagi-lagi kami dijajah waktu, walau pun tak seorang pun dari kami (kecuali pemimpin rombongan) mengenakan jam tangan. Kami harus segera ke pulau, -ah, saya lupa namanya!- untuk mendapatkan pemandangan sunset terindah. Tapi apa boleh buat, sunset terindah kami nikmati dari atas atap kapal nelayan kecil yang kami naiki. Tak kalah indah, tentu saja. Matahari yang sama, suasana hati yang sama. Rasa syukur yang juga sama. Malam di pondok kami habiskan dengan bermain tebak kata di depan api unggun. Musik, gelak pingkal, dan lelah yang terabaikan membuat malam merayap lebih lekas dari biasa. Satu persatu mulai rebah, sayup dengkur bersahut-sahutan.

Menata Hati. Kembali ke Ibu Kota.
Pagi itu, hampir semua terbangun dengan wajah tak rela. Setelah menikmati sunrise di dermaga lama pulau Bira, kami berangkat dengan kapal nelayan kecil menuju pulau Bintang. Di sana kami berenang dan snorkeling selama 2 jam, sarapan dan menyeduh kopi pertama pagi itu. Pahit, karena kami cuma punya kurang dari 2 jam lagi untuk kembali ke Ibu Kota. Di pulau ini pun kami sepakat mengabadikan keriaan yang lepas ini dengan membuat sesi video “dancing on the beach” dan beberapa video konyol lainnya. Sesuatu yang bisa jadi pengingat ampuh untuk tetap tertawa sama lepasnya, saat kehidupan kota kembali menindasi diri tanpa jeda.

Tulisan perjalanan ini mungkin bukan tulisan yang kalian harapkan. Tulisan yang berisi rentetan jadwal perjalanan dan tips menarik di tiap lokasi. Perjalanan ke Pulau Bira ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan kembali ke diri sendiri. Kembali mengakrabi diri dan bergumul mesra dengan hati. Sebuah pengingat untuk lebih menikmati hidup dan kejutan-kejutannya yang tak pernah sia-sia. Mungkin ini jawaban atas pertanyaan banyak teman, kenapa aku cukup sering ‘ngabur seenaknya untuk liburan, sewaktu-waktu’. Sesungguhnya, kerinduan itu belum sepenuhnya terbayar lunas. Mungkin saja tak akan pernah terbayar lunas. Setidaknya yang kulakukan adalah mencicilnya sedikit demi sedikit selagi bisa, sebelum rindu itu menjelma jadi letih, dan hati setia membatu. “It is never about the destination. It is the journey that matters the most”

image

@savefunvacation thank you for initiating and arranging the trip. Ditunggu jadwal perjalanan seru berikutnya.

oleh Akbar Firmansyah dan Novita Poerwanto

http://www.semestarasa.wordpress.com

Dingin. Beberapa detak lagi jarum jam akan terlihat seperti sepasang tubuh dalam sebuah pelukan. Saling himpit, satu tubuh menutup tubuh lainnya. Sebuah pelukan yang akan selalu kuingat. Dan, tak akan terhapus oleh musim mana pun. Sementara daun jendela kamar tua ini, masih sedikit terbuka. Belum sempat kututup rapat, karena malam ini, malam bulan mati. Malam yang selalu kutunggu, sebab aku bisa memandang langit yang tampak gelap. Segelap sebuah peristiwa yang selalu menusuk-tikam pikiranku. Angin dari luar kamar — yang kebetulan, jendela di sisi barat kamar tua ini menghadap ke sebuah lahan kosong, yang tak pernah terjamah oleh siapa pun — seperti tangan-tangan lembut yang mengantarkan sebuah kabar dari masa silam, yang kelam. Kabar tentang seorang perempuan yang mencoba menjerit. Tapi, siapa pun tak akan mampu mendengar suaranya. Hanya air matanya, terlihat seperti segar embun yang mulai membasahi dedaun malam hari, lalu, menetes pelan, sepelan napasnya.

Tapi, akan beda halnya ketika kutoleh ke ranjang di sisi selatan kamar ini: Birahi, masih terasa seperti api. Panas yang sudah sangat purba di tubuhku ini. Terkadang, tubuhku masih gemetar, mengingatnya. Setiap kali seperti itu, tiba-tiba keringat dingin selalu meleleh pelan di tubuhku. Keringat yang tak lagi panas seperti keringat seusai ciuman-ciuman menggairahkan itu. Ciuman yang terakhir kali kurasakan, tepat tengah malam pada hari yang kulingkari dengan warna merah, di sebuah kalender tua di sebelah cermin yang terdapat retakan di tengahnya. Di cermin itu juga, ada bekas bibir, merah, terseret sepanjang sekian senti. Cermin yang sudah lusuh oleh debu, tapi masih jelas memantulkan warna perak rambutku.

Setiap tahun, bertahun-tahun lamanya, tak sekali pun aku ingkar. Walau memori yang dulu kuat mengakar kini layaknya belukar. Menyiasati rasa, mengelabui akal. Lebat mengekal.

Waktu. Mungkin akan selalu jadi musuh kita bersama. Seberapa kuat kamu melolong minta tolong, pun seseram apa aku menyalak, dia tak kunjung geming.

Dimensi. Mungkin ia pun lelah merutuki kita yang tak kunjung peduli. Kita yang sibuk merentang renggangkan garisnya. Demi sebuah kecupan kecil. Kecupan kecil yang melontarkanku padamu dan kamu padaku dulu. Saat dimensi menjerit panik di antara riuhnya derit. Saat waktu menandak murka di antara lenguhanmu.

Reuni tahunan yang kunanti, demi merayakan ulang kemenangan kita, dulu, atas mereka. Merasa pernah menang membuatku gelisah. Kemenangan itu lalu jadi candu. Licik merayu. Padahal kita sama tahu, rentetan kekalahan yang harus kuteguki tetesnya menggurati tiap jengkal lidahku, menjorok sampai ke dalam pusat detakku, mengikisi setiap kapur belulangku. Tanpa henti, dalam congkak kekeh dan bahaknya, sampai Waktu sudah bosan mengolok-olokku.

Dingin. Beberapa detak lagi jarum jam akan terlihat seperti sepasang tubuh dalam sebuah pelukan…

***

Suatu pagi yang berkabut di luar jendela — juga kabut yang sama gelapnya, seperti di dalam kepala — membuat mataku yang baru saja terbuka tak lagi terasa berat seperti biasanya. Entah, mimpi semalam, menikam. Anak-anak kecil di dalam mimpi itu seolah kini ada di setiap sudut ruanganku, di sisi-sisi ranjangku. Dengan senyum kecil, tanpa kata, mereka seolah mengingatkanku perihal dosa-dosa. Sesekali beberapa di antara mereka menyalakan lilin, lalu terlihat mulai membakar bajunya sendiri. Tertawa, melihat tubuhnya perlahat tersulut api, lalu perlahan, menghitam. Ingin kutusuk mataku, yang meski kukatupkan, masih saja tampak jelas tubuh-tubuh kecil itu terbakar, tanpa teriakan. Sebuah pemandangan yang menjelma pisau berkarat, diseret-sayatkan di dalam kepalaku.

“Apakah pagi ini begitu menakutkan bagimu?” Tubuhku gemetar. “Bukankah birahi, desah-desah pasrah, lenguh-lenguh bercucur peluh, begitu nikmat kaurasakan?” Bulu-bulu lembut di tanganku, merinding. Bayangan dalam cermin di depanku terlihat berkata lembut, tapi begitu menggema di dalam jantungku.

Entah kenapa, dalam sehari itu — hari yang masih kuingat, agak mendung, dengan sinar matahari menembus sela-selanya, terlihat cantik, seperti jemari emas dari langit — yang seharusnya menyenangkan untuk berjalan-jalan ke kota, justru membuatku terdiam. Pikiranku menyeretku ke sebuah lemari tua, yang lama tak terbuka. Pelan-pelan kuputar kunci, kuambil sebuah buku tua di dalamnya. Kubuka halaman demi halaman: almanak, perhitungan hari, perlengkapan ritual, dan berbagai mantra kuno yang tak jelas artinya. Satu lagi, sebuah keris dengan ukiran emas di tengahnya.

“Bulan mati ada di akhir pekan ini,” aku mulai gemetar.

***

Kau meletakkan telunjuk kananmu pada bibirku. Pekat bola matamu lekat. Waktu itu bulan hampir mati. Setengah mati seperti aku yang meraba paksa penanda, menyebut aneka tuhan yang pernah kukenal, atau yang sekedar pernah kudengar sambil lalu. Semuanya, bungkam.

Ada sesuatu yang memintaku pergi sekaligus tinggal. Sesuatu yang lebih besar dari bulir-bulir peluhku yang turun dalam gegas. Sesuatu yang ingin dikenal, dan diakui. Sesuatu yang lelah menjadi sekedar desas desus murahan orang bertuhan. Sesuatu yang kamu embuskan di antara pagutmu. Satu-satu, lantas beranak pinak menandak-nandak.

Kengerian itu begitu kental. Tapi aku memutuskan untuk tinggal. Melihatmu mengambil rupa. Sama denganku. Hampir.

“Ritual ini belum selesai… ”

Aku seolah mendengarmu berkata-kata. Kata-kata yang kau embuskan di antara kemaluan yang asyik berpagut. Mataku berusaha menangkap bayang di cermin lemari. Mencarimu. Tapi malam demikian pekat. Hanya kelebat tubuh telanjangku yang telentang, dan kabut dingin yang menunggangiku, lebat dan setia. Menghalangi pandanganku dari cermin. Memaksaku percaya, bahwa ini semua nyata adanya. Persis seperti apa yang dijanjikan perhitungan almanak di dalam buku tua itu.

Kuambil keris berukiran emas di bawah bantalku, tepat di saat kabut di atas tubuhku sedang pekat-pekatnya. Mengayun seiring derit. Setengah menjerit.

Pada erang pertama, ritual itu nyaris rampung kabut yang lebat sontak porak poranda, terburai di seluruh penjuru kamar. Dingin. Mataku lekat pada cermin lemari. Nyalang mencari sosokmu. Tapi malam lebih cekatan menyembunyikanmu. Bulan mati malam ini…

Tiba-tiba, kulihat kabut berputar-putar di kamarku, seperti badai. Seperti musim dingin yang deras menelusup ke jantungku, melalui lubang memerah, melelehkan darah, di dada kiriku. Merahnya mulai kental, membeku sebab dingin yang tiba-tiba. Begitu pula yang terjadi pada lelehan di ujung lekuk keris berjumlah tigabelas itu. Jumlah lekukan, yang menurut buku tua itu mampu menghapus semua kesialan-kesialan.

Kabut masih berputar. Kini yang mulai membeku bukan hanya apa yang meleleh dari dada kiriku. Tapi tubuhku, perlahan kaku. Bahkan untuk sekadar menjentikkan jari pun — yang konon bisa membebaskan seseorang dari sleep paralysis, aku tak mampu. Hanya, mataku tetap menyalang tak bisa kukedipkan.

Di mataku, langit-langit kamar yang bertabir samar-samar kabut, menjelma sebuah layar besar. Peristiwa-peristiwa antara sadar dan tak sadar, dengan sosok-sosok yang tak pernah kukenal di dalamnya.

Sampai pada akhirnya, dalam peristiwa-peristiwa — yang lebih menyerupai mimpi — yang ditampakkan di langit-langit kamarku itu, kulihat dirimu. Mengerang lirih, sebab jerit yang tak lagi bersuara. Melelehkan air mata. Tepat di malam bulan mati, tiga tahun lalu.

Sebuah ritual di atas hamparan melati yang menakutkan. Sebab kau, menjemput kematianmu sendiri, setelah birahi-birahi tak selesai. Yang membuat ritual itu begitu menakutkan, kau memintaku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Setelah mengikat tubuhku di kursi tua, menutup mulutku dengan sobekan kain mori. Tak bisa bergerak. Lalu, mengganjal mataku dengan tusuk gigi agar tetap menyala. Menyaksikan takdirmu.

“Tuhan-tuhan telah pergi,” katamu.

Pada ritual malam ini kurasakan, seolah tuhan-tuhan yang kukenal, pergi, membiarkan aku, tebaran-tebaran melati di ranjang, dan sebilah keris, mencumbui kematian. Seperti katamu, kekasihku.

“Tuhan-tuhan telah pergi….”

Belum sempat selesai aku berkata-kata, ada yang datang, lembut, seolah menyadarkan semuanya: Tanah kosong di samping rumah dengan makammu yang dulu kugali sendiri, kabut dingin yang tiba-tiba, dan peristiwa-peristiwa kematian yang mencekam di langit-langit kamar. Keris di tanganku, gemetar. Gemetar!

“Ritual ini tak akan pernah selesai, kekasihku.”

Perlahan, tubuhku mulai bisa kugerakkan. Mataku bisa kukedipakan. Kabut-kabut pergi, bulan mati malam ini, menyisakan satu pertanyaan: Milik siapakah kematian? Milik hasrat, almanak tua, ataukah Tuhan?

oleh: Novita Poerwanto dan Fajar Jasmin

Kudengar mereka memanggilnya Mei. Atau Nonik. Usianya belum lagi 6 tahun. Rambutnya legam dipilin rapi ke belakang, lalu digerai separuh jalan. Kuku-kukunya sebentuk buah pir. Kulitnya sewarna porselen. Celana pendek jins dan kaos oblong putih bersablon the Avengers. Mei tidak pernah memakai gaun. Pernah kulihat Mbak, demikian biasanya ia memanggil pengasuhnya, mencoba memakaikannya padanya. Mei berontak. Memilih berjongkok di pojok dan mengunci mulutnya sesiangan. Menolak makan. Minum. Dan menahan kencing sampai pening. Mbak pun kapok.

Sepasang sandal karet Iron Man mengikuti langkahnya. Berlarian di taman. Si mbak bilang hati-hati, pelan-pelan, awas ini dan awas itu. Tapi Mei tak peduli. Tiap kali mbak mendekat matanya yang sipit mendelik tajam. Mbak, diam.

MEI FANG? Perawat melongokkan kepalanya ke ruang tunggu. Mengulangi panggilan dengan lebih lantang. Aku berdiri, membuka pintu ruang tunggu dan berseru ke arah taman. Si mbak tergopoh-gopoh menghampiri, Mei dalam gendongannya. Tak berontak.

Mbak diam di ruang tunggu. Mei melarangnya masuk. Selalu begitu. Perawat melemparkan tatap tidak-apa-Mei-aman kepada mbak, yang lalu bungkam. Mbak menjatuhkan pantatnya di kursi sebelahku. Kurang hati-hati. Hampir saja menduduki laptopku. Mbak meminta maaf, mengelus-elus punggung laptopku ibaratnya ia anak manusia yang nyaris celaka. Setelah senyum dan merapalkan sekitar 3 atau 4 kali kata maaf lagi, si mbak meletakkan pantatnya dengan sangat hati-hati. Menggeser-geserkan tubuhnya sedikit. Lalu menarik napas, panjang.

Dari ekor mataku kulihat dadanya naik turun. Mbak sedang menahan tangis. Tapi tangis itu kan teramat keras kepala. Semakin ditahan semakin menjadi. Seperti sekarang, mbak sesenggukan.

“Kok bisa…” “anak semanis itu…”

Manis? Tatap galak Mei, aksi ngambeknya, kaki dan tangannya yang menendang kepal ke segala arah.

Tapi Mbak terus berkisah. Pasrah, kubuka telingaku lebar-lebar. Tapi hatiku, mungkin tidak. Karena aku, masih marah. Pertanyaan-pertanyaanku juga selalu diawali dengan “Kok bisa?”, lalu “Kenapa aku?” Dan Dia yang mengaku maha mendengar itu cuma bungkam. Just because He can. Sesederhana itu. Sementang-mentang itu. Kalau dalam kasusku, motifnya bisa saja karena Dia cemburu, kecewa, marah, dan sekedar mencari-cari perhatian. Karena aku sudah terlalu sering menyelingkuhiNya. Padahal, sekali pun aku nggak pernah berjanji untuk setia, atas kemauan sendiri. Selain janji baptis dan pembaharuan janji baptis yang kubaca di antara kantuk dari kertas selebaran misa berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Dia sih punya lebih dari cukup alasan untuk menghukum aku. Menciderai aku sampai babak belur sekali pun. Mencerabuti tiap jengkal fungsi dari tubuhku. Slow, and easy. Tapi, Mei? Kenapa, Mei?

Rupanya tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Atau bisa jadi, memang seharusnya tak perlu dicari jawabannya. Karena tak lama kemudian, Mei sudah keluar dari pintu ruang praktek. Langkahnya kecil-kecil, seperti sedang berjalan mindhik-mindhik. Bersama dengan senyum di mulutnya. Agak aneh memang, membayangkan bahwa di balik senyum itu, ada bahaya yang sedang mengetuk pintu, berharap bahwa si empunya tubuh akan sewaktu-waktu kecele dan lengah menjaga kesehatannya.

Tapi biarlah, mungkin hal itu tidak begitu penting untuk kubiarkan mengganggu pikiranku. Karena tepat ketika aku mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Mei sudah lewat di depanku, merogoh kantongnya, dan membuka telapak tangannya yang kecil sambil bertanya, “Mei punya lolipop. Tante mau?”. Ah, aku mulai perlahan-lahan mengerti kenapa orang sering mengilustrasikan malaikat sebagai seorang anak kecil. Mei seperti tak rela membiarkan aku memusingkan hal-hal yang membingungkan. Mei menawarkan lolipop untuk masalahku. Mei seorang yang hampir bidadari.

Giliranku tiba. Dengan malas, aku menyeret kakiku ke dalam ruang praktek dokter. Ini adalah kunjungan bulanan yang ke-empat puluh tiga kalinya kulakukan. Selalu sangat membosankan. Kadang aku malah setengah berharap kondisiku memburuk tiba-tiba, atau semacamnya. Anything to save me from this boredom. Di atas segala yang menjengkelkan dari penyakitku ini, kebosanan adalah yang paling aku ratapi. Hidupku, yang tadinya penuh corat-coret berwarna, sekarang persis seperti kertas putih yang tak ada isinya. Ah, the good old days. Aku sungguh kangen malam-malam di mana kucakar punggungmu sampai luka, tanpa harus khawatir bahwa aku menularkan sesuatu lewat luka di kulitmu itu. Goodbye, my faithful whip.

“…..harus dijaga dengan sangat hati-hati. Kekebalan tubuh ibu semakin menurun sampai tingkat yang tidak aman.” Lamunanku tersela oleh omongan dokter.

Kalau memang tidak aman, kenapa terus kudengar kalimat itu dalam lima belas bulan terakhir? Toh aku tetap gini-gini aja.

“…..lebih baik Ibu menghindari makanan yang tidak sepenuhnya matang seperti sushi….”

Mbak dokter yang baik dan kelihatannya belum lama lulus kuliah, tahu nggak kalau saya justru sengaja makan makanan yang setengah matang? Celakanya, kok saya tetap gak kenapa-kenapa ya?

“Dijaga kesehatannya ya, Bu…” “Terima kasih, Dok”.

Lantas aku berjalan ke luar, kembali melewati ruang tunggu. Tepat di atas kursi yang tadi kududuki, mataku tertumbuk ke arah sebuah bangau kertas hasil lipatan origami. Warnanya merah cenderung jingga. Samar-samar, terlihat huruf-huruf berbentuk gemuk-gemuk, khas tulisan seorang anak kecil. Penasaran, kubuka lipatannya dan menemukan tulisan dua kalimat sederhana: “Tetap berjuang ya, Tante. Sampai ketemu lagi nanti

Dan itulah kali pertama aku bertemu dia.

***

Kertas origami itu kumasukkan dalam tas. Memberinya ruang terlapang di dalam sana. Menjaganya dari tekanan yang sudah jadi takdirnya pada saat aku memutuskan untuk meletakkannya di sana. Kegilaan ini menurun. Tak tertolong. Jadi benar, aku adalah salah satu dari gambarNya. Kegilaan ini menurun. Dia padaku. Aku pada origami, dan…kamu.

Kamu adalah satu dari sejumlah kecil lelaki yang mengatakan bahwa takdir itu ya takdir. Kita tidak selalu punya pilihan. Termasuk dengan siapa kita jatuh cinta. Obrolan serius ini terjadinya bukan di bar di antara riuh busa bir, bukan juga di tempat tidur hotel short-time. Bukan di tempat yang ‘aku banget’.

Obrolan itu mengambil tempat di rumah seorang kenalan, yang begitu ingin aku bisa kembali mengenalNya. Kenalan yang begitu ingin melayaniNya dengan menjadi sahabatku. Dan kenalanku itu, sebut saja, -bila memang nama itu sebegitu pentingnya-, Nis, begitu yakin kamu akan membawaku kembali padaNya. Berbaikan. Bersekutu. Bukan lagi beradu, walau siapa pun juga sudah tahu siapa pemenangnya.

Kamu dengan kaca mata minusmu. Dengan rambut yang butuh dipangkas sejak berbulan-bulan bahkan mungkin setahun lalu. Seorang frater Fransiskan yang naif. Yang merasa mampu dekat dengan yang terpinggir dengan menjadi bagian dari mereka. Menyatu. Kuulangi sekali lagi, M E N Y A T U. Bahkan menuliskannya sekarang membuatku meledak dalam kekeh sinis. Mengingat bahwa aku juga pernah mengalahkanNya dalam terlalu banyak babak. Telak.Tapi menyombongkannya sama dengan memperlakukan kamu ibarat trofi. Dan kita berdua tahu. Bahkan Dia pun tahu, bahwa itu tidak benar.

Kamu dan origami. Sama. Aku tahu betul Dia maha tahu, pernah dengar Dia maha rahim dan yang masih kusanggah terus adalah Dia yang maha kuasa. Soal kabar burung bahwa Dia pencemburu, aku juga dengar. Tapi toh, pengetahuanku tidak membuatku batal meletakkan kamu dalam hidupku. Hidupku yang jadi bulan-bulananNya. Tempat Dia merayakan kemenangan demi kemenanganNya.

Katamu kamu bingung. Karena kamu mengasihiku sama seperti kamu mengasihiNya. Tapi seringkali kamu merasa tidak adil, karena lebih mengasihi aku. Tapi toh, aku tidak peduli. Aku tetap menjaga hati dan tubuhmu baik-baik. Dengan tidak menghujat namaNya di depanmu. Dengan tidak lagi mencakar punggungmu di antara padu erang kita. Sejak vonis itu…

Mengingat kamu bikin aku jadi sedih. Dan juga paham, tapi tetap tidak rela. Kubuka kembali tasku. Mengambil origami Mei, membolongi bagian tengah atasnya dan merangkaikannya pada kalungku. Bekas kalung salibmu yang sekarang tak lagi. Kugantungkan pada spion mobil. Berayun ke kanan dan ke kiri, berputar seperti waktu yang menolak untuk kembali.

***

Nah, sudah mulai paham kan? Rasanya tidak sulit untuk mengerti mengapa aku adalah aku seperti aku yang ada sekarang ini. Kalau nekat gelut sama Dia, risikonya memang babak belur tak keruan. Kanan-kiri, atas bawah.

Tapi, sungguh mati, aku tak bisa mengerti mengapa hal yang sama terjadi atas diri Mei. Bahkan jika ada kemungkinan bahwa ada alasan di balik hal itu, aku tetap akan menolak untuk memahaminya. Mei -Nonik- adalah kertas putih yang belum dicorat-coret. Tabula rasa. Dipandang dari sudut manapun, Mei harus dilestarikan, bukan dicemari.

Mungkin inilah alasan mengapa akhirnya kuputuskan untuk menyusun suatu rencana untuk Mei, di samping bangau kertas itu.

Bulan berikutnya, dalam jadwal kunjunganku selanjutnya, kubuka pembicaraan dengan pengasuh Mei. Kutanyakan mengenai perkembangan kondisi medis terkininya, keadaan keluarganya, dan sebagainya.

“Mama Nonik meninggal 4 tahun yang lalu, Mbak. Sepertinya ia mengidap virus yang sama dengan Nonik, cuma gak pernah ketahuan sampai terlambat…”

“Nonik gak pernah tahu siapa papanya. Saya juga belum pernah ketemu sama papanya. Menurut cerita omongan orang sih, Mama Nonik mengandung duluan dan tak pernah menikah. Semenjak melahirkan, Mama Nonik tak pernah keluar rumah dan menolak kunjungan teman-teman yang masih peduli kepadanya…”

Ah, kasih tak sampai rupanya. I sympathize.

“Sampai sekarang Mei tinggal sama omanya, dengan dibantu saya sebagai pengasuh….”

Mendengar cerita tersebut, alih-alih lega, aku malah semakin gusar dengan Dia yang mengijinkan hal tersebut dialami oleh Mei. Dengan cepat, kuambil keputusan untuk mengajak untuk mempertemukan Mei denganmu. Bisa jadi alasannya sangat egois, tapi aku ingin kamu, seorang pembela Kebenaran dengan huruf “K” besar, untuk melihat Mei dengan mata kepalamu sendiri. Aku ingin kamu mengakui bahwa Dia mungkin bukan hanya tak perlu, melainkan juga tak pantas, untuk dibela.

Dengan demikian, kita bisa bebas bercinta lagi tanpa perlu menyaksikanmu berlutut berdoa pasca orgasme. Aku tak tahan lagi melihatnya.

***

Matahari sedang tinggi-tingginya. Angkuh menyeringai. Kamu tak bergeming. Sepanjang jalan. Membiarkanku menyetir tanpa sekali pun mengusap tengkukku seperti biasanya. Pandangmu lurus saja ke depan. Ke arah di mana Dia sudah menunggu dengan rencanaNya yang lagi-lagi Maha Sempurna. Pada waktuNya dengan CaraNya. Ya dengan kapital C. CaraNya.

Aku memutuskan untuk sama tak bergeming. Sepanjang jalan. Terus saja menyetir tanpa berusaha menggamit tangan kananmu. Di luar kebiasaan, pandangku lurus saja ke depan. Ke arah di mana aku pada posisi kuda-kuda andalan. Bukan menyerang, tapi mengelak, menangkis, menyalak dan pada akhirnya mungkin, melolong kesakitan dengan caraku. Menolak untuk tunduk. Pada CaraNya.

Masih kuingat Mei yang menyapamu riang. “Om pastor” panggilnya padamu. Berondongan pertanyaannya membuat pelupuk matamu menggemuk. Kamu tahan sekuat dayamu agar pipimu tak sampai basah. Karena bola mata hitam jernih Mei di mata sipitnya yang penuh selidik tak sekali pun lepas menatapmu. Kalap. Mencari jawab.

“Kok rambutnya gondrong banget om Pastor? Pengen jadi kayak Yesus ya?”

“Memangnya berdoa terus setiap pagi dan malam bisa bikin Mei sembuh, om?”

“Om Pastor, papa nggak mau cari Mei karena tahu Mei sakit ya?”

“Mama pasti dulunya nakal banget, sampai Tuhan marah dan dipanggil pulang ya?”

“Mei pengen ketemu Yesus. Mau nanya sendiri. Mei…capek”

Kamu memintaku membelokkan kemudi. Ke arah hotel anonim pertama yang kita temui. Menungguku mematikan mesin. Menggamit lenganku cepat. Kamu tetap bungkam. Matamu saja yang nyalang. Hanya nafas, dan aroma binatang tubuhmu yang kuendus, memenuhi lift pengap ini.

Kamar hotel anonim ini sama pengapnya dengan lift barusan. Jendela seadanya seukuran 2x kitab sucimu. Bau lembab dan jejak percintaan kilat ada di mana-mana. Luka bekas sundutan rokok pada seprai yang dulunya putih, lebam pada tembok, dan bungkus kondom yang meleset dari tempat sampah kecil di pojok kamar. Tapi kamu tak peduli, kamu paguti aku tanpa ampun. Meraba rasai setiap jengkal dan cerukku. Ini, bukan lagi k a m u. Melainkan Kita. Kita yang marah. Melolong seperti binatang malam. Menyalak dalam ketidakberdayaan. MenghujatNya dalam bertubi hentak dan erang.

Matahari lama sudah bersungut pulang. Bulan penuh. Peluh membuat cahayanya jatuh sempurna pada tubuhmu. Tubuh yang lapar dan luka.

Kali ini kamu sungguh tak lagi peduli, melukai bibirku dengan pagutmu, membiarkan kuku-kukuku mencakarimu. Menekuk dan melipatku, seinci pun tak terlewat dari murkamu. Dan bersimpuh setelahnya, untuk memuja kita, bukan lagi untuk minta ampun padaNya, Menenggak hingga tandas. Like there’s no tomorrow. Minum dari darahmu. Perjanjian yang baru dan yang kekal di antara kita.

Kenapa tidak menulis tentang kita? Pertanyaan yang sama dari bibir suaminya malam ini. Pertanyaan yang tak pernah dianggapnya serius. Pertanyaan yang kerap dijawabnya dengan kekeh ringan, dan tepukan kecil pada pipi suaminya. Pertanyaan yang menguap ditelan embus pendingin ruangan dan selimut gading mereka. Pertanyaan yang membuatnya menutup laptop lalu menikmati hak sekaligus menunaikan kewajibannya sebagai istri. Hingga suaminya bungkam. Dan hatinya sendiri pun bungkam. Untuk sementara. Mungkin sampai ia tahu jawabnya.

Tapi ia tahu jawabnya. Selalu tahu. Tanpa ragu. Sangat teramat tahu. Ia hanya tak tahu bagaimana menyampaikannya, pada huruf-huruf yang sesak bergelantungan di layar laptopya, dan langit-langit kamarnya. Menunggu dipetik dan dirangkai, dengan hati yang tak perlu berhati-hati. Hati-hati untuk tidak menginjak hati yang lain dalam prosesnya.

Membungkam suaminya menjadi begitu mudah. Manual itu telah dihafalnya luar kepala, tanpa perlu dirapal ulang, ia tahu betul bagaimana mengoperasikan fungsinya, reaksinya. 15 tahun bukan lah waktu yang singkat. Membungkam suaminya menjadi begitu mudah. Semudah membahagiakannya.

Tapi hatinya lebih keras kepala. Bertahun-tahun berjuang membungkam, hatinya semakin bangkang. Bertahun-tahun ia bereksperimen dengan formula, menuangkan sedikit masa lalunya, mengaduk curhatan beberapa sahabat, melumuri pertanyaan-pertanyaan esensi dan membungkusnya dengan lapis terakhir, isu laris eksistensi. Sudah barang tentu, karyanya menuai puja puji, di antara rutukan segelintir hipokrit yang justru membuat karya-karyanya jadi diperhitungkan secara serius. Serius sekali. Penggemarnya bahkan membuat blog khusus untuk menyuarakan pembelaannya. Saking jengahnya mereka karena ia memilih untuk tidak berkomentar.

“Karya yang jujur”, “menyuarakan perempuan di jamannya”. Demikian sebagian kutip puja puji di blog mereka.

Jujur. Hatinya miris. Jujur?

Tak satu pun karya-karya itu bercerita tentang Kita.

Selama ini, ia berusaha keras mempercayai kata kepalanya. Bahwa jujur tidaknya karyanya tidak ada hubungannya dengan Kita.

Selama ini, ia berusaha membenamkan kepala hatinya, menekannya kuat-kuat dengan kedua sikunya. Tapi rupanya kepala hatinya lebih keras, menyembul-sembul tak tahu diri.

Kisah yang jujur = menceritakan tentang Kita Jujur = Kita?

Kata-kata yang bergelantungan di layar laptopnya, pun yang ada di langit-langit kamarnya dulunya berserakan, liar di taman hatinya. Dibiarkannya berubah kekuningan, hingga coklat kering. Sering…

Karena Kita memang bukan sandiwara. Tapi Kita yang rindu ingin dikisahkan, bukan Kita yang suaminya inginkan. Bukan kita versi suaminya.

Kita yang lebih jujur? Atau Kita lebih laknat dalam membohongi hati. Luar kepala. Aku tahu jawabnya, dan tentunya Ia terlebih tahu. Semakin tahu, semakin gesit ia mengelabui kepala. Lalu hatinya.

Ada aku, di dalam Kita yang kedua. Aku yang sontak menyumpah serapah tiap kali ia memintaku merahasiakan Kita. Aku yang tak pernah menahannya kembali pada suaminya. Karena aku tahu, hatinya tidak. Hatinya tinggal di sini. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Persis doa Kemuliaan yang kerap dirapalnya dahulu. Saat ia meminta ampun pada Tuhannya. Untuk kita, kita yang rahasia.

20 tahun yang lalu. Kali terakhir aku melihatnya datang pada Tuhannya. Sebelum ia menuhankan kita. Dan marah pada Tuhannya yang tinggal diam. Ia pun lebih diam. Tak lagi menoleh barang sejenak. Aku membantunya bahagia. Atau mungkin ia yang membantuku bahagia. Kami melangkah tak peduli di antara stempel raksasa Benar atau Salah. Kalau isengnya datang, ia memajukan wajahnya lalu memiringkannya seperti mau mengecup, membuat pandangan beberapa orang di rak buku seberang mendelik panik lalu membuang muka. Beberapa malah mengucap doa. Lalu ia terkekeh. Kami cekikikan bersama. Riuh.. Ah, our book store trips, sesuatu yang teramat kurindukan.

Mungkin memang benar adanya, Tuhannya pencemburu. Dengan caraNya, pada waktuNya. Maut datang mengendap-endap. Merenggutku dari sisinya. Aku marah. Ia lebih marah lagi. Merutuk Tuhannya. Menuding dan mengeruk hatinya dari ampas Tuhannya yang mungkin tersisa di sana.

Dan kini, aku melihatnya bertelut. Kembali, setelah sekian lama. Jari jemarinya lekat terkatup di depan dadanya yang naik turun melawan isaknya. Sayup kudengar lirih doanya. “Tuhan, ampuni aku… Bantu aku mengasihi suamiku. Kurelakan Seraphine. Ampunilah dosa-dosanya semasa hidup. Terimalah ia dalam pangkuanMu… Kemuliaan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad…”

http://readlearnwrite.com/guest-post-on-reading-and-dreaming-relentlessly-2/

Gadis kecil itu terbatuk. Terduduk di sisi tempat tidurnya. Berusaha setengah mati agar tak membangunkan lelaki di sebelahnya. Lelaki yang tertidur dengan kemeja kerjanya, dan buku dongeng di atas perutnya yang tak lagi buncit. Gadis kecil itu lalu melingkarkan lengannya pada pundak lelaki itu. Sejauh mungkin, seketat mungkin semampu dayanya. Dengkur halus lelaki itu kembali meninabobokkannya. Pelan. Pasti.

Lelaki ituterbangun, mengecup dahi putrinya. Lalu bertelut di sisi tempat tidur. Merapal apa yang mereka sebut dengan doa. Yang baginya adalah tawar menawar tanpa akhir, pinta dan rutuk yang bersahut-sahutan kepada apa yang mereka sebut Tuhan. Mestinya Tuhan yang sama yang mengambil istrinya begitu saja, dalam tidurnya. Seperti pencuri yang mengendap-endap. Pelan. Pasti

Mestinya sudah selesai. Benar juga kata mbak Arina anak kos di rumah papi. Aku hanya merasa pening pada kepala, mual lambung dan sedikit keram pada kedua pangkal paha. Vaginaku tak berasa nyeri sedikit pun. Tak senyeri kali pertama Bayu memasuk paksakan batang kelaminnya padaku. Kumiringkan tubuh, berusaha bangkit. Menebus obat pereda nyeri dan beberapa vitamin di bagian resep, lalu melangkah meninggalkan klinik. Begitu saja.

Klinik ini hanya berjarak sekian meter dari pemakaman umum. Tempat di mana Bayu, suamiku itu dimakamkan. Kami menikah siri. Beberapa hari setelah kudapati diriku mengandung. Lalu kusadari penuh betapa aku tidak mencintai suamiku. Pun janin dalam kandunganku. Begitu saja. Namaku Ratna, hari ini, usiaku genap 19 tahun.

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah sebelum natal, setahun lalu.. Saya masih mencintainya… Bukan milik saya lagi… Terlarang..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu.. Saya masih mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah seminggu yang lalu… Saya mulai mencintai seseorang yang lain.. Bukan milik saya.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah tiga hari yang lalu… Saya semakin mencintainya.. Menyentuh diri saya sendiri.. Terlarang, tak pantas..

Bapa, pengakuan dosa saya yang terakhir adalah kemarin.. Saya..merindukanmu. Terlarang?

Di balik bilik pengakuan dosa itu. Seorang frater dalam kelunya, menggengam erat rosario penuh duri. Duri yang sama yang merasuk cabik hati perempuan ini, sebelum natal, setahun yang lalu.

Terminal kedatangan. Dia melambaikan tangan. Melepas kaca mata aviator tembaganya. Aku mengangguk. Melepas kucir rambutku dan melenggang ke arahnya. “Hai” “Hai juga” “Nggak bawa barang?” “Kan cuma semalam” “Oh” “Loh?” Senyum kikuk. Tangan dalam saku celana.

Kami naik taksi. Mobilnya sedang di bengkel. Turun mesin. Aku bersin. Dia menyodorkan sapu tangan. Kernyitku dibalas penjelasan malas-malasan. “Kebiasaan” dalihnya. “Tapi aku tak sekonservatif itu” mulai defensif.
Tangannya di atas pahaku. Nanti, kataku. Kenapa? Tanyanya. Keras kepala.

Kemejanya putih, lengannya digulung sepanjang siku. Celana jins biru gelap. Loafers warna khaki. Wangi cedar dan lemon. Tanpa cincin di jari manis. Kemejaku hitam, kancingnya terbuka sebatas ujung belah dadaku. Celana Pendek warna kelabu. Thongs hitam keperakan. Wangi kamboja Bali. Bekas cincin di jari manis.

Taksi memasuki lobi hotel. Netral. Eksperimental. Rahasia. Tak istimewa. Deluxe king sized bedroom. Lantai 30. Menghadap punggung gereja kuno dan tengkuk matahari. Tirai putih gading. Sewarna kutang yang masih melekat di antara jemarinya dan putingku. Geliginya pada pundakku. Telepon genggamnya yang berdering-dering. Lonceng gereja yang bertalu-talu. Padu erang yang terlalu. Cepat. Berlalu.

Terminal keberangkatan. Aku melambaikan tangan. Menguncir rambutku tinggi-tinggi. Dia mengangguk. Mengenakan kaca mata aviator tembaganya.

Namaku Alaska. Akan dioperasi besok. Kanker payudara. Pernah hampir menikah bersyarat. Namanya? Yang kutahu hanya @lelakimusemalam. Dia bilang akan menikah. Calonnya wanita soleha yang mencintainya tanpa syarat

Suaminya mendengkur di sebelahnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamar. Begitu setiap kali lelaki yang telah menikahinya sebelas tahun lalu sesap dalam lelapnya. Ia beringsut mendekat. Menghirupnya dalam-dalam. Sedalam keinginannya mengabadikan aroma tersebut dalam botol-botol porselen kecil di dalam laci meja riasnya. Berkali-kali ia mencoba tapi semuanya gagal sempurna.  Botol-botol tersebut mendadak mengeluarkan aroma yang bukan main busuknya setiap pagi menjelang.  Saking busuknya, mawar aneka warna yang diletakkannya di pot-pot kecil di dekat jendela kamar sepakat melayu dan mati. Begitu pun ikan mas koki di toples kaca yang diletakkannya di sisi tempat tidur. Mati. Semuanya. Kecuali dirinya.

Ia memilih tidur di siang hari. 4 atau 5 jam saja demi menghirup aroma cendana dan limau semalaman, sesubuhan, hingga tiba saatnya suaminya terjaga dari tidurnya. Awalnya ia sampai harus mengenakan masker penutup hidung di pagi hari sembari menyiapkan air panas bakal mandi suaminya, memasak sarapan untuk mereka berdua dan memakaikan suaminya kaos kaki dan sepatu. Lama kelamaan ia jadi begitu terbiasa. Yang perlu dilakukannya adalah menghembuskan kembali sesap aroma semalam, sedikit demi sedikit. Setelah sekian lama, ia jadi semakin mahir berhemat. Ia sanggup menahan nafas lebih lama, dari hari ke hari. Keinginannya untuk memelihara ikan-ikan hias yang lucu atau seekor anggora sudah dibuangnya jauh-jauh ke semak belukar di negeri seberang.  Kerinduannya untuk menanam mawar aneka warna pun sudah dibenamkannya dalam-dalam di pekuburan massal antah berantah.

Aroma busuk yang tajam akan menyerang lebih hebat saat ia menerima tamu di rumah mereka. Tak seorang pun bertahan lebih dari semenit. Tak butuh waktu lama, para tetangga pun mulai menggunjingkan aroma busuk yang keluar dari rumahnya. Lalu perlahan dan pasti, aroma busuk itu pun sampai ke seluruh penjuru kota dan segera jadi tajuk berita di harian pagi kota mereka. Bantuan dikirimkan. Surat pembaca bernada prihatin dilayangkan. Doa dirapalkan untuknya. Hari ini suaminya tak kunjung terjaga dari lelapnya. Aroma cendana dan limau memenuhi kamarnya, merayapi kampung, lalu sampai ke seluruh pelosok kota dan negeri. Karangan bunga dikirimkan. Ucapan selamat dilayangkan, puji dan syukur dilantunkan. Jauh di dalam hatinya ia tahu, tak butuh lama baginya untuk merapal doa dan serapah berganti-gantian demi mendapatkan aroma busuk itu kembali di sini, menemaninya terjaga dan mengantarkannya dalam lelap yang tak memiliki tepi…

Posted: April 3, 2011 in Cerita 1 Halaman, cerita pendek, short story
Tags:

Kami hanya duduk berhadapan dalam diam. Aku tahu betul ia sedang memandangiku. Sesekali didangakkannya kepalanya untuk melihat ke arah jalan. Entah siapa yang sedang dinantikannya. Aku berusaha tak ambil pusing. Setidaknya sekarang ia sedang berusaha membuatku merasa istimewa. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat padaku. Mendadak aku mulai merasa gelisah dan merubah letak kursiku.

Ia menunggu. Lalu kembali mendekat. Hembus nafasnya semilir pada tengkukku. “Diminum kopinya, keburu dingin”. Aku hanya mengangguk sembari menambahkan “terima kasih” yang nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri. Dia menggeser kursinya tepat di belakangku, lalu meletakkan kedua tangannya pada bawah dagu dan atas tengkukku. Pelan saja. “Cukup mas? Atau mau dicukur lebih pendek lagi?”

Kemarin aku si gadis desa, hari ini aku siswa SMU, besok aku nona perawat. Tergantung permintaan pelanggan. @fiksimini

Dibukanya paksa pilin pada rambutnya. Waktunya tak banyak. Dengan cekatan kedua tangannya beringsut turun melepas kancing demi kancing kebayanya. Ternyata kebaya ini masih terlalu longgar untuknya, bahkan untuk dadanya yang membusung bangga dengan cup C. Dibiarkannya kebaya putih menerawang itu meluncur turun dari tubuhnya. Teronggok manis di antara kedua kaki telanjangnya. Masih saja ia menyempatkan diri terkagum-kagum pada ranum buah dadanya yang terpantul pada cermin kusam di hadapannya. Huh, memangnya mudah, mencari kebaya yang pas melekat di badan dalam waktu singkat. Boro-boro punya waktu untuk beli, untuk meminjam saja butuh nyali dan juga, urat. Seperti tadi saat harus menagih hutang ke mbak Mimin. Tetangga baru. Seorang janda eks kembang beranak 5. Alih-alih membayar hutang, mbak Mimin malah memintanya memilih langsung barang-barang apa yang mau disitanya sebagai ganti. Dia tahu betul televisi pun mbak Mimin tak punya. Setiap sore kelima anaknya kecuali yang masih menyusu, sudah duduk manis di hadapan televisinya. Terpaksa, dengan wajah merah padam karena jengkel, dibongkarnya isi lemari mbak Mimin. Dan yah, didapatinya kebaya putih menerawang ini. Satu-satunya kebaya di lemari mbak Mimin yang dikenakannya sewaktu menikah.

“Kebaya itu tak ternilai untuk saya, mbak” ratap mbak Mimin sembari memilin-milin ujung dasternya yang koyak sana sini.
Tapi dia tak peduli. Disampirkannya kebaya putih itu pada pundaknya lalu melenggang pergi.

Sebenarnya hatinya tak sampai. Ia tahu betul apa arti kenangan. Memang kini dia tak lagi bertegur sapa dengannya, apalagi duduk berhadapan sembari menyeduh teh poci dan mengunyah ketela rebus. Tapi ia punya peran yang harus ia mainkan, supaya ia lupa, bukan saja supaya ia bisa selamat dari dingin kolong jembatan. Ternyata lupa pun ada harganya. Dan ia bertekad mencicilnya sampai lunas, suatu hari nanti.

****

Lelaki botak berperut panci di hadapannya tengadah, lingerie membebat sempurna mulut lelaki itu. Dengus nafasnya seribut bunyi pendingin ruangan di kamar hotel transit itu. Dengan anggun dinaikkannya satu kakinya di tepi tempat tidur. Rok putih mininya tersingkap nyaris sempurna. Kedua tangan lelaki itu menggapai-gapai hendak meraihnya tanpa hasil. Berat tubuhnya menghalanginya untuk bangun dan meraihnya. Dia, membuka dua kancing teratas baju perawatnya. Kutang putih berenda menyembul dari baliknya. Mata lelaki itu mulai berair, kemerahan.

“Iya saya tahu, harusnya hari ini pakai seragam SMU. Buat minggu depan ya Om. Nemunya yang ini sih”

Ia mulai menjalankan rutinitasnya. Meliuk-liuk dan membungkuk tekuk sintal tubuhnya sembari sesekali melempar pandang binal pada lelaki di hadapannya. Entah bagaimana lelaki itu mendadak sudah lekat pada punggungnya, menekuk paksa lehernya dan menuntaskan segala. Ternyata yang dipikirnya segala belumlah seberapa. Lelaki berperut panci itu memecutinya dan menendanginya dengan buas. Membentur-benturkan kepalanya pada lantai lalu meludahinya dan entah apa lagi yang membuat malam pun meringkuk ketakutan di balik remang kamar.

****

Matahari mulai melebarkan seringainya. Sayang, kali ini ancaman sang surya tak lagi mempan untuknya. Tirai kamar berjeruji itu tertutup rapat, setiap waktu. Bahkan waktu pun menutup wajahnya rapat-rapat dari tempat ini.

Dua lelaki tegap berseragam putih-putih itu memegang kedua kaki dan tangannya. Ia bergeming. Tak pernah ia merasa setenang ini. Kembang sepatu aneka warna bertebaran di hadapannya. Berduyun-duyun senyum sewarna pelangi menghampirinya. Kelima anak mbak Mimin, tetangganya, mendadak bersayap dan bermahkotakan dedaunan, bergantian mengecup keningnya di antara denting harpa. Namanya, ya, namanya, tersulam rapih pada awan putih yang berarak-arak. Sementara itu perawat berdada tambun menyuntikkan sesuatu pada lengannya yang kebas.

“Dosis ini tak lagi cukup untuknya, sus” Dokter itu, berkepala botak. Berperut serupa panci. Matanya berair, kemerahan

KARNAVAL. Kamu tersenyum lepas dari balik gulalimu dan dia yang menutup matamu dari belakang.

WARUNG REMANG. Kamu yang mengernyit ragu saat dia memesankan arak untukmu.

STASIUN KERETA. Kamu tergugu pada pundaknya yang bergeming.

WARNET 24 JAM. Kamu yang menggigit bibir sesubuhan ditemani berbotol-botol air mineral dan lotion anti nyamuk.

PAGAR RUMAHMU. Pipimu yang merah padam sepekat buntalan seprai pada tangan kananmu.

PUSKESMAS. Bulir keringat menetes pada pipimu yang meranum dan jarimu yang rekat pada busung perutmu.

WARUNG REMANG. Kumal puluhan ribu dari balik kutangmu yang penuh air susu.

LIANG LAHAT. Kelopak mawar dan kuntum melati pada sebentuk kamu yang berkafan putih.

KAMAR GELAP. Aku, pengagummu yang terlalu pengecut untuk menyelamatkanmu darinya.

Kata ibuku aku harus berani bermimpi lalu harus ingat untuk bangun dan meraihnya. Pesan itu kuimani dan amini betul. Abang-abangku mencemoohku saat kupecah celengan ayamku dan membuat paspor. Usiaku baru 18. Baru saja lulus smu.

Tak bisa tidak, aku harus menjejakkan kaki di luar negeri. Malaysia saja. Tak muluk-muluk. Bertahun-tahun aku membanting tulang menjadi loper koran dan menjual brownies kukus. Dan hari itu pun datanglah, kukantongi juga tiket perjalanan ke Malaysia.

Ibu melepasku dengan haru. Abang-abangku pun tersenyum bangga. Aku melambai-lambaikan tangan dari balik kaca keberangkatan. Selanjutnya mimpilah yang melambaikan tangannya padaku dari balik meja pelaporan. “Mbak, paspornya 4 bulan lagi expired. Maaf sekali, mbak tidak bisa lagi menggunakan paspor ini”

“Mungkin kamu memang nggak pernah mencintai aku”

Kata-kata yang sama, dari mulut perempuan yang berbeda. Ada apa dengan  mereka semua. Saling kenal pun tidak. Bagaimana mungkin semuanya menggunakan kata ‘putus asa’ yang persis sama.

Cih.. perempuan, selalu mau lebih. Bahkan perempuan-perempuan happy-go-lucky yang awalnya bersepakat hanya jadi teman ‘kelon’ demikian ia menyebut kategori status yang berdiri (seharusnya) manis di antara teman dan kekasih. Attila melempar handphone-nya ke kasur, lalu dengan hati-hati melepas plastic foil yang membalut lengannya. Mengagumi radjahan baru bergambar naga hitam pekat yang meliuk di antara pekat merah api. Tubuhnya serupa kanvas yang indahnya diapresiasi oleh harmoni warna dan bentuk.

Kutekan tombol silang di ujung kanan atas laptop. Lalu buru-buru memilih NO pada pop up box “do you want to save the changes you make to Chapter II?”.  Belum lagi terlahir sempurna sudah kubunuh karakter laki-laki jahanam di buku terbaruku. Buku yang harusnya bercerita tentang seorang perempuan berprestasi yang bahagia dengan hidup barunya, tanpa elemen memabukkan bernama cinta dan anteknya, laki-laki. Aku tahu betul, tak butuh berapa lama aku akan jatuh cinta, lagi, pada Attila dan membiarkan heroine-ku begitu saja menunggu berbab-bab lamanya sampai akhirnya harus lagi-lagi bertekuk lutut pada rasa kehilangan dan sesal.

“Hey, i made you some cammomile tea. Take a sip” Wanitaku terkasih beringsut duduk di sebelahku. Mengecupku lembut lalu menyusupkan tangannya di balik tipis tank topku. Ada gelenyar yang bersepakat di sana, di antara pagut yang tak lagi meragu.

Jeanette, lututnya tak pernah bertekukan demi Attila-Attila manapun. Sejak awal, ia tak pernah berdesir untuk dada bidang berkilat-kilat, lengan pun betis yang sekokoh dermaga. Ia tak punya ruang pada hati dan vaginanya untuk batang penis manapun.

Mungkinkah karena ia punya itu semua di balik payudaranya yang nyaris rata, di antara hatinya yang seteduh rembulan, pada halus nadi lengannya yang bertato naga api, pun pada elok lekuk tubuhnya yang seterik matahari?

Aku membalas desak pagutnya, bertubi, mendorong kepala berambut pirang cepaknya ke bawah, di antara kedua pahaku.

Jeanette tak perlu tahu, dia mungkin tak harus tahu.

Sial… Attila, berapa kali lagi kamu harus kubunuh!

It was only last night.

She was finishing the last chapter of her very first book. The book she had been putting so much of her tiny life into. It had been two years.  Two years that had freezed the moon from taking turns with the smirking sun. Two years that had snatched any dews from her lavender bushes. Two years that had ceased her ever striking long legs from strolling through the garden, barefooted. She had lost so much weigh since the day she started writing. Her arms were as small as her husband’s golf stick, and her cheekbones were as hollow as his stares. It had been too long since he even tried to stare. He never stared. He hardly dared to..

The faint smell of water lily still lingered. It was from her old clothes and nostalgies, well kept in her ivory wardrobe. The wardrobe she had never come close to since the day she started writing. Her laptop was on her lap. Flipped open. Not a letter. Not even one. She knew it would not be easy, the last chapter. She pushed it aside, grabbing a salmon spread non fat crackers from the supper tray. The spread was way too tidy. The new butler was trying to impress her, so she guessed. She felt like telling him that she hated tidy spread, but on second thought she decided not to sweat it for now. She had become indifferent to dissapointments, and she choosed to swallow some with lowest disturbance instead of triggering another series of dissapointment.  She had learned to outsmart pain.

The door was held open, as usual. As such, he would not need to knock, whenever he felt checking on her. She knew he had never missed a single day. Checking on her. Even when he thought she was sound asleep.  Then she knew  he would try to peek on her writing. But she was no fool.  She always had all her files locked with password only God and herself could tell.

It was almost midnight. She typed the last sentence, and smiled, with tears welling down her cold cheekbone. She read the whole page all over again and broke into a piercing hysteria, a resolving sob, and a stilled silence.

It was only last night.

He had a tough day, convincing a buyer to give his company a second chance. He could not afford to lose that multi national client who had been supporting his business for over 20 years. After hours of apologies and make up proposals, they said they would strongly consider. He felt like firing the interns for passing wrong slides and quotations to the board during the meeting this very morning. In an instant he remembered her.  He ran into the lobby and called the driver.  There was no place he’d rather be than with her. Even though he could only get as close to staring her face while she slept, or checking on her while she was writing. She must’ve fallen asleep by the time he got home. He wished that she knew he had never missed a single day not checking on her. He knew he should’ve taken his chance to stare at her and apologize, even at the risk of her locking herself up for months. He wished he could put things back to where it used to be. It was only one night. One foul night, 2 years ago. He could barely remember what was it like. He was drunk, and bankrupt.  And she, the woman from the club, she knew too well how to soothe his bruised ego. She was well-trained. And he was into deep. ‘Shit’ they said what it was.

It was one foul night..

It was only last night.

She let him stare at her. And to her own surprise he came even closer. He kissed her. It did not last more than a second. The next thing she felt was her chest was burning. Was it from love or regret, she could not tell. She did not want to. In a split second everything was beaming, glowing as they were, exactly 20 years ago, walking down the aisle of water lilies. Holding a bucket full of dreams and romance. Staring sheepishly. French-kissing what the future might hold and most of all, embracing vows. “…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

And there it was on her laptop screen.

“…through sorrow and joy, in sickness and in health, til death do us apart”

Mereka masih saja mencariku. Ayah, ibu,  kakak adikku. Bergandengan tangan dengan kaki telanjang. Ibu menggendong si kecil Mirah sembari setengah menyeret Dilmah dan Raihan yang mengikuti di belakangnya. Ayah dan kedua kakakku sibuk bertanya pada sekeliling. Tak jarang mereka justru menerima dengus tak suka dan tepis mencemooh. Hanya sebagian yang masih sopan mengucap “lewati saja, maklumkan ya”

Aku  merutuki keramaian yang lara. Seperti saat menahan lapar demi gelak ketiga adikku. Menawar kantuk demi sekejap dengkur ibu. Karnival ini menawarkan keramaian yang tak lara. Sungguh. Bahkan ketika aku harus menjual masa kecilku pada pemain trapeze bercelana seketat cekatku. Lalu pawang singa itu, dan entah siapa lagi. Berhentilah mencariku, aku tak lagi lara…

Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali ku berkirim surat padaMu. Lima tahun lalu? Lima belas?

Aku juga tak ingat lagi, kapan terakhir kali kubaca suratMu untukku. Lima tahun lalu? Lima belas?

Yang kuingat dahulu kita luar biasa mesra. Saling bercakap sebelum malamku tercuri pagi, bertukar gelak sebelum matahari menyeringai sengit. Berbalas surat cinta yang tak butuh letup. Cukup kecup pada kening, dada dan kedua pundakku di antara sebut namaMu.

Tapi ternyata buatku itu tak lagi cukup. Kedanginganku butuh letup dan gelenyar yang bisa diraba rasakan. Lalu aku mengenalnya, dan dia. Mereka yang melenakanku dalam saruk maruk letup cinta. Cinta yang bukan cintaMu, kutahu. Cinta yang tak sesetia cintaMu, kutahu. Aku tahu, tapi aku tak terima. Seperti saat dia mematahkan hatiku berkeping-keping, aku marah. PadaMu. Ya, padaMu. Karena aku tahu kamu setia, terlalu setia sampai-sampai cemburu satu dalam hembus nafasMu.

Betapa Kamu tega, membiarkan hatiku patah berkeping-keping, air mataku menggenang-genang dalam kenang.

Lalu aku menuntut ganti. Cinta yang lebih luar biasa. Cinta yang tak terpatahkan.

Kamu lagi-lagi, mengabulkannya. Kau hadirkan dia, pria bermata sendu yang melumat hatiku lamat-lamat.

Dan Kamu tak ingkar, memang luar biasa cintanya. Cintaku. Sampai-sampai aku jadi luar biasa sibuk, mencintainya tentu saja, dan diriku. Aku tak sempat bertukar surat denganMu. Sekedar sapa ala kadarnya, seingat-ingatku saja. Tapi kan Kamu memang tak ke mana-mana. KataMu, cintaMu padaku bukan karena apa yang kulakukan, tapi karena kasihMu semata. KataMu, Kamu selalu siap memaafkan aku. Kapan saja, karena apapun.

Dan aku pun lupa, bahwa dia bukanlah Kamu. Aku mengimani dia yang kupikir juga tak ke mana-mana, persis sepertiMu, bersemayam di hatiku. Aku lupa, aku dan dia tak sekedar butuh cinta yang luar biasa. Cinta yang kini mendadak biasa. Aku lalu sibuk kecewa padaMu. Karena pastinya ini ulahMu yang cemburu. Pasti. Bahkan aku merutuki cintaMu, kini.

Tapi Kamu sungguh mencengangkan. Kamu bergeming di antara sembur serapahku. Hanya dekap topang di antara kelu dua tungkaiku. Hanya percaya dan ampunan di antara ngilu hatiku. Kamu benar-benar tak ke mana-mana. Masih di sana, dengan persediaan cinta yang jauh lebih besar.

Kamu bahkan meletupkan kembali cinta yang sama untuknya, di hatiku. Yang baru, tak menandak-nandak dan berpelatuk seperti dulu. Cinta yang mendekati cintaMu padaku. CintaMu yang setia menunggu aku, dalam semayam yang tak pernah temaram. Aku mau terus belajar tentang cinta, denganMu. Hanya denganMu. Pada kecup di dahi, dada dan kedua pundakku, di antara sebut namaMu.

Lagi-lagi Abi memintaku membeli kembang api di sana. Aku masih tak mengerti, apa bedanya kembang api jualan si abang berpeci hijau spotlight itu dengan yang lainnya.

Satu hal yang membuatku agak segan membelikan Abi kembang api di sana. Mata si abang yang tak berkedip menelanjangiku.

Kali ini aku punya waktu, tak seburu-buru biasanya, tak sekedar meminta mang Ujang yang memilih dan membayar kembang api Abi. Aku mau memberinya pelajaran karena tak punya malu memandangiku begitu. Kujentikkan jari, kutuding-tuding dirinya, ia bergeming. Kukibas-kibaskan lembar  ribuan di hadapannya, pandangnya tak lekang.  Aku siap meledak, kalau saja mang Ujang tak bergegas berkata-kata padaku lewat kedua tangannya di antara komat-kamit si abang penjual kembang api

Hampir sejam ia tergeletak di situ.
“Bahagia itu ada di dalam kepalamu”, “bahagia itu pilihan!”, bla bla bla blahagia. Sejuta rumus dan iman tentang Bahagia itu membuat nafasnya makin tersengal. Terhimpit bengal di antara rutuknya. Gemeletuk giginya membongkar paksa senyap. Ngilu itu bersedekap, menanti henti.

Aku diam, menunggu..
Masih kuingat ia menepis cinta kekasihnya, menyerapah kasih bundanya, dan menyumpal mulut sahabatnya dengan kepal bergeligi. Lalu ia kembali, di gudang usang ini bersama mereka yang dipanggilnya sahabat. Mereka mengenal dari padu erangan, tangis dan tawa lepas menandak-nandak di antara remah bubuk putih. Putih yang damai. Bahagia. Sekawanan mereka datang berpeluh dingin, menarikan liuk asap dan menyanyikan candu.

Sudah sejam ia tergeletak di situ..
Mengiba dan merutuk berganti-gantian. Sendirian. Benar-benar sendirian. Ia rindu kepul panas kopi jahe dari cangkir porselen bunda yang retak pada pangkal bibirnya. Dibayangkannya bergelung di ranjang sempit kekasihnya sembari dininabobokan rapal rosario di malam-malam ia memuja elukan bubuk laknat itu.

Dan aku, masih menunggu…
Samar kudengar rapal doa bundanya, bingkis puasa kekasihnya, dan maaf sahabatnya. Indah mengalun. Lamat-lamat bersepakat. Air mataku pun membasahi bumi. Kuhampiri dia lalu kuulur tanganku.

Ia terbelalak, terjengkang hebat, panjang lolongnya.

“Tuhan… Jangan sekarang”

Setahun sudah kuhindari jalan pintas berbelukar di belakang danau. Setahun sudah aku menolak bertegur sapa dengan wanita paruh baya bergincu sepekat darah. Karena katanya, jangan. Dia, si pria gipsy berdada sebidang dermaga, bermata sewarna abu yang gelap berkilat-kilat. Setahun sudah sejak ia mengatakan itu sembari meraba rasai tengkukku yang masih berpeluh di antara remah gelinjang.

Sungguh, aku tak ingat apa dan siapa yang mengawali segala. Yang kutahu bibirku terasa tebal dalam gigil, langkahku berat. Tersaruk sampai jengah di tepi danau. Bibir itu, bibirku..sepekat darah. Sepekat merah pada kedua jemariku yang gontai di atas dada sebidang dermaga yang kini sehening danau di hadapanku…

Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti malam itu, saat aku mengambil kendali, menungganginya. Aku tahu ia menikmati itu, tapi tak lama ia akan berubah gelisah. Tak nyaman. Lalu buru-buru aku dibaliknya ibarat ikan bakaran. Posisi misionaris atau doggy yang selalu memuaskannya.

Seperti siang tadi, saat kami berpapasan dengan kawan lama dan aku menceritakan karyaku dan kecintaanku pada tekstil. Ia membuang pandang dan larut dalam sesap asap rokoknya. Gelisah. Tak nyaman.

Seperti tiap kali kami menyeberang jalan, aku yang terbiasa memulai langkah, dan ia yang ragu-ragu. Aku yang menggamitnya, dan ia yang menepis, gelisah. Lagi-lagi tak nyaman.

Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Seperti pagi ini saat ia mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah ini. Dalam diam.

Bila kutebas satu dari tangan atau kakiku, bahkan mungkin bibirku, maukah ia kembali dan mengenalku?

Usaha laundry ini belum lagi genap setahun. Iseng-iseng pada awalnya. Ketimbang hanya mengirimkan naskah ke penerbit yang tak kunjung berbalas. Ternyata dirunut-runut, menulis novel dan membuka jasa laundry ada juga kesamaannya. Mereka sama berkisah. Dari tumpukan baju kotor itu lah aku tahu bahwa pelanggan dari blok E itu seorang wanita penghibur, dan bahwa bapak paruh baya berbulu dada selebat beruang dari blok C itu pelanggan setianya. Aku juga tahu istri si bapak dari blok C tadi hanya memiliki dua buah kutang yang sama bolongnya. Sepertinya ia terlalu sibuk menyulamkan inisial namanya di celana dalam suaminya.

Dan kamu tahu, yang teristimewa adalah aku jadi tahu segalanya tentang dia yang kupuja. Bahkan baju kotornya pun beraroma segar ibarat limau yang baru dipetik. Tunggu, aku bukan seorang fetish yang mendapat kenikmatan sembari menghirup sesap aroma pakaian dalam pujaan hatinya. Tak sekalipun pujaanku menyucikan pakaian dalamnya. Cuciannya penuh dengan seragam sekolah dan baju-baju gaulnya yang didominasi warna oranye. Ya oranye, bukan pink seperti gadis-gadis centil seusianya. Setiap senin pagi, tank top atau halter neck oranye sudah teronggok manis di atas meja. Pastinya ia memasangkannya dengan jins belel yang robek tepat pada pangkal pahanya. Dan di sana biasanya kutemukan bekas sobekan tiket, struk atm, bon pembayaran minuman atau sekedar karet rambutnya, yang lagi-lagi, oranye.

Kali ini isi kantong jins belel kesayangannya itu cuma berisi sebuah kondom bekas pakai, celana dalam pria dan jepit rambut oranye.

Sesuatu yang familiar. Inisial itu..

Lonceng gereja bertalu-talu. Angin bertiup kencang mengibar-kibarkan rambutnya yang kusam, mengeringkan pelupuknya yang mengenang genang. Diayunkannya langkahnya cepat. Sial, ia bahkan tak ingat mengenakan mantel apalagi membawa payung. Anak-anak hujan mulai berselancar di dahi dan bahunya.

Tepat di gerbang masuk, langkahnya terhenti, ia berpegangan kuat pada teralis gereja. Pria, wanita, anak-anak bergandeng-gandengan tangan, dalam gelak suka cita dan setangkup tatap beroles kasih.. Nyaris tak ada yang datang seorang diri malam ini. Ah, tentu saja, siapa yang cukup tebal hatinya menghadiri misa natal sebatang kara, dalam keadaan kumal pula sepertinya. Lampu gereja mulai dipadamkan, pekat, tanpa penat kali ini. Diusapnya pipinya, kering. Betapa ia terbiasa mengusir derai kurang ajar itu bermain-main di pelataran wajahnya.

“lilinnya?” Suara seorang wanita. Tapi dadanya terlalu sesak untuk mendongak. Matanya terlalu berat untuk membuka. Kerongkongannya lena mencekat. Jemari kaki dan tangannya tak lagi merasa. Malam kudus… sunyi senyap…bintangmu, cemerlang……

****

Lonceng gereja bertalu-talu. Angin bertiup kencang mengibar-kibarkan rambutnya yang kusam, mengeringkan pelupuknya yang mengenang genang. Diayunkannya langkahnya cepat. Sial, ia bahkan tak ingat mengenakan mantel apalagi membawa payung. Anak-anak hujan mulai berselancar di dahi dan bahunya.

Tepat di gerbang masuk, langkahnya terhenti. Pemandangan yang terlalu menyakitkan. Diputarnya tubuhnya dan melangkah cepat meninggalkan pelataran gereja. Tubuhnya basah kuyup, sayup suara lonceng menguap sesap di antara debur guntur yang membentur-bentur rongga hatinya.

Sesak itu tak tertahan lagi, pandangannya mulai menggandakan muslihat. Sedan merah berkilat-kilat. Decit nyaring, bunyi berdebum. Samar di lihatnya sepasang kaki bersepatu runcing keperakan keluar dari sedan mewah. Berlarian panik ke arahnya. Hak sepatunya mendekor ulang mozaik genang di aspal dingin. Malam kudus… sunyi senyap…bintangmu, cemerlang……

Dengkurnya mencipta notasi pilu di telingaku. Bulir keringat di dahinya meluncur turun bersamaan dengan hatiku yang berceceran. Putraku tertidur lelap. Lihatlah dia bahkan masih memakai bantal biru kumal kesayangannya. Bantal bersulam namanya yang kurajut semasa ia masih dalam kandungan. Ah, betapa waktu lincah bermuslihat.. terlalu lincah hingga aku pun tak lagi tahu apa yang kulihat dan yang tidak.

Setiap malam kumenemaninya tidur, lalu pergi diam-diam sebelum matahari menjemputnya paksa dari pelukku. Setiap malam kudongengkan ia tentang Andai dan Sesal. Seperti biasa, ia asyik dengan bacaannya sendiri. Ensiklopedi antariksa dan dinosaurus. Seperti biasa, aku membelai kepalanya, mencoba mengerti.
Selama itu pula ia terlihat menerawang jauh, lalu, oh.. Ini sungguh merajang hatiku beremah-remah, ia menitikkan air mata. Satu dua titik saja, lalu disekanya cepat dengan bantal biru kumalnya. Tak lama ia pun lelap, seperti sekarang. Dan tak lama berselang, aku akan mereka ulang awal penciptaan dongeng Andai dan Sesal itu, seperti sekarang.. ya, seperti sekarang.

Rekaan yang sama, setiap malam, bermalam-malam. Malam itu, 5 tahun lalu, tangis yang sama membulir di pipi tirusku. Sampai saatnya ia letih membulir dan memilih mengerat di hati. Hati di mana dulu ia berdiam, suamiku dan aku, sebelum raganya hengkang. Tubuhku masih menjejak, tapi hati dan kepalaku tak lagi. Pernah satu kali aku berjalan di antara pecahan kaca. Telapakku berdarah-darah pekat membekas di ubin putih, tak sedikit pun kurasa perihnya. Aku pun pernah melompat ke kolam 4 meter dan merasa begitu nyaman di kedalaman yang berebut merengkuh ngiluku. Aku tak berontak sama sekali, hingga penjaga kolam melompat dan menggeretku naik. Bukan sekali dua kali teman-temanku menyeretku paksa ke aneka terapi, mulai dari belanja, jalan-jalan, minum-minum, obat penenang, psikiater, kebaktian kebangunan rohani, doa pelepasan, doa novena, dan aneka doa lainnya. Bukan sekali dua kali pula aku mencoba-coba dan bertaruh dalam hati, mana yang paling manjur. Taruhan luar biasa konyol yang jawabnya sudah kuamini bahkan sebelum menjajal aneka terapi itu, ‘tak satu pun’. Ya, tak satu pun yang mampu menghidupkanku kembali. Bagaimana mungkin mereka menjejaliku dengan aneka terapi sementara yang kubutuhkan hanya suamiku?  Sudahlah tak usah aku berpanjang-panjang tentang cinta yang menagih ditagih, saling ketagihan. Yang kutahu, hatiku mendadak kosong, juga kepalaku terasa tanpa isi.  Pernahkah kamu merindu hingga ngilunya tak lagi tertahankan? Sakit hati hingga pedihnya bertalu talu?

Sore itu,  5 tahun yang lalu, aku terkapar di kamar karena demam. Putraku menangis meraung ribut di kamarnya. Di telingaku, raungan dan isaknya berubah jadi semacam dengung lebah yang meninabobokkanku. Lalu kutenggak minuman kaleng di sisi tempat tidurku. Mengosongkan botol tablet di tanganku, dan menandaskan isi minuman kaleng tadi hingga buihnya membasahi daster tuaku. Selanjutnya waktu berhenti bermuslihat. Seakan jengah meledekku, ia tinggal diam, terpaku di langit-langit kamarku. Lalu kulihat putraku membiru karena tangis yang tak putus asa, tangan dan kaki kecilnya tak lagi menggapai-gapai. Lalu tetangga mendobrak masuk dan mengangkutnya ke rumah sakit, dan hey mereka juga menandu seorang wanita berpipi tirus nan ringkih berdaster kumal. Itu kan…aku?

Putraku membalikkan badan dan menguap lebar. Kami beradu pandang, setidaknya kupikir demikian. Karena tersenyum pun ia tidak, apalagi menyapaku ibu. Matahari hampir turun, merenggutnya paksa dari dekapku. Sebentar.., tolong, sebentar lagi saja. Lalu ia menatap mataku, tepat di sana. Ada bulir yang menggenang tenang di pelupuknya. Pelan ia melafal tanpa suara “Ibu?”.  Kemudian pintu itu terbuka, sesosok wanita bersenyum indah membungkukkan tubuhnya dan mengecup putraku. “Nggak bisa tidur lagi, sayang?”. “Iya ma, Abi kangen ibu”. Wanita itu mengusap-usap dahi putraku teduh. “Ayah juga?” Putraku mengangguk kencang. “Ya sudah, sini mama temani berdoa. Abi harus rajin berdoa untuk ayah dan ibu Abi ya, agar keduanya tenang di surga”

“Aku kan sudah bilang, berkali-kali malah, nggak usah nelpon-nelponin aku terus!”

“Iya ma, tolong titip dulu Rasya. Aku belum bisa pulang sekarang”

“Ya ampun, maumu ini apa sih, nggak usah pakai Rania jadi senjatamu deh”

“Masih meeting ma, iya.. nanti aku telepon lagi sebelum Rasya tidur”

“Jangan paksa aku ngomong kasar ke kamu”

“Iya, nanti ada yang anterin aku pulang ma. Titip Rasya dulu”

“Aku pergi sama siapa bukan urusanmu lagi”

“Iya ma, ini sinyalnya putus-putus..mana Rasya?”

“Sudah sana panggilkan Rania, bilang papa mau ngomong”

“Rasya, minta oma dongengin ya, tidur yang nyenyak nak. Mama sayang kamu”

“Malam kupu-kupu cantik, papa kangen Rania. Mimpi indah ya sayang..”

Dua anak kecil di dua tempat terpisah, sama bertelut di samping tempat tidur mereka. Memohon pada Tuhan yang mereka kenal dari tangis tertahan dan senyum taat. Merapal peluk dan cium hingga kantuk datang menyelamatkan rindu.

Dua insan berbeda jenis di tempat yang sama, sama berpeluh di ranjang berkelambu. Mendikte Tuhan atas nama bahagia..

IKUT-IKUTAN. Setiap ia mulai ikut mendongeng, aku justru terjaga. Memang sulit membungkam tokoh dari bab III itu @fiksimini


Sengaja tak kunamakan Dia. Lagipula sungguh tak terpikir apa nama yang cukup menggambarkan dia. Dia memang kuhadirkan dengan sengaja. Saat Khalid tersesat dalam kumparan labirin memorinya. Tentang dendam masa kecil yang berkilat-kilat, ketertarikan yang tak pantas, masa remaja yang meragu, dan perjalanan yang pernah dan tak sempat.

Cerita ini memang seharusnya tentang Khalid. Bukan tentang dia yang sengaja tak kunamakan. Baiklah kita sepakat menyebutnya dengan Dia.

Sebentar lagi pasti ku dipanggil turun. Kusimpan mereka rapat-rapat di dalam netbookku, mengamankannya dengan kata kunci yang bahkan Dia pun tak kan tahu, menuruni anak tangga, langsung menuju kapel kecil di susteran. Hampir saja aku terlambat. Suster Anabel, Maria, dan Agnes telah menungguku di barisan paling depan. Mengiringi mereka dalam perayaan misa sudah kujalani sejak aku masih berusia 7 tahun. Ketiga suster itu dan suster-suster lainnya berganti-gantian merawatku sejak kecil. Mereka pula lah yang memanggilkan guru mengaji untukku, menyiapkan dan menemaniku sahur setiap ku berpuasa. Oh ya, namaku Khalista. Orang tuaku bosan menyiksa dan menjajakan diriku yang tak kunjung laku, lalu meletakkanku begitu saja di depan pintu susteran ini, 20 tahun yang lalu. Tepat saat kuhadirkan Dia, yang setia menidurkan Khalid di dalam bilik usang bernamakan DOSA.

Mati

Posted: November 13, 2010 in Cerita 1 Halaman, Fiksimini
Tags:

Matinya kata-kata. Ketika huruf hidup ikut-ikutan mati

Bnk kml dr kn prc trjth, tpt d pngknk. Mtny lkt pdk, slh spkt ntk tk brsr.  Drt rnjng dn lngh gdh drblk pnggngk n lbh kt dr kd tlnjk kclk yng kmskkn dlm-dlm k dlm lbng tlngk. k mrngkk lbh dlm, brhrp lnt dr tnh lt n mnlnk th-th.

Lttk ml ngl, zt sm d lmbngk ml mngglgk nk, ll tmphlh crn knng brcmpr ss ns td pg d blsk yng mmng tk pth lg wrnny. Rnjng bs t sntk brhnt brdrt. Ll klht spsng kk d ss tmpt tdr. Btsny kcl skl, pct sprt wrn tmbk d sklh mnggk. Ll d, lnggnn bk, mlngkkn kplny k bwh rnjng.  Mtny nnr kmrhn, lbng hdngny mmbntk trwngn bck dn brb yng brmr pd tnggrknny yng pnh brck nnh. Kttp wjhk kt-kt, wl kbtny hmbs nfsny smkn mmbr ml pd tlng tlnjngk. Ll mnstr t mnrkk kts…

BEHIND THE SCENE FILM FIKSIMINI: SEHARI SAJA

SEHARI SAJA. Kami mengepak koper lalu berpisah di ujung jalan. Ternyata selamanya. Versi cerita mininya bisa diintip di novitapoerwanto.wordpress.com di #Cerita Sehalaman: Sehari Saja.

Gambaran dari fiksimini itu adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 10 tahun, nyaris tanpa friksi. Adem ayem. Di ulang tahun pernikahan ke-10, sang suami ingin memberikan hadiah yang berbeda. Ia mengajak istrinya berlibur, dari satu sama lain. Tepat sehari setelahnya, sang suami kembali ke rumah mereka, sedangkan istrinya, tak kunjung kembali. Penantian yang awalnya meresahkan dan melukai hati pada akhirnya melegakan. Sang suami yakin, ia telah memberikan hadiah ulang tahun pernikahan yang terindah untuk istrinya, kebebasannya..

6 Sep 2010: meeting pertama dihadiri fiksiminiers surabaya ie @judithhutapea, @jupelatinos, @ngkongparto @fitapermatasari @julianpablosusmo @gusti_mellow @theonlykika @indriadebora dan lain lain. Kami seru mem’badai’kan otak tentang scene2 seperti apa yg mau diambil, stock shoot di mana saja, dan scene2/ property apa yang akan dipakai sebagai penanda waktu dan penegas cerita. Kendalanya tentu saja ada pada di durasi yang super singkat tapi film ini tetap harus bercerita dengan alur yang mampu ditangkap penonton. Dengan waktu dan peralatan seminim mungkin, kita punya cita-cita muluk (yang ternyata mungkin!) untuk menciptakan letupan bahkan ledakan dalam hati dan kepala penonton. Soal penentuan talent, sedikit tidak demokratis memang, tapi saya @LVCBV berdiskusi berdua dengan @melialivita di malam sebelumnya. Intinya kami mencari talent yang ada chemistry, sehingga tak terlalu kaku, juga harus berpenampilan bersahaja dan bukan tipe ‘pemberontak’ atau ‘bandel’ sehingga ada kesan kontradiktif waktu si karakter yang terlihat ‘adem ayem’ saja, ‘nrimo’ dan konservatif, tiba-tiba memutuskan untuk tidak kembali pada suaminya dan pernikahannya. Pilihan kami jatuh pada @diazananda dan @fardania, dua fiksiminiers surabaya yang memang bersahabat sejak kecil, berpenampilan bersahaja dan tipe suami/ istri penurut dan setia. ehm!

7 Sep 2010: hari pertama shoot. @mother_monkey, @ryanka7926 disemangati @LVCBV berangkat lebih awal untuk stock shoot (langit surabaya, rel kereta, jalan raya dll). Sore hari dilanjut dengan scene shoot. Dua talent fiksiminiers surabaya, @diazananda dan @fardania sudah siap diambil gambarnya. Shooting hari pertama itu seru sekali karena, walaupun bersahabat sejak kecil, Diaz mati-matian menolak adegan mengecup Anki (@fardania). Mulailah beberapa angle diambil u/ mengakali, tanpa harus mengecup betulan.

8 Sep 2010: hari ke dua shoot @melialivita behind the camera. Lebih untuk mengambil lebih banyak stock scene untuk proses editing nantinya. Shooting di Hello record studio, @mother_monkey’s crib. Lumayan seru, dan melelahkan karena kita mulai agak larut dan baru selesai lepas tengah malam.

14 Sep 2010: hari ke tiga shoot. Pengambilan scene2 yang masih dirasa kurang, pengulangan beberapa shoot dan ada penambahan lokasi yang dipakai untuk film fiksimini ‘SEHARI SAJA’. @melialivita dibantu beberapa teman pecinta film dan video-making aktif terlibat di dalamnya. @diazananda dan @fardania juga ‘terpaksa’ lebih ber-akting di shoot terakhir ini (perjuangan mereka luar biasa).

Peralatan yang digunakan selama shooting: handycam, kamera foto SLR, dan lighting ala kadarnya. Editing dikerjakan oleh @melialivita tanpa tidur 2 hari berturut-turut. Software yang dipakai Premiere Pro. Seleksi  musik dibantu oleh @ryanka7926. Terbukti nyata, karya yang datang dari cinta sungguh luar biasa hasilnya, kelegaan bercerita dirasakan oleh semua fiksiminiers surabaya. Kami mengakui karya bersama ini sebagai proyek mimpi tahap awal. Kami akan terus asyik bermimpi dan saling membangunkan untuk mewujudkannya bersama-sama. Fiksiminiers surabaya, kalian juara! Hidup @fiksimini!

“Tak bisakah kamu berpagutan dengannya di ruangan lain. Aku lelah berkobaran tiap kau buat cemburu”

Aku benci laki-laki itu! Jelas kulihat caramu memandang kencang otot pantatnya, dadanya yang bidang berkilat-kilat, perutnya yang sekokoh dermaga.

Aku benci kamu! Jelas kulihat caranya memandang jerat ranum payudaramu, pantatmu yang sepenuh bulan, dan lehermu yang sejenjang malam.

Aku benci kalian, tangannya di pinggangmu. Tanganmu di antara jemarinya. Dia menunggangimu! Lalu kamu. Dia. Kamu. Dia.. Kalian meledak. Bau sperma dan peluh kalian menguap sampai ke sini. Kalau saja angin sempat bertandang, aku nggak harus menyaksikan ini semua..cuihhh!


“Tunggu ya sayangku”.. Hueeks mau muntah aku mendengarnya memanggilmu sayang.

Mau apa dia, laki-laki laknat itu. Tolong! Turunkan aku, brengsek!
Mendadak kamu begitu dekat..
Mendadak aku makin cemburu..
Dia memagutmu, pada putingmu, lalu pada mulut gua yang menyimpan semesta.

Tiba-tiba aku sudah merayap di lingkar putingmu, menyusur turun di atas pusarmu. Remang kudukmu di tubuh telanjangku. Sesap..

“Kamu suka?” Suara si laknat lagi

“SEBOTOL LAGI SESALKU,  LALU SUDAH. Lalu seruak putus asa. Tak bertubir…”

Waktu itu selepas maghrib. Aku yakin betul. Pemilik warung biasanya mulai mendandani kami selepas maghrib, berjejeran. Rapi dan mengkilat. Padahal siapa peduli pada tampak luar kami. Mereka nggak mau buang waktu mengagumi mulusnya kulit kami. Tenggak habis. Letakkan. Bayar.”nothing personal”. Tapi tak sekalipun kedua pasutri pemilik warung ini mengabaikan kami.

Bulan puasa begini, razia semakin ketat. Seminggu kemarin, teman-temanku dibanting dan dibakar. Padahal salah tiga dari lima orang petugas yang membakar jelas-jelas kuingat rupanya. Mereka semua pelanggan tetap warung ini. Aku hanya nggak tega mendengar isakan si mbok seusai razia. Apalagi erang penderitaan kawan-kawanku yang dibakar beramai-ramai.

“Bapak jualan miras ya?? Ini perbuatan maksiaaaat!!!!” aku mengintip di antara ketiak 2 kawanku. Laki-laki itu bersorban. Wajahnya nyaris tak terlihat,  tertutup cambangnya, kumis dan janggutnya. Pasutri pemilik warung buru-buru keluar..Kali ini Bapak tak lagi gemetar. Si Mbok menyembunyikan wajahnya di balik punggung Bapak. Aku menahan napas. Pastilah giliranku yang dibakar.  Suara-suara hujatan semakin marak. “Bakar! Bakar! Bakar!”. Rupanya si jenggot membawa massa. Mendadak aku nggak bisa melihat. Aku mulai merapal doa, kepada semua Tuhan yang mereka punya. Lalu “PRAAAAK!!!”

Kugosok-gosok mataku

Tubuhku bermandikan darahnya

-KAMU YANG MENGADUK PALET WARNA PADA KENINGKU . “Bekal mimpimu”, katamu sembari mengemasi gemintang-

Asal saja kubolak-balik novel perjalanan itu.  Membaca untuk membunuh waktu nggak berlaku buatku. Waktu lebih cekatan meletakkan pelatuknya di pelipisku. Seperti senja ini. Ingin rasanya menurunkan paksa matahari layaknya kerai beranda.


1800
Sudah waktunya. Kusambar syalku lalu menghambur ke luar rumah. Menjemputmu. Aku benci menunggu, tapi itulah yang kulakukan setiap hari, bertahun-tahun, setelah kamu tercuri pagi, sepagian, sesiangan, sesorean. Menunggu! Bukan hal mudah menjadi kekasihmu.

Kamu berdiri di pojok jalan yang sama. Tas besar di pundakmu, pastilah gemintang isinya. Aku paling suka kamu ajak menata gemintang, karena bebas merunutnya jadi sesuatu yang kumau, sesukaku. Asyik! Pernah aku menuliskan namamu dan namaku. Indah. Misterius. Bahkan kamu pun tak bisa membacanya di antara runutan gemintangku.

Kutubruk kamu. Kangen! Kamu mengecupku. Eh, ada seseorang bersamamu. Temanmu? Alangkah tak sopannya kamu, tak kunjung memperkenalkannya padaku. Dia juga diam saja. Mungkin sedang menghitung pasir di aspal. Wajahnya tertutup tudung jaketnya.

Tiba-tiba kamu berlutut, meletakkan kotak beludru berwarna biru di telapak tanganku. Tanpa kata-kata. Hanya kedua alismu yang bergerak naik “?”. Aku melompat-lompat norak. Mengangguk-angguk sampai pegal lalu menubrukmu.
Temanmu yang sok misterius itu mengangguk padamu.

GELAP.

“Selamat bergabung, sayang”,  Suaramu.

“TOPI DI TEMPURUNG OTAKNYA. Merapal kata tenar. Nanar…”

Matahari mulai mengantuk. Senja menyediakan alas tidurnya, kalem seperti biasa. Sama seperti lelaki berkaos putih di ujung jalan itu. Lelaki yang bertahun-tahun menunggu gilirannya mengenakan topi ketenaran.

Karnaval itu penuh sesak. Tak ada atraksi di sana. Hanya sebuah topi yang menanti untuk dikenakan.
Dan sebuah pertumpahan darah untuk menentukan pemenangnya. Makin pilu erang minta ampun, sorak sorai pun menjadi. Satu persatu lawannya tumbang. Bermandikan darah, ia terseok pulang. Topi ketenaran di kepalanya.

Setahun berlalu..

Matahari mulai mengantuk. Senja menyediakan alas tidurnya. Kalem seperti biasa. Lain halnya dengan seorang lelaki bertopi di ujung jalan. Ia meracau tentang jerih payah, harga diri dan harga mati. Bajunya tak putih lagi, dekil dan koyak seperti topinya. Topi ketenaran.
Sepasang remaja berkawat gigi melewatinya sembari mengumpat. Rombongan wanita bersasak berbisik2 di antara tatap menghujat. Orang-orang yang sama, yang bersorak sorai mengelukannya, di karnaval, setahun yang lalu

“Mereka bilang aku pernah mati. Bagaimana mungkin aku nggak ingat rasanya. Belatung keluar dari telingaku”

Anak-anakku bersiap sekolah. Si kecil sudah pandai mengenakan seragamnya sendiri. Si sulung, sibuk mengarahkan adiknya dan membetulkan sana-sini.

Istriku, dia kelihatan lelah. Sedikit sembab, tapi tetap menawan. Ia merapikan dokumen-dokumennya yang berserakan di lantai kamar. Memasukkannya dalam binder merah, kesayangannya.

Si sulung berdiri di depanku. Mematut dirinya, buntut kudanya. Kaos kaki dan sepatunya berwarna biru langit. Warna kesukaannya, biru. Aku ingat betul, jika ditanya kenapa, jawabnya “supaya nggak dibilang manis”.

Istriku berdiri di depanku. Membetulkan letak kaca matanya. Merapikan cepol rambutnya. Cantik. Sejurus kemudian, ia sudah menyambar tas nya dan meninggalkan kamar, menyusul anak-anak yang sudah berlarian menuruni tangga.

Kamarpun lengang. Rindu mencabik-cabik. Sepertinya aku habis menangis sampai nyaris tertidur. Tiba-tiba di hadapanku ada Parni. Saking dekatnya dia nyaris mencium mukaku. Diperasnya spon bersabun itu lalu mulai mencuci mukaku.

“KAU BUKA SUMPIT DI CEPOL RAMBUTMU. Kulihat kamu, bukannya dia si penyuguh gelinjang”

Malam kemarin, seperti biasa, aku menunggunya di sini. Seorang pria berperut panci keluar dari bilik nomor 3. Menghampiri mejaku dan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu dari dompetnya. Tak lama, ia menyusul keluar. Rambutnya tergerai, berhenti tepat sebelum lekuk pinggulnya. “Gerah!” cetusnya, sembari mencepol rambutnya dan menusukkan sumpit pada cepolnya.

Suaranya renyah, tawanya lepas. Tapi mereka tak tahu itu. Di hadapan mereka, ia tak lebih dari sekedar penyuguh gelinjang dengan payudara 34C.

Mungkin kalian bertanya, bagaimana rasanya menunggui kekasihmu, yang di belakang sana sedang ditunggangi laki-laki lain, atau bahkan dia di atas mereka. Berganti-gantian.

Malam ini ia tidak beranjak keluar dari bilik nomor 3, menertawakan kebrengsekan para pelanggan, berbagi cemilan, menyeruput es sirup dari gelasku. Malam ini seorang istri sakit hati mencongkel mata coklatnya dan merajam dadanya yang ranum berkali-kali. Malam ini aku tetap setia, menunggunya di sini. Di meja pembayaran rumah bordil keparat ini, sampai mereka semua, membayarnya lunas

“TAKDIR DALAM LAMPION. Induk Laron. Bayi Cicak”

Mereka duduk berhadapan. Dalam diam. Yang satu sibuk menata kata. Satunya lagi riasan.

Yang muda terus berketak ketuk di netbooknya. Sesekali melirik yang tua yang asyik menjajal maskara baru dan bereksperimen dengan warna gincu.
Nggak tahan juga. “Tiketku sudah oke semua, ma. Minggu depan aku balik Seattle”
Tak ada reaksi.
“Ma?”

Masih nggak digubris.
“Kenapa sih ngotot suruh aku pulang?”

Yang tua mengulangi poles gincu di bibirnya. Lalu seperti terburu-buru, meneguk tandas oolong tea yang baru diseduhnya. Tangannya merogoh-rogoh kantong dasternya. Lalu, “Brakkkk”. Tubuh tua itu jatuh di hadapannya. Di tangan keriputnya, remasan kertas bertuliskan “Kuburkan mama seperti ini. Cantik, persis sepertimu”

“ROKOK SESOREAN. Pemantik menjentikkan terik. Terbakar rindu. Dihisap cemburu. Tercecer di antara lintingan asap”

Bungkus ke-3.
Di hisapnya rokoknya dalam-dalam. Tangannya menggapai-gapai ujung tempat tidur. Blackberry. Tak ada pesan darinya.
Hanya Broadcast Message yang mengantri untuk di buang ke laut.

“Kamu harus percaya padaku” kata-katanya mendengung seperti lebah di kupingnya. Menyebalkan. Bagaimana bisa percaya. Kabar terakhir darinya cuma sesubuh tadi.

Bungkus ke-4. Matahari mulai menghilang di balik punggung langit. “Jangan coba hubungin aku”. Kali ini kata-katanya mendesis seperti ular di lehernya. Mencekik. Ngangenin.

Bungkus ke-5. Kantuk mulai iba padanya. “Aku cuma cinta sama kamu”. Kata-katanya merayap naik menggelitiki pusarnya. Dia datang juga. Kain pantai fuschianya tersingkap. Mereka berpagutan di mana-mana. Panas. Semakin panas.

***
Polisi menemukan jasad yang habis terpanggang api, telungkup di atas kasur. Puntung rokok di tangan kirinya. Blackberry di kanan.

***
Seorang gadis ditemukan mati mengenaskan. Kain fuschia di antara pucat kulit lehernya.

She ran her manicured nails through his neck and kissed him hard. He pushed her down to the couch, tracing the tip of her tongue with his. Both panting. She unhooked her bra. He pushed her away. She said nothing but smirked, reached for her silvery coat and left. He was grasping for water. Took big gulps from the jar and headed to his room.

He must’ve fallen asleep when she came home. His wife. She never ceased to fascinate him. It was love at first sight. He used to go to the same Bank where she worked. She had once mistaken him with another client. She blushed and apologized. Awkward conversations. The next thing he remembered, they were so much in love. He had always been faithful, until he met Soph.

***

Soph. The great kisser.. They met in painting class, 2 months back. None of them remembered who had started the kiss that led to series of love making. But the guilt was too big to swallow. He told Soph it was over, she told him it had just started.

****

It had been a week since he told his wife about Soph. She kicked him out, said she wanted a divorce. It was raining. He felt like getting freshly baked muffins and a latte. There was this pastry shop he was so fond of. Oh, she took the car, by the way. So there he was, walking to the pastry shop in heavy rain from his cheap motel room.

He was munching on his last muffin when he saw someone familiar, right across the street. There she was, Soph, fishing something from the pocket of her silvery coat. Then a familiar white sport car screeched to a halt. He ordered another latte and took a closer look. His wife was not alone. Someone, was with her; a man, holding her hand. They were waving and heading to.. Soph!

He grabbed his coat and ran to the street. Head wobbly with question marks. He was soaking wet. Flash lights. Head spinning. Loud screeching sound.

A crash.

Pitch dark..

RATAP PIGURA. Seragam kebesaran ayah. Seringai linting kumisnya. Berlatarkan bilur ibu dan lebamku

Ibuku berimankan pelukan. Bapakku pada bogem mentah.
Setiap hari ada saja yang membuat marah Bapak. Mulai dari kopi yang terlambat diseduh, warnanya terlalu pekat, sampai pada cangkirnya yang kurang besar.

Setiap hari juga aku melihat Ibu sabar memeluknya. Kadang iman ibu membuahkan hasil. Bapak menunda kemarahannya. Si jahanam itu menyeret Ibu ke kamar untuk memuaskan nafsu binatangnya.

Sore itu tadinya hening sempurna. Aku asyik menyiangi rumput di halaman. Ibu tak enak badan. Beliau batuk-batuk sesorean. Tiba-tiba “buk” “praaang” Bapak melempar panci ke muka Ibu karena terlambat memasak nasi. Darah mengucur dari pelipis ibu. Bukannya lari, atau menghindar, setengah menyeret kakinya yang lebam ditendangi Bapak semalaman, Ibu menubruk Bapak dan memeluknya erat. Lebih erat dari biasa.

Kali ini aku tak peduli. Sekalipun Ibu harus serta.

image

Perempuan itu bukan Lara.

Jauh ia membuang pandang
Bilang
Lara sempat bertandang.
Tak lama, katanya

Perempuan itu Suka.
Demikian dinamai dirinya.
Binar tatap matanya
Lepas senyum bibirnya.

Lara boleh bertandang
Tapi Suka, adalah Ia.

18.06.2016

f 2 | s 1/60th sec | iso 1250

image

Matahari dan bulan,
Bertemu di persimpangan.
Untuk pasrah,
Berpisah.

Bersama
Tak mungkin lama
Melupa
Tak kunjung bisa

Matahari dan bulan,
Pasrah
Berpisah
Untuk bertemu di persimpangan.

03/06/2016

image

I think of you as the dusk.
Bringing the day
Home
As promised.
Waiting,
at the end of the day.
For that One,
Small
Chance
to say the same goodbye.
Over
And over
Again

07/06/16

image

Ada senja
Pada usia
Pun belia
Yang sia-sia

Andai yang rahasia
Dekap yang seolah-olah
Dusta yang iya
Dia yang sirna

14/05/16
-sambil makan semanggi suroboyo siMak di pasar senggol jl Pahlawan-

image

He cut
Her open
With a wound
So round
She could
Run in circles
And sing
Her sorrows